Mutiara Retak

Mutiara Retak
Perasaan Buruk


__ADS_3

Minuman yang diberikan Algi rasanya sedikit aneh. Dari tampilannya aku yakin ini adalah jus jeruk. Tapi terselip rasa menyengat pahit yang lebih mirip rasa dari cangkangnya.


“Algi ... ini ... minuman apa?” tanyaku.


Algi tersenyum. “Sesuai yang kamu liat, itu minuman jeruk,” ungkap cowok itu.“Kamu ada-ada aja nanyanya.”


“Tapi rasanya kok agak aneh, ya?” ungkapku sembari meringiskan bibir dan wajah bersamaan seraya mengangkat gelas dan kutatal di depan wajah.


“Aku gak tahu. Mungkin jenis minuman baru yang disediain hotel ini,” ujar Algi mengira seraya menimang-nimang gelas di tangannya. “Punyaku juga sama sih. Tapi ....” Dia menyesapnya satu tegukan, lalu kembali menatap gelasnya. “Enak juga!” Senyumnya ia arahkan padaku kemudian. “Minum aja, Ra. Kasian yang nyediain cape-cape, 'kan?”


Aku mengernyit tak yakin, tapi manut juga pada akhirnya. “Ya, udah deh.” Satu teguk lagi mengaliri kerongkonganku. “Umm, Gi. Aku mau nemuin Rossa, trus pamit pulang. Aku gak nyaman lama-lama di sini.”


“Eh, kok pulang, sih?!" Lenganku ditarik Algi. “Baru juga nyampe, 'kan? Rossa juga masih sibuk sama tamu lain aku liat tadi,” ujarnya.


Pada akhirnya aku memilih duduk kembali. Telapak tangan Algi menunjuk Rossa yang begitu cantik dengan gaun dan riasannya di dekat rimbun tatatan beragam jenis bunga. Tamu-tamu pria muda berjas apik lengkap dengan dasi dan rambut klimisnya, mengelilingi cewek itu sembari bercakap-cakap dengan tawa.


Rasa jengahku mulai menyerang. Dalam keadaan seperti ini, aku mengingat Zhio. Sedang apa dia sekarang? Aku atau pun dia, belum saling menghubungi dari tadi pagi saat dia mengatakan dalam kesibukan.


“Ra!” Algi menyapa yang sontak menarik wajahku melihat ke arahnya lagi.


“Kenapa, Gi?”


“Kok bengong, sih?”

__ADS_1


Seulas senyuman tipis kulemparkan menekan asumsi galau yang mungkin melintasi pandangan cowok itu di wajahku. “Aku gak apa-apa. Cuma gak biasa aja ada di acara kayak gini,” ungkapku alakadar. Minuman di tangan kusesap kembali sedikit demi sedikit dan perlahan, hingga hampir mendekati dasar di dalam gelasnya.


Algi melempar senyum. “'Kan ada aku.”


Setipis senyum kuberikan sebagai balasan. Selanjutnya dia terus mencecarku dengan berbagai pertanyaan. Mulai dari kenapa aku tak datang dengan pasanganku, berapa lama kami pacaran, dan lain-lain yang sebenarnya malah semakin membuatku merindukan Zhio saja. Aku menjawab sebisanya pertanyaan Algi, tanpa membeberkan lebih detail.


“Aku gak nyangka, kamu bisa kuat juga sama cowok culun kayak Zhio. Apa sih yang kamu lihat dari dia?”


Sampai di pertanyaan itu, kepalaku entah kenapa rasanya memanas. Aku tak suka. Pada kenyataannya, seperti apa pun Zhio di mata orang lain, tapi di mataku, tetaplah dia yang paling sempurna. “Karena dia punya banyak hal yang gak dipunya orang lain termasuk kamu, Algi.” Aku bangkit dari dudukku. “Aku permisi.”


Rasa tak senang di dadaku akan pandangan Algi terhadap Zhio menekan sisi diamku selama ini. Kenapa semua orang memandang rendah pacarku hanya karena dia tompel dan berkacamata? Sementara meninggikan apa yang mereka punya, yang belum tentu menarik orang lain untuk suka, termasuk aku.


“Tiara!” Algi memanggil.


Rasaku yang membara untuk pergi tiba-tiba terhenti. Kakiku memaku di tengah langkah. Aku merasakan kepalaku tiba-tiba sakit. Memegangi dan mencengkram rambutku diiringi ringisan tebal di wajah. “Ada apa sama kepalaku?" tanyaku pada diri sendiri.


Kepala yang meradang kugeleng-gelengkan untuk menepis rasa peningnya. “Aku ... aku gak apa-apa, Algi. Aku mau pulang.” Dengan langkah limbung kuayunkan kakinya maju ke berjalan. Tapi semakin kupaksakan rasanya semakin parah. “Algi kepalaku.”


Bukan hanya kepala, tubuhku bahkan mendadak diserang rasa panas yang membakar. Keringat sebesar biji menggelinding melewati pelipisku. “Chelsea, di mana Chelsea?” tanyaku di antara perasaan resah.


Algi menggandengku ke suatu arah yang aku pun tak tahu akan kemana, tanpa mempedulikan tanyaku akan keberadaan Chelsea. Aku sama sekali tak bisa menolak karena tungkai kaki dan lututku mendadak lemas. Di tengah kesakitan aneh yang menyerang, aku masih bisa mendengar orang-orang bertanya pada Algi tentang ada apa dengan aku, yang lalu dijawab cowok itu dengan, “Dia lagi gak enak badan.”


Saat ini aku dan Algi sudah berada di dalam sebuah lift yang mulai naik. “Algi, badan aku, Gi. Ini kenapa? Panas banget!” keluhku merasakan betapa tak nyamannya aku saat ini.

__ADS_1


“Kamu sabar. Aku bawa kamu istirahat dulu di atas. Kalo uda enakan, baru kuanter pulang,” katanya.


Pikiranku masih bisa mencerna, keadaan tubuhku aku semakin tak bisa mengendalikan. Semakin rasa terbakar.


Pintu lift terbuka. Algi menggandengku keluar. Tapi karena lututku semakin lemas, aku diangkatnya ke dalam gendongan. Tidak ada tenaga untuk sekedar bilang, ‘jangan’. Pangkuan ini ... aku bahkan membutuhkannya demi menopang tubuhku yang semakin terasa aneh.


Beberapa menit kemudian, sehelai daun pintu didorong Algi usai sesaat membukanya dengan passcode dan menurunkan aku sejenak, namun pinggangku masih rekat dipeluk satu tangannya dari samping, sedang kepalaku tersangga di pundaknya.


Aku yang lemas ini lalu dituntunnya masuk ke dalam ruangan yang jelas adalah sebuah kamar, di mana ada sebuah ranjang yang kemudian aku rebahi atas bantuan cowok itu. Tak ada terang cahaya lampu yang menggantung, selain remang bayangan dari arah balkon yang terbuka. Namun cukup dengan jelas menggambarkan setiap sudut kamar ini termasuk siluet bayangan Algi.


Di ranjang berkasur empuk itu, aku merasakan tubuhku semakin panas. Perasaanku menggusar resah.


Sisa kesadaran masih kukais, dan kutangkap Algi duduk di sampingku seraya menarik jas menyusul satu kaos yang melapisi bagian dalamnya.


“Kamu mau apa, Algi?” tanyaku meringsut takut. Sementara kepalaku semakin merayang kelam.


Dia mendekat ke arahku lalu mengambil posisi mengungkung. “Tiara ... kamu akan jadi milik aku sebentar lagi,” ucapnya. Satu telapak tangannya bergerak meraba pipiku.


Aku menepis tanpa tenaga. “Jangan, Algi,” hardikku dengan suara lemah.


Hatiku menolak tindakannya dengan keras, tapi tubuhku ... malah begitu mendamba ingin menyentuh dadanya yang polos itu, bahkan ingin menciuminya. Bagian bawah perutku semakin memanas. Aku merasakan naf.su besar menyerang diri tanpa bisa menahannya.


Bibirku bahkan ikut mendesah saat Algi mulai meraba leherku dengan sentuhan lembutnya. Aku menginginkan sesuatu yang lebih jauh dari sekedar sentuhan.

__ADS_1


Namun di tengan itu, Algi tiba-tiba bangkit. Aku melihat siluet lain di dalam ruangan ini yang entah siapa. Umpatan kasar yang mendengking turut menyertai. Debam pintu tertutup terdengar kemudian. Lalu hening.


Aku tak bisa memerhatikan apa pun lagi sekarang. Tubuhku semakin panas bergelinjang dan bernaf.su ingin melakukan s.e.k.s. Satu persatu pakaian yang melekat di tubuhku kupreteli dan kulemparkan entah kemana, berharap mengurangi rasa panas yang membakar.


__ADS_2