
Pada akhirnya inilah takdirku.
Ditinggalkan Ayah yang kucintai, juga memilih pasrah berpisah dengan lelaki yang begitu banyak menorehkan kenangan indah dalam hidupku.
Mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus menerima.
...🌺🌺🌺...
Hari senin yang sedikit pun tak kunantikan, akhirnya tiba.
Aku sudah memakai seragam SMA dengan rok selutut bercorak kotak-kotak kecil dan atasan putih berdasi pita silang. Semua keperluanku sudah dilengkapi Om Krisna tanpa minus.
Tapi ada hal lain. Aku membuat diriku berbeda kali ini.
Rambut lurusku yang sebatas belikat, yang biasa kuikat tinggi satu di atas, kukepang dua di kiri dan kanan bawah. Sebuah kacamata bulat bening anti radiasi, bertengger di hidungku yang kata orang ... mancung kecil seperti barbie. Aku bahkan tak tahu, apa alasanku melakukan ini.
Aku tak terlalu rajin berkaca. Aku bukan tipe gadis yang sangat gemar berdandan. Hanya di waktu tertentu, polesan bedak dan liptin kupakai menghias wajah. Selebihnya, aku tak mau merepotkan diri dengan hal-hal berbau kecantikan seperti kebanyakan gadis atau pun wanita dewasa.
Satu persatu anak tangga kujejaki dengan langkah tak begitu bersemangat. Rasa tak enak masih terasa dalam diri. Dengan begini, aku berpikir, aku pasti akan terus merepotkan keluarga ini sampai banyak waktu yang aku sendiri tak tahu kapan akhirnya.
Aku berharap segera lulus dan langsung mencari pekerjaan. Urusan kuliah, akan kulanjutkan setelah mengumpulkan banyak uang, pikirku merasa tak pantas bermanja dengan harta yang bukan hakku sebenarnya.
“Mutia, kamu udah siap, Sayang?” Tante Maria menyambutku di meja makan. “Sarapan dulu, ya.”
“Ah, iya, Tante,” jawabku dipulas senyuman samar.
“Eh, kok kamu dandan kayak gini?” tanya Tante Maria lagi seraya menyentuh sekilas kepangan rambutku sesaat setelah aku duduk di kursi samping kanannya.
Aku bertingkah kikuk. “Ah, ini ... cuma mau kayak gini aja, Tante.”
Manggut-manggut kepala Tante Maria. “Padahal kamu cantik kalo rambutnya digerai lho,” komentarnya sedikit menyayangkan.
__ADS_1
“Udahlah, Ma. Suka hati dia aja.” Om Krisna menyela. “Makan yang banyak, Muti. Biar urusan pelajaranmu lancar,” ia menambahkan. Satu gigitan roti berselai kacang dikunyahnya elegan.
Aku mengangguk seraya meraih sehelai roti. Di saat yang sama, Tante Maria menyodorkan satu nampan berisi enam toples kecil selai dengan rasa berlainan. “Pilih yang kamu suka. Dan ini susunya, dihabiskan.” Wanita paruh baya cantik itu tersenyum lalu kembali pada makanannya sendiri. Beruntung ia tak memperpanjang membahas penampilanku.
“Makasih, Tante," ucap tulusku.
“Jangan sungkan, Sayang.” Dia tersenyum lagi.
Demi apa pun, berada di tengah-tengah suami istri itu, aku seperti anak mereka sungguhan. Hanya ada kami bertiga di meja makan yang luas ini. Tante Maria bercerita, anak gadisnya bernama Chelsea, dia tinggal dan sekolah di Jepang bersama kerabatnya. Aku bahkan sempat diperlihatkan fotonya. Gadis yang cantik, bahkan sangat cantik. Umurnya satu tahun di atasku.
Pikiran dangkalku pun kembali bermain. Kenapa cewek itu malah memilih tinggal di luar negeri, meninggalkan keluarga sehangat ini? Keluarga lengkap yang begitu diimpikan banyak anak, termasuk aku. Bukan aku tidak mensyukuri keluargaku dulu, hanya saja ... saat ini aku telah kehilangan semuanya. Ibu meninggal karena sakit saat aku masih kecil, disusul Ayah yang bahkan belum kering tanah lahadnya.
Aku mendesah pelan. Betapa takdir kadang sepahit ini. Dan tak semua orang merasakan yang sama. Aku merasa hanya aku yang ditempa sekeras itu. Padahal jelas, aku tidak kuat sama sekali.
Waktu berlalu.
Mobil Om Krisna baru saja pergi dari hadapku.
Kini aku berjalan gontai seorang diri. Sepasang tanganku meremas tali tas yang menyelempang di depan dada. Wajahku bergerak mengedar ke sekeliling. Kanan kiri atas dan bawah juga belakang.
Sekolah yang megah, komentar hatiku cukup mengagumi.
Om Krisna bilang, kelasku ada di lantai dua gedung pertama. Paling ujung setelah berbelok ke arah kiri, dekat tiang kayu berwarna merah.
Walaupun tak cukup percaya diri, terlebih tatapan heran semua anak, aku tetap berjalan menggiring kakiku untuk mencari. Aku takut untuk bertanya. Pandangan mereka semua terasa tak sehangat anak-anak di sekolahku dulu. Aku merasa kerdil dan tak pantas berada di sini.
Sampai ....
“Kamu Mutiara?”
Aku mendongak sontak. Seorang wanita dengan blazer biru dan span sepanjang mata kaki. Rambutnya disanggul apik dengan polesan tipis make up yang terkesan sederhana.
__ADS_1
“Iya," jawabku singkat saja disertai sedikit senyuman.
“Ah, kenalkan.” Ia mengulurkan tangannya. “Saya Bu Naina--wali kelas kamu.”
Kuterima uluran tangannya seraya menggangguk sopan. “Ah, iya, Bu.”
“Selamat datang di sekolah ini," kata Bu Naina menyambung dengan senyuman hangat yang tak pudar. “Kalo begitu ayo kita ke kelas. Sebentar lagi bell masuk akan berbunyi.”
Aku mengangguk lalu berjalan bersisian dengan Bu Naina.
Mengabaikan banyak tatap yang tak sedap untuk dilihat. Sayangnya aku tak bisa membaca isi pikiran mereka, selain mengartikan isi tatapan yang cukup membuatku merasa risih.
Hanya dua menit saja, langkah kaki kami pun sampai di kelas yang dituju. Kelas yang luas dengan segala tatanan apiknya. Beberapa anak sudah bertengger di bangku mereka seraya bercokol dengan komplotan. Ada pula yang duduk sendiri dengan sebuah buku di tangan. Mereka masih cuek.
Akhirnya bell masuk jam pelajaran berbunyi. Semua anak sibuk merapikan diri dan kembali ke posisi masing-masing. Aku belum tahu akan di mana aku duduk. Bu Naina masih menahanku di depan kelas.
Sampai kemudian semua tatap mengarah padaku. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik. Aku masih berdiri seperti orang tolol. Sedangkan Bu Naina nampak sibuk mengurusi helaian kertas di atas meja kebesarannya.
Semua berlalu terasa lama. Padahal kenyataannya hanya memakan dua menit setidaknya. Akhirnya Bu Naina mendekat padaku dan mulai memperkenalkan aku pada semua anak di dalam kelas dengan cara hangat.
“SELAMAT DATANG, MUTIARA!” Serempak mereka menyambutku sesuai arahan Bu Naina. Aku mengangguk kaku dengan senyum sedikit dipaksakan.
Dua bangku kosong di deretan kanan paling belakang di dekat jendela, ditunjuk Bu Naina untuk kududuki. Sisanya terisi penuh berpasangan.
Baiklah, untuk pertama kali sepanjang sejarah pendidikanku di sekolah, aku duduk sendiri, dan di bangku paling belakang.
Yang biasanya aku duduk paling depan dikelilingi teman-teman yang menyenangkan.
Ahh, baru hari pertama, aku sudah merindukan mereka.
"Cukup, Mutiara!" semprot hatiku. Aku harus fokus. Aku hanya perlu belajar dengan baik. Begitu saja, cukup mengobati.
__ADS_1
Ini baru hari pertama. Hari berikutnya, aku pasti sudah memiliki teman untuk setidaknya kuajak bicara, atau sekedar sarana bertanya tentang apa yang ingin kuketahui. Semoga.