Mutiara Retak

Mutiara Retak
Cowok Itu!


__ADS_3

“Mut! .... Kamu masih sayang aku, 'kan?!”


Wajah menuntut Nandan membuat hatiku semakin terusik tak karu-karuan.


“Ngapain lu sayang-sayang sama cewek gua?!”


Rangkulan seseorang di pundakku jelas mengejutkan.


Sontak wajahku menoleh miring untuk melihat siapa pemilik tangan itu, didukung melebar bola mataku.


“Ka-kamu!”


Tak ada senyuman di wajah cowok itu. Rautnya melukiskan kegeraman yang menyengat ke arah Nandan. Dia bahkan tak menolehku sedikit pun yang terus menatapnya terpelongo saking terkejut.


“Lu udah tunangan! Ngapain lu masih godain cewek gua!”


Tak ada kata yang bisa kulontarkan, walau setidaknya untuk menepis tangannya di pundakku. Aku membeku.


Nandan sepertinya lebih terkejut lagi. Lebar matanya menyorotku meminta kepastian. “Mut, dia ...?”


“Iya! Dia pacarku!” Aku menyergah, mencoba menahan rasa yang meledak di dalam dada, sekaligus memutus apa yang Nandan niatkan atas hubungan kami. “Jadi gak ada alasan apa pun buat aku balikan sama kamu, apalagi melarikan diri! Jelas, 'kan?”


Nandan terpekur menatapku dengan raut hancur. “Mut ... aku--”


“Lu gak ngerti cewek gua bilang apa?!” Cowok di sampingku menyemprot sarkas. “Sekarang lu udah bisa pergi. Jangan coba-coba lagi dateng ke sini atau ke mana pun buat nemuin Mutiara! Hak lu atas dia udah pupus dari semenjak lu mutusin buat ninggalin dia! Dan sekarang, camkan kata-kata gua!” Ia mendekat ke depan Nandan, memajukan sedikit wajahnya, lalu berkata, “Mutiara milik gua sekarang! Mati lu kalo sampe nekat gangguin dia lagi!” Kemudian menarik tegak tubuhnya, merangkulku lagi seoalah menambah tekanan atas pengakuannya.


Setelah beberapa waktu menggilir tatap padaku dan cowok di sampingku bergiliran, Nandan akhirnya pergi, tanpa sepatah kata pun. Kekecewaan jelas dibawanya seiring langkah kaki yang menjauh.


Setelah cukup tubuh Nandan tak lagi terlihat, gegas kutepis tangan yang sedari tadi melingkari pundakku tanpa permisi.


“Makasih udah nolongin aku! Aku permisi!”


Sayangnya, belum sempat tas dan buku-buku yang tergolek di atas bangku berhasil tanganku jangkau, cowok yang tak lain adalah Jancent itu menarik tanganku hingga tersentak dorong ke belakang menubruk dada bidangnya.


“Kamu apaan sih?!” pekik kesalku seraya dengan cepat menarik diri menjauh darinya.


“Cih! Aku 'kan udah nolongin kamu dari mantan kamu yang klepto itu! Seenggaknya traktir aku kek!” cerocos Jancent dengan wajah songong tanpa bandingan.


“Aku 'kan gak minta!” elak kesalku. “Kamu sendiri ujuk-ujuk nongol di sini! Trus dengan songongnya rangkul-rangkul aku!”


Jancent membeliak. “Udah ditolongin malah nyerocos kayak petasan. Kamu gak sadar, kamu tadi tuh udah kayak ikan kilangan mata tau nggak?!”


Mataku memelototinya geram. Tapi tak ada kata yang bisa kuucapkan, selain desah menyerah pada akhirnya. “Ya, udah. Mau minum apa?!”

__ADS_1


“Hehe.”


“Dih, apaan cengar-cengir gak jelas?!” semprotku menanggapi kelakuan cowok sinting itu.


Bukan menjawab, Jancent malah merunduk, merapikan buku-buku dan tasku di atas bangku, lalu menyelempangkan di pundaknya sendiri.


“Lho! Tas sama buku-buku aku mau kamu apain?!”


Aku mengejarnya yang sudah melangkah lebih dulu ke suatu arah.


Dia berhenti lalu menoleh. “Bukannya mau traktir aku minum. Cepetan! Aus banget nih!”


_________


Kafe belakang kampus, tempat itu akhirnya kupilih untuk mentraktir cowok gila di depanku. Jika kupilih kantin, aku takut Zhio datang secara tiba-tiba seperti waktu itu memberi kejutan.


Dia itu seorang pecemburu, dan aku tidak ingin dia salah paham pada Jancent.


Hhhuftt!


Tapi aku cukup bersyukur. Kelakuan frontal dan songong Jancent tadi, berhasil menendang telak harapan Nandan yang sudah pasti tak akan pernah bisa aku kabulkan. Walau akhirnya aku terjebak dengannya seperti ini.


“Kamu tu jadi cewek jangan lembek napa, hey!”


Latte yang dia pesan diseruputnya hingga terdengar bunyi menjengkelkan di telingaku.


“Aku bilang, kamu jangan lembek jadi cewek! Apa-apa gampang nangis! Cengeng banget!”


Aku memelototkan mataku lagi. Betapa songongnya cowok itu.


“Kamu kok jadi sok-sokan ngatur idup aku!”


Dia malah terkekeh menanggapi hardikanku. “Padahal kamu kalo lagi marah gitu manis banget lho!”


Semakin geram saja aku dengan tingkahnya, tapi juga tak bisa melakukan apa pun, selain memanyunkan bibir seraya membuang wajah ke lain arah. Rasanya tidak akan beres menghadapi orang sinting seperti Jancent yang baru saja aku tahui.


Padahal aku bertemu dengannya baru dua kali saja.


Pertemuan pertama kami, dia seperti malaikat tampan yang dengan manis menyeka air mataku di acara pertunangan Nandan. Aku bahkan ikut memuji karena tumpukan kelebihannya itu. Tapi yang kedua ini ... kenapa dia malah terlihat seperti Mister Been yang menjengkelkan?!


Sungguh di luar nalar.


“Oh, ya ... kamu ngapain tiba-tiba ada di kampus aku?” Aku bertanya mengalihkan pembicaraan sebelumnya, sebelum dia meledek lebih jauh lagi.

__ADS_1


Jancent sudah berhenti terkekeh. Tapi tatapannya justru malah berbalik intens menembus sorot mataku seolah sedang membaca sesuatu. Dua telapak tangannya bertopang dagu tersangga sikutnya di atas meja.


Pertanyaanku belum dia jawab.


“Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya lainki tentu tak nyaman--lebih kepada perasaan risih.


Ditanya seperti itu, cowok itu malah tersenyum. Hatiku bertanya konyol, “Dia kenapa lagi?”


“Aku tu seneng liat kamu marah-marah kayak gitu. Lucu aja!” jelas Jancent sambung terkekeh. “Soalnya cewek-cewek yang deketin aku selama ini, sok kemanisan. Padahal yang manisnya aku sendiri.”


Mataku melebar dongkol, lalu membeliak sebal. “Sinting.”


Tawanya kemudian justru membuatku semakin jengkel.


“Aku balik kampus deh! Bisa gila deketan sama psycho modelan kamu!” putusku akhirnya.


“Eits! Tunggu!”


Tanganku ditariknya tepat ketika aku hendak berdiri. “Apaan lagi, sih?!” kesalku.


“Aku 'kan belum jawab, kenapa aku ada di kampus kamu,” kata Jancent tanpa dosa. “Kamu gak mau denger alesannya dulu? Tadi 'kan kamu nanya itu.”


“Gak penting,” jawab cepatku kehabisan minat.


“Tapi aku masih mau ngobrol sama kamu, Tiara!”


DEG!


Aku terpaku di tempatku.


Mendengar sapaan itu dari mulutnya ... kenapa aku merasa tak asing? Bagaimana dia bisa sesantai itu? Sementara pertemuan kami baru hanya hitungan jam, meski disatukan dengan waktu pertemuan kami saat pertunangan Nandan. Aku bahkan belum sempat memperkenalkan diri padanya. Juga dia yang belum sempat menyebutkan namanya sendiri padaku. Aku hanya tahu dia dari mulut Chelsea waktu itu. Tapi kenapa kami seolah sudah saling mengenal?


“Jancent, kamu tahu nama aku dari mana?” tanyaku selepas menepis keheranan.


Jancent tersenyum. Dia berdiri bukan untuk berlalu dari tempat ini, melainkan menekan kedua bahuku agar kembali duduk.


“Makanya jangan kemana-mana dulu,” katanya. “Aku bakal jawab ... tapi kamu duluan yang jawab aku.”


Aku mengernyit kening. “Jawab apa?”


Sandaran kursi ia tekan dengan punggungnya. Kedua tangan dibuatnya dalam posisi bersilang di depan dada.


Dengan santai, dihiasi senyum misteri Jancent lalu bertanya, “Kamu sendiri, kok tahu namaku? .... Kamu stalking aku yaaa?”

__ADS_1


__ADS_2