
Saat ini waktu menunjukkan pukul empat menjelang pagi.
Seperti seorang pencuri, aku mengendap menuruni tangga bersama sebuah koper dalam tarikan tanganku. Tas kecil hitam bertali panjang, juga ikut menyelempang di sebelah pundak. Sepatu karet kugunakan agar tak menimbulkan suara berdebam yang mengundang siapa pun penghuni rumah untuk bangun. Kepalaku terbalut hoodie yang merapat membingkai wajah.
Lampu ruangan masih dalam keadaan gelap. Aku berharap semoga mereka tak terbangun sebelum aku benar-benar keluar dari rumah ini.
Ya! Pikiran dangkalku tak mau menerima lebih banyak negosiasi. Aku memutuskan untuk keluar saja dari rumah megah Om Krisna yang selama hampir setahun ini menaungi dan memberiku kehidupan yang bahkan melebihi ekspektasi.
Bayangan tentang betapa keberadaanku setelah kejadian malam kemarin akan menjadi beban keluarga ini, juga tentang kalimat Om Krisna mengenai bentuk pertanggungjawaban Algi dengan jalan pernikahan, kedua hal itu membuatku seakan terhempas sakit dan lebih jauh lagi. Memikirkannya saja aku sudah sesak.
Setelah kudengar dari Mbok Misni bahwa pencarian Algi kemarin tak membuahkan hasil, Om Krisna akan melanjutkannya esok hari. Dan itu adalah hari ini. Aku tidak mau semua hal merangkap menjadi semakin buruk setelah nanti Algi benar-benar ditemukan. Aku tak mau lagi menjalani keterpaksaan yang menyiksa.
Satu hal lain; Aku masih punya Zhio yang tak bisa kuabaikan begitu saja. Meski aku tak yakin dia akan tetap mau menerimaku, setelah dia tahu hal tolol apa yang menimpaku di waktu lalu.
....
Akhirnya langkahku mencapai bagian belakang rumah.
Pintu besi yang terhubung ke jalanan tempat di mana Mbok Misni biasa menaruh sampah untuk kemudian diangkut petugas, sudah dekat kusongsong. Kunci yang tersampir di kaitan paku dekat pintu gudang, sudah di tangan. Aku akan melalui pintu besi yang hampir tak terlihat karena dirimbuni tanaman rambat di tepian dan atasnya itu, untuk mencapai jalanan raya.
Kunci dan lubangnya berhasil kujodohkan hingga bergemeletak kecil pertanda pintu mulai bisa kusibak setelahnya.
Dari luar, pintu kututup perlahan agar kembali apik seperti semula. Kunci kubiarkan tergantung lalu pergi dengan cepat mengangkat koperku dalam jinjingan.
Suasan terang lampu jalanan komplek membuat bayanganku memanjang.
Cukup beberapa jauh, langkah mulai kupelankan.
__ADS_1
Koper kudorong kembali.
Hatiku masih tergesa sesaat sebelum pangkalan ojek di depan sana berhasil kucapai.
Kulirik jam di pergelangan tangan. Sudah berlalu dua puluh menit dari saat aku keluar dari dalam kamarku di rumah Om Krisna.
Mulai tertangkap penglihatanku, seorang bapak tua bertengger di atas motor tuanya seraya memerhatikan jalanan yang perlahan mulai ramai dilalui kendaraan, tanpa satu pun rekan.
Jaket dan helm senada merk menunjukkan eksistensinya sebagai tukang ojek. Entah kehidupan semacam apa yang dijalaninya hingga di jam sepagi buta ini sudah sigap menyiar nafkah.
Gegas kususun langkah menghampirinya. “Pak, bisa anterin saya ke terminal?” tanyaku.
Di sertai wajah lusuh legam namun nampak semangat di sana, bapak itu menoleh dan menyambutku gembira. “Bisa, Neng. Ayo!” Sebuah helm bercorak aneh diberikannya padaku.
Aku menerima disertai setipis senyum, tertular semangatnya yang sungguh luar biasa.
...*****...
Tepat jam sembilan pagi tadi, aku sudah sampai di depan halaman rumahku di Bandung.
Bu Saida menatapku tak percaya, saat pintu disibaknya dan mendapati aku berdiri dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aku sengaja tak langsung melihat rumahku, karena kuncinya ada pada Bu Saida.
Untuk beberapa waktu aku dan wanita tua baik hati itu terlibat dalam percakapan penuh haru, kerinduan juga lain-lain. Namun tak semua kubeberkan. Aku takut akan membuatnya cemas jika terlalu jujur dengan semua yang kualami di Jakarta, termasuk alasan kenapa aku pulang. Hanya alasan klasik bertema rindu kampung halaman yang kulontarkan, dan itu jelas dipercaya Bu Saida.
Tidak ada Pak Nandar di sana, karena beliau berada di pasar, sibuk dengan sayuran-sayurannya.
Hampir berlalu satu jam lamanya, perutku bahkan sudah dimanjakan hidangan super enak Bu Saida. Dan kini, sudah saatnya aku kembali ke rumahku. Rumah yang berdiri kokoh di samping rumah wanita yang saat ini bersamaku, rumah yang selalu kurindukan, dan rumah yang tentu tersimpan banyak kenangan di dalamnya.
__ADS_1
Perlahan dan gontai, ditemani Bu Saida, aku mulai menapaki teras rumah lamaku yang selalu terlihat bersih. Rupanya Bu Saida selalu merawatnya meski tak kudiami.
Setelah mencapai tepat di depan pintu, aku berbalik menghadap Bu Saida. “Aku masuk sendiri aja, Bu. Gak papa, kok.”
Bu Saida memandangku sedih. “Kamu yakin, Nak?”
Aku mengangguk. “Iya, Bu. Aku pengen istirahat. Lagian Ibu juga 'kan masih harus urus sayuran di kebun belakang.”
Senyuman Bu Saida membalasku. Elusan halus tangannya menyapu lembut di pundakku. “Ya, sudah. Kalau perlu apa-apa, Muti tinggal temuin Ibu.”
“Tentu, Bu. Makasih.”
Badan gempal Bu Saida kutatap memunggungiku. Dia sudah berbalik dan berjalan menuju rumahnya kembali. Sekarang tinggallah aku yang berusaha sekuat hati membuka pintu rumah yang sejujurnya begitu takut untuk kusibak. Bukan takut karena telah lama kosong, melainkan takut luka hatiku akan kembali tergores dan menjadi luka lainnya. Aku tak akan sanggup. Tapi aku harus!
Bunyi 'KLEK!' pintu tergeser sudah terdengar.
Perlahan kudorong semakin lebar dan mendapati semuanya masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah sedikit pun.
Sepasang bola mataku langsung menggenang berkaca-kaca. Aroma khas rumah ini ... aku menciumnya kembali.
Kursi kosong tempat di mana Ayah biasa membaca surat kabar langganannya masih seperti itu. Lemas kakiku menghampiri lalu menurunkan tubuh meluapkan tangis dengan kepala tersungkur beralas kedua lengan di atas kursi favorit Ayah tersebut.
“Ayah ...! Aku pulang, Yah,” raungku. Kepala kuangkat kembali. Sepasang tanganku sibuk mengelus hangat sofa tunggal di hadapan. “Aku rindu Ayah.” Isak tangisku deras memburu rasa.
Memakan satu jam waktu lamanya, aku mengedar gerak menyibak kenangan di rumah sederhana peninggalan Ayah ini, dengan tangis terpaku di setiap bagian ruang yang jejaki berpindah-pindah. Sampai akhirnya aku lelah dan meringkuk di tempat tidur Ayah, bukan di kamarku.
Seketika bayangan tentang masalahku di Jakarta kembali menyerang. Erat guling empuk Ayah kupeluk, meluapkan sebanyak ketakutan dan penyesalan. Andai dia masih hidup, aku tak akan mengalami hal-hal bodoh semacam itu.
__ADS_1