Mutiara Retak

Mutiara Retak
Pertunangan Kejutan


__ADS_3

Setelah hari itu, aku tak pernah lagi berbicara dengan Algi. Hubungan kami yang memang tak bisa dibilang dekat, semakin buruk saja. Kecuali Gibran yang meskipun sudah kutolak, kami tetap bisa berteman baik.


Dan Zhio ....


Aku tak tahu apa yang dimiliki cowok itu. Semakin lama mengenal, rasa nyaman semakin membelai tanpa pandang malu. Membuatku kadang berpikir, aku ini normal atau tidak?


Oleh mereka yang buta secara rasa, dia diolok cowok tompel, jelek, culun, atau apalah semacamnya. Tapi bagiku ... kehadirannya seperti oase di tengah gurun dengan tandus tanpa tepi. Kekeringanku dipuaskan oleh bentuk perhatian yang mungkin dianggap lelucon semua orang.


Entahlah, aku hanya merasa seperti itu. Dan aku tahu ... aku tidak sakit apa pun karena mengagumi seorang cowok culun dengan tahi lalat besar di bagian wajah.


Karin dan Alna, hanya mereka yang mengerti apa yang kurasa. Keduanya cukup paham apa yang kubutuhkan. Meskipun hanya sepenggal kisah tentang Nandan yang kuceritakan dalam pertukaran curhat kami saat itu di rumah Karin.


Tentang Chelsea, aku tak ingin terbebani lagi. Tugasku sebagai [anggap saja] anak adopsi Om Krisna, hanya sekolah dengan baik tanpa ada cacat mengecewakan.


_____


Malam ini, Om Krisna dan Tante Maria mengajakku pergi ke sebuah acara pertunangan anak kolega bisnisnya di sebuah hotel mewah di pusat kota. Chelsea juga ikut, namun dia memilih jalan dengan mobil berbeda yang dikendarai dirinya sendiri. Bersama denganku mungkin hanya akan menghancurkan mood-nya. Dan aku tak lagi mau peduli. Selama Om Krisna dan Tante Maria menerimaku dengan hati, Chelsea hanya angin yang berlalu tanpa ingin kusentuh walau seulas.


Hanya memakan waktu sekitar empat puluh menit, kami semua sampai di parkiran hotel. Dengan gaun putih yang dulu diberikan Tante Maria, dipadu sepatu warna senada elegan, aku berjalan menapaki karpet merah khusus tamu undangan, beriringan dengan Chelsea di belakang Om Krisna dan Tante Maria.


Penampilan kami tak bisa dibandingkan. Chelsea dengan gaun merah seksinya, jelas lebih menonjol dibanding aku yang alakadar. Jika dikaitkan dengan sebuah dongeng, kami sudah seperti tiruan Bawang Merah dan Bawang Putih.


Masa bodo dengan pandangan! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.


Gemuruh mulut beradu saling menimpal kata, memenuhi seluruh tempat. Ini hanya acara pertunangan, tapi meriah dan mewahnya benar tak main-main. Bagaimana nanti jika pasangan itu menikah? Mungkin bisa mengalahkan kemeriahan pernikahan anak Presiden. Benar-benar sultan!


Langkah kaki kami semakin merangkak jauh ke dalam.


Aku masih celingak-celinguk kurang percaya diri. Hanya mengekor kemana Tante Maria dan Om Krisna pergi. Sepasang orang tua itu tak henti menyapa banyak orang yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.


Sementara Chelsea ....


“Itu 'kan ...!” Ia berseru di tengah langkah dan menghentikannya. Wajahnya mengarah pada satu titik di kanan posisi kami saat ini. “Ma, Pa! Aku ke sana dulu, ya?!” Sepasang matanya terang benderang bermode girang.


“Mau kemana, Chels?” Tante Maria bertanya dulu.


“Itu, Ma. Ada Jancent--Jancent Lee! Pengusaha muda penerus Eagle Corp. Yang waktu itu datang ke pesta aku sama papa dan sepupunya itu lho!” Semangat Chelsea menjelaskan.

__ADS_1


Pandangan Tante Maria dan Om Krisna tergerak mengamati hasil temuan anaknya. Aku yang tak paham juga penasaran ikut menengok.


Sosok pria muda ... tampan. Berdiri dengan segelas minuman di tangannya. Berbincang asyik dengan beberapa wanita yang sama muda di sekelilingnya.


Sempurna!


Hati normalku ikut berkomentar. Aku tak buta, juga tak munafik. Cowok itu memang ganteng, keren, gagah pula. Pantas saja Chelsea sampai klepek-klepek ditarik pesonanya yang katakan saja ... mirip aktor luar negeri yang aku pun lupa siapa namanya.


Aku hanya sekedar memberi komentar--cukup kumakan sendiri. Aku tak berhak apa pun untuk terlibat dalam dunia mereka--dunia orang-orang kaya.


Sebelum Tante Maria memberi izin, Chelsea sudah melanting ke arah cowok itu. Om Krisna hanya menggeleng-geleng tanpa sepatah pun kata menimpali.


“Ayo, Tiara! Kita temui yang punya acara. Chelsea biarin aja sesukanya!” Om Krisna mengajak. Aku mengangguk saja.


Podium tempat di mana pasangan bertunangan dan keluarganya berkumpul, semakin dekat dicicil langkah irit kami.


Diperhatikan dari jauh, pasangan itu nampak sangat serasi.


Aku tersenyum tipis mengagumi seraya menghayal--sedikit saja. Andai yang di depan sana itu adalah aku ... dunia pasti menertawakan.


Semakin dekat, semakin dekat, semakin memapas jarak.


Langkahku terhenti dan terpaku di jarak sekitar tiga meter lagi menuju tempat yang sudah ditapaki Tante Maria dan Om Krisna. Keduanya sudah bersalaman ria bersama keluarga pemilik acara bersama tamu lain yang masih berduyun di depan dan belakang kami.


“Na-Nandan!” pekik pelanku tanpa sadar. Rasa terkejut melewati batas yang kusanggupi.


Ternyata yang bertunangan itu adalah ... Nandan!


Yang berdampingan dengan wanita cantik itu ... Nandan!


Hanya dengan melihat wajahnya, hatiku yang mulai sembuh, kini kembali tergores. Dan semakin sakit ketika aku sadar, bahwa dia yang saat ini menjadi subjek inti acara.


Tuhan ...!!


Sampai akhirnya pasang mata kami pun bertemu. Dia turut terbelalak menatapku dan membeku di tempatnya. “Mutiara.” Aku menangkap gerak bibirnya berdesis menyebut namaku.


Sebelum air mata dari tangisku pecah keras dan disadari Om, Tante dan semua orang, aku berbalik lalu berlari meninggalkan area itu seraya membekap mulut. Kemana saja! Asal menjauh, melewati banyak orang yang sudah pasti memandangku heran.

__ADS_1


Sebuah pintu kaca di sisi lain hotel kudorong dan kumasuki tanpa ragu. Aku tak tahu akan kemana kakiku membawa.


Sampai sebuah tempat kutemukan pada akhirnya.


Ruangan kecil yang sepertinya adalah gudang alat-alat kebersihan di mana sapu, pel, ember dan lainnya tersandar dan tergeletak di sana-sini.


Aku menurunkan tubuh, berjongkok lalu kembali menutup wajah, terisak di sana. Bayangan wajah Nandan terus menari tak mau hengkang. Hatiku terus bertalu serasa dipukul-pukul.


Apakah ini adalah sekolah di luar negeri yang dia bilang?


Ini Jakarta, Nandan! Aku menegaskan dalam pikirku.


Kenapa dia harus berbohong?


Kenapa dia tega mengacau hatiku sampai sejauh ini?


Aku menumpahkan hatiku tanpa ragu padanya, bahkan sampai ke akar. Apakah semua itu tak ada arti bagi dia?


Tidak bisakah dia berjuang sekali saja untukku?


Untuk cinta kita?


“Kalo mau nangis, seenggaknya pilih-pilih tempat!”


????


Aku mengangkat wajahku spontan. Suara itu mengejutkanku.


“Si-siapa kamu?” tanyaku dengan suara sember bercampur ingus.


Ruangan ini tak cukup terang untuk bisa menangkap sosok tinggi menjulang yang kini berdiri di sampingku itu.


“Nih!”


Sehelai tissu ia sodorkan padaku.


Aku meraihnya gapake ja'im. Setidaknya berguna untuk mengelap ingus encerku yang terus mengalir dan memalukan.

__ADS_1


Wajahku pasti terlihat kacau sekali sekarang.


__ADS_2