Mutiara Retak

Mutiara Retak
Sebenarnya ....


__ADS_3

Tubuhku sontak melanting ke belakang, selepas masker dan kacamata gelap yang menutupi wajah cowok itu telah berpindah ke tanganku dalam satu tarikan. Wajahku menegang tak percaya. Cowok tinggi itu, benar-benar ....


“Jancent,” desisku nyaris tak terdengar, namun tentu tersiram keterkejutan yang menyentak di sana.


Sepasang matanya menatapku sendu.


“Apa salah aku, sampai kamu mutusin aku?”


Ha?


Kagetku bertambah.


Apa-apaan dia? Apa maksudnya?


Kedatangannya ke tempat ini saja mementalkan hatiku dalam keterkejutan besar, sekarang bertambah kata-katanya yang sungguh membuatku meradang pikir.


“Apa yang ada di pikiran kamu, Ra? Sampai kamu tiba-tiba mau putus sama aku?”


Aku memundurkan kaku kakiku, seiring langkahnya yang kian mendekat ke arahku. “A-apa maksud kamu, Jancent?” tanyaku tentu harus tahu.


Sesaat dia terdiam di tempatnya, namun satu tangannya sibuk merogoh ke dalam saku jeans yang ia kenakan. Sebuah ponsel diraihnya kemudian. “Kamu liat ini!” Layar menyala dengan laman khusus aplikasi Watsap dia sodorkan dekat dengan mataku.


Beberapa detik kugunakan untuk membaca dan mengamati deretan panjang pesan di layar hape-nya itu.


Jantungku berdebam seakan ditimpa palu gada besar setelahnya.


Pesan itu ... isi pesan itu adalah kalimat yang kukirimkan pada Zhio semalam. Susunan kalimat pemutusan hubungan yang bahkan tak ingin kubaca ulang.


“Ke-kenapa pesan itu ....?” Belum usai tanya kejutku terlontar, mataku membelalak semakin lebar, ketika aku menyadari satu hal lainnya. “Ponsel Zhio,” desisku. “Kenapa ponsel Zhio ada sama kamu?!” Kutusuk wajah tegas Jancent dengan tatapan menuntut.


Jancent terperanjat. Seketika kelakuannya menjadi aneh. Seperti orang tolol yang tak mengenali dirinya sendiri. Seluruh bagian tubuhnya ia raba dan amati sendiri, hingga berakhir meraba-raba wajahnya yang nampak kusut. Sepasang matanya lebar menatapku kemudian. “A-aku ....”


Aku masih menunggu dengan rasa menuntut.

__ADS_1


Kulihat Jancent memejamkan mata seraya menunduk.


“Apa sudah bisa kamu jelasin semuanya sama aku, Jancent?!”


Tanya desakku menarik matanya untuk terbuka. Wajahnya terangkat memandangku seperti tersirat kebingungan di sana.


“Tiara ... bisa kita bicara di dalem aja.”


Permintaan seraknya membuatku tersentak. Sontak kuedarkan tatap ke bagian halaman rumah yang memang terlihat beberapa anak dan ibu-ibu memandang kami dengan kekepoan mereka. Aku mendesah kasar, lalu kembali melihat Jancent. “Ayo masuk.” Kubalik tubuh lalu membuka pintu yang sudah terkunci sebelumnya. Jancent mengikuti di belakang.


Pintu kututup kembali setelah kami berada di dalam.


Sofa di sebrang kutunjuk untuk mempersilakan Jancent duduk di sana, sedang aku menduduki sofa tunggal yang menempel dengan satu sofa kosong lainnya di sebelahku.


“Sekarang, jelasin semuanya sama aku,” tuntutku kembali.


Mata kusut Jancent menembakku tanpa kedip.


“Oke, Tiara. Aku akan jujur semuanya sama kamu sekarang.” Seraup udara diraihnya seraya membuang wajah.


Mata itu, mata yang sebenarnya tak bisa kuelak keindahannya, sekarang tengah menatapku dalam.


“Tiara ... aku harap kamu gak akan pernah benci sama aku.”


Dengan kerutan di kening, aku menanggapi. Tapi tak sedikit pun ingin menyela. Akan kubiarkan Jancent memaparkan apa yang sebenarnya.


Lagi-lagi satu tarikan napas panjang diraup lalu diembuskannya secara kasar. Setelah cukup, dia lantas mulai berkata, “Aku adalah Jancent ... dan Jancent ... adalah Zhio! Jancent dan Zhio ... adalah satu wujud yang sama ... aku!”


Kelopak mataku kembali melebar terbelalak, mulutku menganga lebih luas, bahkan jantungku berderu lebih kencang seperti diterpa badai yang dahsyat.


“A-apa ... ma-maksudnya ... itu, Jancent?” tanya gagapku, masih mencoba mencerna apa yang baru saja diungkapkan cowok itu.


“Iya, Tiara. Aku Zhio. Zhio si culun tompel yang nemenin kamu dari masa akhir SMA sampai akhirnya kamu mutusin aku semalem. Zhio yang selalu diolok semua orang. Zhio yang mencintai kamu sepenuh hati. Aku Zhio pacar kamu, Tiara!” Jancent memperjelas tegas. Dia bangkit dari duduknya, melenggang singkat memutari meja, berakhir di depanku, lalu menurunkan tubuhnya bersimpuh di hadapanku. Wajah tampan dengan rahang tegasnya terdongak memandangku sebanyak tersirat penyesalan di dalamnya.

__ADS_1


Sepasang tanganku ditarik lalu digenggamnya.


Dengan nada serak penuh sesalan, dia berkata, “Maafin aku, Ra. Maafin aku. Aku salah karena udah bohongin kamu soal siapa pacar kamu ini sebenarnya. Tapi aku punya alasan kuat buat lakuin itu semua, dan kenapa aku milih kamu.”


Aku terpekur dengan mata yang sudah menjatuhkan tetes demi tetes air mata. Semua yang kudengar seperti angin yang melintas sambil lalu, tapi terasa dinginnya meresap hingga ke tulang. “Jelasin semuanya, Jancent.”


Dia mengangguki cepat apa yang kuminta.


Aku tak ingin menjadi egois dengan menekannya dengan kesalahan. Akan kubiarkan dia menjelaskan semuanya hingga tuntas sejelas-jelasnya.


Jancent naik kembali duduk di atas sofa, setelah aku menarik tanganku--tak ingin digenggamnya.


Cerita Jancent ....


Pesta penyambutan kedatangan Chelsea dari Jepang, adalah awal mula dari semua yang dilakukannya padaku.


Bermula dari sentuhan sebuah rasa empati, ketika aku yang saat itu salah mengenakan gaun hingga mendapat makian kasar dari Chelsea. Dari sebuah sudut Jancent memperhatikan.


Sampai aku berlari dengan tangisan dan bertabrakan dengan Sagara--sepupunya, dia mengikuti. Dari sanalah aku ingat, Jancent-lah orang yang berteriak memanggil Sagara sampai aku berhasil kabur dari cengkraman tangan sepupunya itu.


Dari sana, ternyata dia tak melepaskan diri dari rasa pedulinya terhadapku. Seluk beluk kehidupanku digalinya melalui seorang pesuruh. Hingga kemudian berakhir menyamar menjadi Zhio si anak SMA culun dan tompel, hanya demi untuk mendekati dan mengenalku lebih jauh.


Dia merubah diri sedemikian rupa hingga memoles warna kulit wajahnya yang aslinya putih bersih menjadi sedikit hitam manis. Sebuah alat kecil bahkan dipakainya untuk menyamarkan suara di mana jati diri sebenarnya sebagai Jancent tertutupi.


Semua benar-benar sempurna!


Aku berhasil terkecoh, juga Chelsea yang begitu mendamba seorang Jancent, malah berbalik memaki saat cowok itu menjadi Zhio.


Aslinya Jancent adalah seorang pria dengan usia 24 tahun lulusan universitas terkenal di London. Dia yang mana tak kurang satu tahun lagi, akan sah menjadi seorang CEO perusahaan besar milik keluarganya--Eagle Corp.


Selain karena itu, tujuannya menjadi Zhio adalah demi sebuah misi. Selama ini dia dikejar banyak kalangan wanita hanya karena darah biru dan kekayaan keluarganya, juga ketampanan. Dan dengan menjadi Zhio, Jancent ingin mencari sebuah ketulusan dari seorang pendamping, bukan memandang wajah dan harta yang melimpah dari dirinya.


Alasan kenapa aku ia targetkan ....

__ADS_1


“Aku melihat sesuatu yang berbeda dalam diri kamu, Ra! Sesuatu yang wanita lain nggak punya,” ucap Jancent di antara penjelasannya. Jauh pandangannya menatap ke dalam bola mataku. “Waktu itu awalnya aku gak yakin kamu mau nerima aku---Zhio, sebagai pacar kamu. Tapi ternyata aku salah, kamu justru menerima bahkan mencintai si culun, hitam dan tompel itu apa adanya. Sebanyak cinta dan perhatian yang kamu limpahkan, sebanyak itu juga aku semakin gak mau kehilangan. Itu yang membuat aku begitu tergila-gila sama kamu, Mutiara!”


__ADS_2