
Aku tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Seluas hatiku penuh disesaki perasaan kacau gegana.
Entah aku harus marah atau apa.
Pengakuan Jancent membuatku tercekik serasa sulit bernapas.
Setelah panjang susunan kata dia lontarkan, cowok itu kembali turun bersimpuh di bawah kakiku. Kepalanya mendongak menatap wajah bingungku yang kentara tak bisa ditutup apa pun. Sepasang tanganku diambil untuk digenggamnya.
“Aku mohon maafin aku, Ra.” Jancent kembali memohon.
Sejenak saja kutatap matanya di antara resah, lalu membuang pandang ke lain arah. Belum bisa mengolah hatiku untuk sebuah keputusan. Di satu sisi, aku mencintai Zhio sebanyak yang aku tanam selama ini, tapi di sisi lain ... aku tidak mengenal Jancent dengan baik, walau mereka adalah orang yang sama. Lalu bagaimana akan kusikapi mereka--dua kepribadian itu?
“Ra ....”
Suara Jancent mengudara parau. Dia jelas menginginkan kepastian yang tentu saja bisa memuaskan hatinya.
Pada akhirnya aku memilih kalimat, “Tapi kita udah putus, Zhi--Jancent!” Aku meralat.
“Itu keputusan sepihak kamu!” Jancent menyergah cepat. “Kita berjanji berdua! Kenapa kamu berani mengambil putusan seorang diri tanpa mikirin perasaan aku?! Apa kamu bener-bener udah gak sayang aku?!”
Aku melengak. Kata-kata itu seperti tamparan keras yang seketika melebamkan perasaanku. “A-aku ....”
“Please, Ra ... aku sayang kamu.” Dengan suara lemah, sepasang tanganku dikecup Jancent. Kepalanya merunduk rapuh di atas kedua pahaku.
Aku semakin tak bisa mengatur hatiku untuk kemana aku arahkan.
Bukan! Bukan aku tak mencintai Zhio, tapi kejadian di hotel malam itu ....
“Zhio ... sebelum aku jawab semuanya ... aku mau tanya dulu satu hal sama kamu," kataku mencoba menggali keseriusannya.
__ADS_1
Cowok itu sontak melengak menatap wajahku. “Akan aku jawab sebisaku.”
Sebelum kupaparkan semua kata yang ada di kepalaku, sejenak kurenungkan diri. Aku tahu apa yang akan kusampaikan pasti akan sangat melukainya. Tapi aku harus! Harus tahu sampai mana dia mau menerimaku. Apakah setelah dia tahu kalau aku telah dijamah lelaki lain, dia akan menerima dengan lapang hati karena landasan cinta yang katanya kuat itu? Atau justru berbalik memandangku jijik lalu pergi meninggalkanku tanpa berbalik.
Baiklah, Zhio ... atau Jancent--Jancent Lee, pewaris tunggal Eagel Corp, aku akan menguji sebesar apa cinta yang kamu miliki untuk aku. Benarkah sebesar apa yang kamu katakan?
“Bagaimana kalau tubuhku sudah lebih dulu dijamah lelaki lain?”
____
Respon Jancent tepat seperti apa yang ada dalam bayanganku. Dia tersentak menatapku tak percaya. “Apa maksud kamu?” Kentara wajah tegang terpasang di wajahnya seketika. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya lalu beralih naik dan duduk di kursi sebelahku. Menghadap dan menatapku penuh tuntutan. “Jelasin apa maksud perkataan kamu, Ra?!”
Aku membuang wajah seraya menyeka basahan yang luruh melewati pipi. Tapi Jancent kembali membalik ke arahnya dengan meraih pipiku hingga tatapan kami akhirnya terkunci temu.
“Ra ....”
Aku tak bisa menahan untuk tak menangis. Air mataku luruh semakin deras hanya karena tatapan matanya yang jujur saja aku baru menyadari, betapa Zhio dan Jancent tidak banyak perbedaan. Tatapan yang sama, alis membingkai tegas, hingga bibir yang begitu manis saat kami saling menyentuh saat itu. Ya, mereka benar-benar orang yang sama. Sekarang sepenuhnya aku percaya.
Jancent memelukku gegas. Mengusap lembut punggungku dengan rekatan dekap yang begitu hangat kurasakan.
“Gak usah takut. Apa pun yang bakal kamu akui, seburuk apa pun itu kenyataannya ... aku akan selalu ada buat kamu. Aku janji.”
Aku tak boleh terbuai dulu dengan kalimat itu. Kudorong tubuhnya--melerai pelukan. Kutatap matanya sedalam dia menatapku. “Apa kamu yakin? Kamu gak membual? Kamu yakin gak akan menyesal mengucapkan itu setelah aku cerita semua tentang apa yang menimpa aku?”
Jancent terdiam. Seperti mencerna setiap kata yang keluar dari mulutku beberapa saat. Legam rasa penasaran tergambar kuat dalam matanya. Sampai sepersekian detik kemudian, dia lalu berkata dengan sorot teguh dibingkai senyuman yang spontan saja meluluhkan hatiku. “Kamu bisa pegang janji aku.”
Aku meresponnya dengan raut senang. Senyum di antara getir jatuhan air mata, menyabit di bibirku.
Dengan perlahan dan meragu-ragu, aku mulai menceritakan kejadian yang menimpaku di hotel tempat pesta ulang tahun Rossa dilangsungkan kala itu. Tak sedikit pun kupotong apalagi kuubah bagiannya. Semua kubeberkan secara terperinci, termasuk cerita tentang putusan Om Krisna yang akan menikahkan aku dengan Algi.
__ADS_1
Jancent menyikapi dengan beragam ekspresi, tapi tak sepatah kata pun dia menyela.
“Karena itulah, aku memilih melarikan diri ke sini juga mutusin kamu,” tutupku masih dengan isakan. “Aku malu sama kamu. Aku ngerasa kotor dan gak pantes lagi ada di samping kamu, Zhio. Selain itu, aku juga gak mau dinikahin sama Algi.”
Raunganku disambut pelukan cepat Jancent. Dia mendekapku lagi seperti saat lalu. “Tenang, Sayang. Tenang.” Dia mengecupi kepalaku berulang. “Aku nggak akan pernah ninggalin kamu. Gak akan! Apalagi karena masalah itu! Juga Algi atau siapa pun itu, gak akan pernah jadi bagian dalam hidup kamu, kecuali aku!”
Seketika hatiku dialiri perasaan hangat. Aku tak menyangka Jancent akan mengambil sikap selembut ini, bahkan setelah tahu diriku telah dijamah lelaki lain. Dia malah memelukku dalam perlindungan yang aku pun masih belum bisa memastikan seperti apa perasaannya saat ini setelah aku bercerita terbuka tentang apa yang menimpaku.
Namun belum sempat kulontarkan kalimat balasan, suara ketukan di luar pintu terdengar nyaring membahana menembus seantero rumah. Pelukan antara aku dan Jancent sontak terlerai karenanya.
“Siapa itu?” tanya Jancent.
Aku menggeleng. “Aku gak tahu. Sebentar aku buka dulu.”
Jancent mengangguki. Namun sebelum aku bangkit, dia meraih daguku. Telapak halus tangannya mengusap basahan pipiku hingga kering. Dia tersenyum kemudian. “Biar orang gak ngira aku ngapa-ngapain kamu ampe nangis bombay kayak gitu.”
Aku balas tersenyum. “Makasih,” ucapku terharu, sementara ketukan di pintu kembali terdengar semakin keras. “Ya, udah, aku buka pintunya dulu.” Berdiri lalu berjalan menyongsong helaian pintu untuk membuka dan memastikan siapa gerangan yang ada di baliknya.
Setelah terbuka ....
Mataku membelalak seketika. Belalak yang terlahir dari pandangan dalam ketidakpercayaan.
Mereka tak hanya satu atau dua orang saja.
Mulutku mulai mengabsen, “Om, Tante, Chelsea.” Dan yang paling mengejutkan, “Algi ... Alna.” Juga dua orang lainnya di belakangnya, yang aku tidak tahu siapa mereka.
“Sayang!” Tante Maria gegas memelukku sesaat setelah pandangan kami bertemu. “Kamu apa kabar, Nak?” Dia mulai menangis. “Kamu tahu, betapa cemasnya Tante abis baca surat yang kamu tinggalin.”
“Ya ... emang dasarnya gak tahu terima kasih!” Chelsea menimpal ketus dengan tangan bersedekap angkuh.
__ADS_1
Belum ada kata yang bisa kulontarkan. Di balik punggung Tante Maria yang saat ini memelukku, sepasang mataku menangkap wajah Algi. Ada seulas senyum yang terlihat janggal dalam pandangku akan siratnya. Entah apa artinya itu.