Mutiara Retak

Mutiara Retak
Langkah Baru


__ADS_3

Walau cukup merasa tertekan dengan lautan kenangan di rumah ini, akhirnya aku berhasil tidur di angka dua belas malam. Pak Nandar dan Bu Saida menemani hanya sampai jam sembilan saja. Keduanya sempat menawarkan untuk aku tidur saja di rumah mereka, mengisi kamar Sadewi, putrinya yang saat ini tengah menjalani pendidikan tinggi di Semarang. Tapi aku menolak, aku tak ingin terlalu banyak merepotkan. Apalagi makanan begitu banyak mereka kirimkan hanya untuk memanjakanku.


Saat ini, waktu menjajak angka enam pagi. Aku keluar untuk menghirup udara sejuk pagi yang lama tak kunikmati. Secangkir teh panas kutenteng di antara lima jemari kananku. Dua kursi teras salah satunya kududuki. Pandanganku melayang ke depan melihat hiruk pikuk anak-anak berseragam merah putih yang akan pergi sekolah melewati halaman rumah. Saling bercakap seru dengan tawa yang terlihat ringan di wajah-wajah kecil mereka. Aku tersenyum hanya dengan hal sesederhana itu.


Detik berikutnya, sebuah mobil mewah melintas di halaman rumah. Aku ingat itu milik siapa. Yang menyetir di depan pasti anak kepala desa, Irfan namanya. Cowok itu pernah meminta aku pada Ayah agar setelah lulus SMA, aku mau dinikahinya. Tapi dengan keras Ayah menolak--sesuai harapanku. Beruntung saat ini dia tak melihat ke arahku. Mungkin kesibukannya cukup mengalihkan pandangan, karena laju mobilnya cukup tergesa-gesa.


Menyebut nama kepala desa, seketika aku mengingat Om Krisna. Rautku dengan cepat berganti muram durja. Surat yang kutinggalkan pasti sudah dibacanya. Semoga dia mengerti dengan pilihanku tanpa lagi mempersulit.


Bukannya aku tak tahu terima kasih dengan segala kebaikan pria itu juga keluarganya, tapi perasaan kacau menuntunku untuk memilih jalanku sendiri. Aku ingin kehidupan sederhana yang tak perlu terlibat lagi dengan orang-orang kaya. Ucapan Chelsea tentang betapa rendahnya aku menjadi sosok parasit di rumahnya, membuatku bertekad ... aku akan berdiri di atas kakiku sendiri mulai dari sini.


Aku yakin, cepat atau lambat, Om Krisna akan datang ke tempat ini menyusulku. Tapi tekadku sudah bulat. Aku tak akan mau lagi ikut dia ke Jakarta. Mencari pekerjaan bermodal ijazah SMA, menabung untuk melanjutkan kuliah nantinya, mungkin akan aku lakukan setelah semuanya terselesaikan.


Dan Zhio ....


Mulai dari semalam ... aku memutuskan ... aku lebih baik meninggalkannya. Setelah kejadian tolol di hotel itu, aku merasa aku sudah tak pantas lagi berada di sisinya. Dia terlalu bersih untuk mendapatkan perempuan sekotor aku. Sakit hatiku akan kutelan seperti biasa seorang diri. Aku yakin, dengan perlahan, aku akan bisa melupakannya.


Walaupun caraku memutuskannya melalui pesan singkat di Watssap terkesan cukup tidak etis dan menjijikan, aku tidak punya pilihan lain. Zhio memang seharusnya melepaskan aku.


Jantungku sudah keras menabuh-tabuh. Hatiku terasa ditusuk-tusuk. Aku beranjak dari dudukku dan masuk ke dalam rumah untuk selanjutnya meluapkan tangisku tanpa ingin orang lain melihat.


“Tuhan ....”


Hanya nama Agung itu yang terus kulafalkan untuk setidaknya mengurangi beban. Wajah lucu Zhio terus menar-nari dalam ingatan, membentuk kesakitan yang sungguh menyiksa batin.


Bagaimana aku melewatinya? Aku bahkan tak ingin membuka ponsel hanya sekedar melihat balasan keputusan sepihakku darinya sejak semalam. Puluhan panggilan dan chat dari Om Krisna dan Tante Maria puas kuabaikan. Aku tak ingin menjadi rapuh hanya karena membaca pesan apalagi mendengar suara mereka. Aku ingin tenggelam saja.

__ADS_1


Tapi aku tak boleh!


Kusapu air mata akhirku hingga kering dengan sehelai tissu yang tertata di atas nakas samping ranjangku. “Aku gak boleh larut! Aku udah buat pilihan! Aku harus kuat!” tekadku lagi menguatkan hati.


Sudah kuputuskan, siang nanti, aku akan pergi membeli kartu ponsel baru dan mengganti nomor. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi. Urusan kedatangan Om Krisna dan lainnya, bagaimana nanti saja.


Waktu yang kuniatkan pun tiba. Perutku sudah terisi dengan sepiring nasi goreng yang diantar Bu Saida. Walaupun kuterima dengan tak enak hati, kulahap juga demi rasa menghargai.


Aku berdandan alakadar saja. Sehelai rok tutu selutut dipadu kaos ketat berlengan sesikut, membalut tubuhku saat ini. Sandal jepit murahan mengalas kakiku percaya diri. Rambut kucepol asal saja. Counter hape yang kutuju tak jauh berada dari gang di ujung jalan. Begini saja sudah cukup membuat nyaman.


Namun sayang ... baru sepasang kakiku mencapai ujung teras rumah, sebuah mobil mewah berhenti tepat di pintu pagar, menutup jalan. Aku membeku dengan pikiran dijejali beragam tanya. Mulai dari; Siapa itu? Apakah Om Krisna? Kenapa dia bisa datang secepat ini? Tapi ... itu bukan mobilnya! Aku ingat, Om Krisna tak punya mobil sejenis yang kulihat saat ini di depanku.


Dan cecaran hatiku pun terjawab di detik berikutnya.


Setelah menutup pintu mobilnya, dia mulai berjalan ke arahku. Di balik kacamata hitam dan maskernya, aku tak bisa mengenali siapa dia.


Dengan kaku disertai perasaan takut, aku memundurkan kaki. Wajahku sudah tegang menatapnya yang saat ini semakin dekat saja. Aku tak tahu kenapa aku setakut ini. Bahkan tak bisa kuasumsikan dengan sehat. Mungkin saja 'kan orang itu hanya ingin bertanya alamat? Tapi sayang, aku tetap saja gemetaran.


“Ca-cari si-siapa, ya?” tanyaku tergagap, mencoba berani.


Dongak wajahku memandangnya resah. Orang tinggi ini sudah berdiri tepat di depanku. Tidak ada kata atau pun jawaban yang keluar dari mulutnya. Dia menunduk menatapku terdiam, sementara aku malah semakin membeku. Tapi hatiku malah sibuk menelisik. Siapa dia ini? Tatapan seperti apa yang dia tusukan pada mataku? Jarak di antara kami bahkan nyaris tak ada sisa.


Jebakan moment apa ini?


Sampai berdetik kemudian, tindakannya benar-benar membuat jantungku terpental. Dua mataku sempurna membelalak.

__ADS_1


Lelaki ini menarik cepat tubuhku ke dalam dekapannya. Wajahku miring merapat di dadanya yang bidang.


“Kenapa kamu pergi? Kenapa nggak nunggu aku?!”


Dalam ketat pelukannya, aku ternganga dengan apa yang baru saja dia pertanyakan.


Apa maksudnya?


Suaraku tercekat di tenggorokan. Tubuhku mendadak kaku.


Pelukan ini ... kenapa aku merasa ini familiar?


Dan suaranya ...?


Tidak banyak menit yang kuserap untuk mengingat warna suaranya, aku sudah tahu, aku tahu milik siapa suara ini.


Tidak mungkin!


Tidak mungkin dia, 'kan?


Jikapun iya, apa alasannya bertanya seperti itu padaku?!


Setelah cukup mengelana pikir, aku menarik diri dari pelukannya sekaligus. Kupandangi tajam wajahnya yang masih terinterupsi masker dan kacamata. Perlahan, satu tanganku naik dan melayang untuk menarik kedua benda itu di wajahnya. Aku harus pastikan ini.


Dan ....

__ADS_1


__ADS_2