Mutiara Retak

Mutiara Retak
Ajakan


__ADS_3

Aku berterima kasih pada hari yang indah ini.


Rasa tidak percaya masih bergelayut dalam benakku.


Kehadiran Om Krisna menjadi kekuatan baru. Tiga kali ucapan terima kasih, mewakili seribu lainnya untuk sepasang orang tua yang terasa seperti air dalam hausku.


Acara berlalu, Om Krisna dan Tante Maria mengajakku pulang, setelah aku puas berpelukan dengan teman-teman, berfoto, dan lainnya tentu saja.


Aku menyetujui karena tak ada alasan lain untuk tinggal.


Semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Aku dan pasang orang tua itu berjalan menuju mobil Om Krisna. Tetapi kemudian ....


“TIARA!” Sebuah seruan panggilan menghentikan gerak kami sesaat, lalu menoleh bersamaan.


“Zhio,” sebutku.


Cowok itu berjalan ke arah kami, lalu berhenti tepat di depanku.


“Siang, Om, Tante. Maaf mengganggu sebentar,” kata sopan Zhio dihiasi tarikan senyum.


“Siang.” Pasangan itu membalas singkat saja.


“Ada apa, Zhi?” tanyaku. Menoleh sekilas kaku pada Om Krisna dan Tante Maria yang menunggu. Aku sedikit tak nyaman dengan ini.


Tungkai kacamata besarnya diluruskan Zhio sesaat sebelum kemudian berbicara to the point, “Begini, Om, Tante. Aku mau minta izin, buat ajak Tiara jalan-jalan sebentar. Om Tante gak keberatan, 'kan?”


Aku cukup terkejut dengan itu. Perasaanku meresah, menendang mata pada Om Krisna dan Tante Maria--takut mereka akan tak suka dengan ini. Pasalnya, dulu Algi pernah nekat melakukan ini sekali, tapi jawaban Om Krisna membuatku merinding. Dan akhirnya Algi pulang dengan bahu lemas meninggalkan pintu yang mula diketuknya percaya diri. Juga Budi tetangga komplek kami yang sempat datang dengan setangkai bunga berniat mengajakku jalan, juga tak luput dari usiran halus Om Krisna malam itu.


“Silakan! Tapi jangan pulang terlalu lambat!”


Ha?!


Aku jelas terperangah dengan jawaban itu.


Om Krisna mengizinkan?


“Makasih, Om.” Zhio tersenyum senang.


“Hati-hati. Jangan sampai Mutiara ada lecet saat kamu pulangkan ke rumah saya!”


Peringatan receh Tante Mutiara diangguki Zhio dengan semangat. “Pasti, Tante!”


“Ya, sudah. Kami pamit. Hati-hati.”


Aku dan Zhio mengangguk. Menatap kedua orang tua yang mulai masuk ke dalam mobilnya lalu melaju meninggalkan kami.


“Ayo, Tiara.”


Dengan sedikit perasaan enggan, aku menerima uluran tangan Zhio.


Kami berjalan melewati jejeran mobil dan motor yang masih ramai terparkir di tempat itu, dan berhenti di deretan paling ujung.

__ADS_1


Satu pintu mobil dibuka Zhio. “Ayo, masuk.”


Aku tergagap di tempatku. Merasa tak asing dengan perlakuan ini. Bayanganku lari pada drama-drama Korea yang sering kutonton saat di Bandung dulu.


Zhio begitu manis.


“Makasih,” ucapku seraya menyusupkan diri ke dalam mobil yang tampilan dan jenisnya ... sedikit tua--maaf.


Zhio mengitari bagian depan setelah menutup pintu mobil yang menelanku, lalu masuk melalui pintu satunya dan duduk di bagian kemudi.


Sebelum menjalankan mesinnya, cowok itu melempar senyuman ke arahku yang masih diam melihat semua gerak-geriknya.


“Kenapa liatnya kayak gitu? Aku ganteng ya?”


Weee???


Aku memalingkan wajah, cukup kaget dengan pertanyaan itu. “Apaan sih kamu! Aku cuma kaget, kamu bisa ngemudi mobil,” jawabku sekenanya.


“Lah, emang aku pernah bilang kalo aku gak bisa?!” Zhio terkekeh. Mesin mulai dijalankannya.


“Gak juga!” Aku mengerucutkan bibir dengan pandangan sudah lurus ke depan. Sekilas pandang, Zhio nampak masih terkekeh.


.....


“Kamu tadi kemana? Kok aku gak liat kamu di aula?” tanyaku memecah suasana hening saat mobil sudah melaju cukup jauh meninggalkan sekolah.


“Aku ada urusan di luar. Semua urusan kelulusan udah kuwakilkan sama waliku,” jawab cowok itu.


Menolehku bergaris senyum, Zhio pasti akan bermain teka-teki.


Tapi aku tak cemas. Dia terlalu baik untuk dicurigai.


Baiklah, akan kutunggu apa yang akan dia lakukan, dan kemana dia membawaku.


Semakin lama, terasa semakin jauh. Tidak ada obrolan di antara kami. Aku mulai mengantuk. Pandanganku meremang, semakin berat menopang kelopak mata agar terbuka. Dan ....


.....


Aku merasakan pipiku dicoel-coel. Sebuah telapak tangan lembut dengan ruas jari jemari kokoh, kutangkap lalu kusingkirkan dengan tepisan kesal, agar tak lagi mengganggu ketenanganku.


“Kita udah sampai.”


“Apa sih?!" Aku menghardik suara itu dengan mata masih terpejam.


Kali ini usapan itu berpindah ke kepalaku.


“Tiara, kita udah sampai.”


Suara itu mengulang, dan ....


Ha?


Mata beratku melebar seketika. Menggilir pandang kiri dan kanan, lalu terperanjat kemudian.

__ADS_1


Pandanganku bertemu senyuman Zhio, lalu turun ke bagian pundak cowok itu.


Menyadari sesuatu, aku membuang wajah dengan ringisan malu yang membuat semua terasa menjadi merah.


Bagaimana bisa aku tertidur begitu lelap--di pundak Zhio ...?


Oh, My ....


“Ayo, turun.”


Lagi-lagi Zhio yang sudah keluar mobil lebih dulu membukakan pintu, lalu mengulurkan tangannya ke arahku.


Aku meraihnya sedikit canggung.


Kuamati sekitar, tepat setelah kakiku menapak bumi berselimut paving block segi enam yang terhampar tak begitu luas.


Sebuah toko pakaian!


Bangunan berkaca dengan patung-patung berbusana segala macam pakaian wanita, transparan dilihat dari luar. Aku menatapnya dengan kening berkerut-kerut.


“Kok ke sini?” tanya heranku.


Bukan menjawab, cowok itu malah menggamit lalu menarik tanganku hingga pasang-pasang kaki kami kini berjalan menuju pintu toko itu.


Setelah di dalam, aku bengong terbego-bego, menanggapi kelakuan Zhio yang terus saja mengepaskan beberapa lembar baju di tubuh depanku, seraya berkomat-kamit, “Ini kurang cocok, yang ini terlalu mencolok, kalo ini kegombrengan, yang ini, hmm ... kaya lemper pasti dipake kamu.”


Tak terhitung jumlahnya yang sudah ia taruh kembali ke tempatnya karena tak sesuai seleranya.


“Kamu ngapain sih?” Pada akhirnya aku bertanya.


“Beliin baju buat kamu! Masa iya kamu mau jalan pake kebaya sana-sini,” jelas Zhio seraya mengambil salah satu helai atasan dari gantungan-gantungan yang berjejer.


Aku menghela napas panjang. “Cowok ini ... kenapa gak bilang dari tadi, sih! Aku 'kan bisa pilih sendiri!” omel hatiku. “Aku pilih sendiri aja!” putusku terlalu gemas menyikapi kelakuan sok pintarnya.


Aku berjalan menuju satu deret gantungan berisi gaun sederhana dengan harga murah. Satu kuambil lalu masuk ke dalam ruang ganti tak jauh dari tempatku. Puas berkaca dan berputar-putar, aku keluar dengan menenteng baju kebayaku dan setelannya.


Di luar, Zhio sudah menunggu dengan tampang kesal-- sepertinya. Aku terkekeh kecil menanggapi itu. Walaupun dia tompel dan culun, entah kenapa kelakuannya malah selalu berhasil membuatku menunjukkan gigi.


“Hey!”


Tepukanku di pundaknya berhasil mengejutkan Zhio hingga melanting mundur dengan tampang konyol.


“Kamu apa--”


Kalimat itu tiba-tiba terputus. Sekarang Zhio malah menatapku seperti orang terkena setrum.


“Kok bengong?!” tanyaku memiringkan wajah mengamati ekspresi kakunya.


....


....


“Cantik.”

__ADS_1


__ADS_2