Mutiara Retak

Mutiara Retak
Lalu Bagaimana?


__ADS_3

Ini hari minggu, yang otomatis Om Krisna juga ada di rumah.


Namun sayang, aku malah merusak kualitas waktu liburan yang seharusnya ia nikmati dengan mode santai, menjadi huru-hara karena masalahku.


Saat ini kami--aku, Om Krisna dan Tante Maria sudah berkumpul di ruang keluarga, usai melakukan sarapan terlambat yang sama sekali tak kuminati.


Perasaanku tentu masih kacau. Black spot yang menghias sekitaran mata jelas menampakkan aku yang tak meraih masa tidurku dengan baik.


“Jadi anak itu yang membawa kamu ke kamar hotel semalam?” tanya Om Krisna dalam posisi berdiri. Aku mengangguk tanpa berani mengangkat kepala. Air mataku masih tak mau kering.


Benar, aku sudah menceritakan secara detail tentang apa yang menimpaku semalam pada lelaki itu dan istrinya, sesaat setelah ia bertanya.


Seperti biasa, aku akan sulit menutupi apa pun, terlebih jika itu menyangkut masalah yang tak bisa kuhadapi seorang diri.


“Sepertinya ada yang menaruh sesuatu di minuman kamu.” Om Krisna lanjut berasumsi.


Aku tidak terkejut. Karena asumsi yang sama, juga memenuhi kepalaku. Bagaimana tidak? Aku tidak memiliki riwayat sakit apa pun yang berefek seperti apa yang kurasakan semalam. Ditambah, perasaan liar yang menjadikan seolah aku adalah wanita j⁴lang yang gatal dengan sentuhan.


Di sampingku, Tante Maria memasang tampang menyesal yang tak terperi. Ya, dia menyesal karena telah memaksaku datang ke pesta itu, hingga berakhir kekacauan seperti ini. Sementara Chelsea tak nampak batang hidungnya. Dia pasti sangat marah padaku.


“Om akan membuatnya bertanggung atas apa yang dia lakukan sama kamu!”


Aku melengak, “Ma-maksud, Om?!”


Jelas saja tak mengerti. Pertanggungjawaban semacam apa yang dia maksudkan?


Kesiur kasar embusan napasnya terdengar kemudian.


Om Krisna duduk mengisi sofa tunggal di samping istrinya. Tatapnya tegak menyorot wajah naasku saat ini. “Jika anak itu tidak ada niatan baik atau melarikan diri, maka hukum yang akan bertindak. Tapi jika dia beretikad baik untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, misalnya meminta maaf dengan tulus juga ... mau menikahi kamu, Om akan beri kesempatan.”


Jantungku berdebam mengacau diri. Sepasang mataku seolah memaksa untuk terlepas.


“Menikahi aku kata Om?” Aku bertanya tak percaya.


Kata itu seperti tombak yang merajamku tanpa ampunan.

__ADS_1


“Kenapa harus, Om?” Derai basah mengaliri pipiku.


“Lalu apa yang bisa menyelamatkan kehormatan kamu selanjutnya, Nak?!” tanya balik Om Krisna. “Jika dia menikahi kamu, setidaknya bisa menjaga konsumsi publik nantinya. Setelah dua temanmu yang semalam mengetahui, Om yakin, cepat atau lambat, berita tak senonoh ini akan menyebar seperti yang Chelsea katakan semalam, bahwa kamu seorang wanita yang tidak benar!”


“Dan nama baik keluarga Om akan rusak!” tambahku cepat dalam isakan. Om Krisna langsung terpekur. Tak ada sangkalan dalam matanya. “Aku ngerti. Aku permisi, Om.”


Baru tubuhku terangkat dari kursi, Tante Maria menarik tanganku dengan wajah mendongak memasang raut terluka. “Tolong jangan merasa tertekan, Sayang. Kita akan usahakan jalan keluar terbaik untuk masalah ini, apa pun itu.”


Sejenak aku menatapnya, sama-sama terluka. “Aku tahu itu, Tante. Makasih, aku permisi.”


Aku berlalu segera tanpa ingin menoleh lagi. Menaiki tangga dengan langkah cepat menuju kamarku.


Di tujuan, pintu kukunci cepat, lalu menelungkupkan diri di atas kasur, melanjutkan tangisku.


Menikah? Dengan Algi?


Bagaimana mungkin?


Om Krisna pasti bercanda. Aku bahkan belum tahu siapa lelaki yang datang setelah Algi keluar. Apakah itu benar Algi kembali, atau orang lain. Aku tak bisa membedakan dalam keadaan setengah sadar seperti itu.


Bagaimana dengan Zhio?


Apakah Om Krisna melupakan kalau Zhio adalah pacarku--lelaki yang sangat kucintai?


Seketika aku menjadi cemas. Apakah setelah Zhio tahu masalah ini, dia akan meninggalkan aku?


Tuhan ... tolong aku.


Aku bangkit seraya menyapu basahan di pipi sekilas saja. Meraih ponselku di atas nakas lalu mencari kontak nama Zhio yang kutempatkan di speed dials angka satu. Aku sangat ingin mendengar suaranya.


Setelah berhasil melawan sedikit keraguan, tanpa memanjangkan pikir, kutekan nama pacarku itu di dalam ponsel--menghubunginya.


Dalam hitungan bunyi keempat, suara yang kurindukan itu akhirnya terdengar.


“Zhio.” Aku memanggilnya langsung saja. Suara serakku benar-benar tak bisa dinetralisir sedikit pun.

__ADS_1


Di seberang sana, Zhio langsung menyerang cemas. Ada apa dengan aku? Kenapa aku menangis, apa ada yang menyakiti aku, dan cecaran lainnya. Tanpa dia sadari, rentetan tanyanya justru membuatku semakin mengisak tangis.


“Zhi ... aku kangen kamu. Kamu di mana? Kenapa gak ada kabarin aku?” Aku balik mencecar, tentu dengan suara serak menyedihkan.


Tanggapan berbalikku dibalas Zhio dengan jawaban disertai embusan napas kasar. Dia mengatakan kalau saat ini dia sedang berduka. Neneknya baru saja meninggal dunia di Surabaya. Dia meminta maaf padaku karena tak sempat mengabari saking terguncang, juga tak pamit saat keberangkatannya yang mendadak tadi malam ke kota itu.


Jawaban itu membuatku terjerembab sekaligus. Bagaimana aku akan bercerita tentang kejadian itu, sementara dia sedang berduka. Aku jelas akan menambah tumpukan bebannya.


“Aku turut berduka, Zhi. Aku minta maaf, aku gak tahu.” Pada akhirnya hanya itu yang mampu kulontarkan.


Zhio menenangkanku dengan kalimat lembut disertai maaf ke sekian kalinya. Dia bahkan terdengar sangat menyesal karena tak menemani aku dari kemarin.


Saat dia bertanya apa yang membuatku menangis, aku hanya menjawabnya dengan kalimat, “Gak apa-apa. Aku cuma kangen kamu. Gak ada kabar dari kamu sehari aja, aku berasa gila.”


Rentetan alasanku membuatnya terkekeh, walaupun terdengar sedikit masam. Dia mengatakan, dia sangat bahagia dan bangga dengan kalimatku yang membuatnya jadi semakin merindukanku.


Dari percakapan ini, aku justru semakin merasa terjebak dalam dilema. Lelaki sebaik dan setulus Zhio, apakah pantas bersama denganku yang sekarang sudah kacau seperti ini?


Tubuhku disentuh lelaki lain yang bahkan tak bisa kupastikan siapa dia.


Dari saat ini aku menyesali dengan sangat, kenapa saat di kedai itu tak kuserahkan saja diriku pada Zhio. Mungkin dengan begitu saat ini aku hanya akan memaksa dia mempertanggungjawabkan semuanya. Walaupun aku dikoyak lagi lelaki lain seperti ini, setidaknya keperawananku dia yang merenggut lebih dulu.


Tapi sekarang? Apa yang akan aku paksakan pada Zhio?


Aku sudah kotor. Tubuhku digerayangi lelaki lain yang tak kuberikan rasa sama sekali, selain pengaruh paksa dari obat sialan itu.


Zhio ... apakah dia akan meninggalkan aku?


Membayangkannya saja hatiku sudah merasa remuk.


Lalu bagaimana jika Zhio benar-benar melepaskan diri dari janjinya? Janji yang justru aku sendiri yang mendorong lelaki itu untuk mengingkari.


Aku benar-benar merasa hancur.


Menikahi Algi seperti yang dikatakan Om Krisna, aku tidak mau. Aku tidak mencintainya!

__ADS_1


Meski terbukti sekali pun bahwa dia yang telah menjamah diriku malam kemarin. Aku lebih baik tenggelam dalam kepedihanku sendiri.


__ADS_2