Mutiara Retak

Mutiara Retak
Pertanggungjawaban


__ADS_3

“Siapa, Ra?”


Jancent tiba-tiba muncul di belakangku. Dia menyusul membawa [mungkin] sedikit rasa penasarannya, akan siapa yang datang ke rumahku.


Yang paling kulihat memasang wajah tersentak adalah Chelsea.


Tentu saja. Sepasang mata bulatnya bahkan turut melebar.


“Jancet ...,” dia bergumam. “Ka-kamu ... kenapa di sini?” tanya gagapnya diserang kejutan yang sudah pasti sangat berhasil membuat jiwanya nyaris meledak.


Jancent merapatkan diri berdiri di sampingku tepat di ambang pintu. Semua orang kini menatap kami dengan wajah dibalut tanya. “Aku hanya berkunjung," jawab cowok itu disertai senyuman yang seperti biasa kelewat santai. Padahal baru beberapa saat lalu dia mengiba di depanku dengan sendu wajah penuh rasa bersalah. Benar-benar aktor! “Kebetulan aku ada hutang sama Tiara. Aku ke sini mau bayar.”


Semua tentu terkejut dengan jawaban itu, termasuk aku sendiri.


“Karena itu kamu tadi pagi mohon-mohon minta alamat Tiara sama Om ke kantor?” tanya Om Krisna dengan tatap memicing.


Jancent mengangguk mengiyakan. Sementara aku malah terkejut.


“Kalau boleh tahu, hutang jenis apa itu, Jancent?” lanjut Om Krisna ingin tahu.


“Aku gak sengaja pernah rusakin barangnya Tiara, waktu kunjungan ke kampusnya, Om. Ya ... aku ngerasa berdosa aja. Pas aku mau ganti, ternyata Tiara gak ada di rumah Om. Jadilah aku maksain ke sini.”


Tak lagi berlanjut. Jawaban Jancent sepertinya cukup bisa diterima semua orang, kecuali Chelsea.


Cewek itu menatap ke wajahku dan juga Jancent bergiliran. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Aku tahu betul, gambaran ekspresi penuh rasa ingin tahu berlebih tercetak kuat di wajahnya.


“Ahh, semuanya maaf. Silakan masuk.” Pengalihkanku memecah situasi.

__ADS_1


Om Krisna menatapku sedingin es. Tak bisa kutebak apa yang di ada di kepalanya saat ini. Tapi dengan adanya Algi, Alna, beserta dua orang yang ada di belakang mereka yang tebakan sementaraku, dua orang tua itu adalah orang tua si kembar, aku yakin, kedatangannya tak jauh untuk membahas tentang kata ‘pertanggungjawaban’ akan kejadian hari itu.


Tapi dengan adanya Jancent di sisiku, aku sedikit tenang. Aku merasa punya kekuatan untuk membela dan melepaskan diri dari Algi. Itu pun jika cowok itu benar-benar mau melakukannya untukku.


Semua orang berbondong masuk ke dalam rumahku yang tak terlalu besar ini. Seluruh sofa terisi penuh. Sempat sesaat tadi aku berpelukan dengan Alna, melepaskan sedikit kerinduan masa SMA.


Jancent tersenyum melihat ke arah si kembar. Tapi sudah tentu dua kakak adik itu tak akan mengenali sosoknya yang terang saja tak sedang dalam mode Zhio. Satu kursi pasangan meja makan yang diambil dari dapur, didudukinya, karena sofa-sofa ruang tamuku tak cukup memberinya ruang.


Aku dibantu Alna sibuk menyiapkan minum. Beruntung pintu dapur belakangku dekat terhubung dengan pintu dapur Bu Saida. Bisa kupinjam satu botol sirup dari kulkasnya lengkap dengan air dingin untuk menyeduh. Karena kulkas di dapurku masih kosong, belum sempat kuisi apa pun termasuk air mineral.


Bu Saida nampak masih sibuk dengan urusan ikat mengikat sayur-sayurannya di belakang. Dia bilang terlalu malu untuk menghadap tamu-tamuku yang terang saja tak ia kenal. Aku memaklumi untuk itu.


Satu gelas terakhir kuletakkan tepat di depan Algi. Seulas senyum dilemparkan cowok itu ke wajahku seraya berterima kasih. Aku menanggapi dengan anggukan.


Jika hatiku boleh dibongkar, aku mulai tak nyaman. Melihat wajah Algi, bayangan tentang malam itu sudah menyesaki pikiranku sedari tadi. Bayangan bagaimana dia melempar baju-bajunya hingga mengungkungku di atas ranjang hotel disertai kata-kata nakal penuh ga.irah, sungguh membuatku ingin tenggelam saja.


Om Krisna mulai buka suara, “Tiara ...," panggilnya selirih angin. Sehembus napas kasar terdengar sesaat dari mulutnya. “Kedatangan Om ke sini, bukan berniat buat mengganggu kamu. Tapi ... dari gosip yang kepalang sudah beredar luas di Jakarta, Om terpaksa melakukan ini.”


Jantungku sudah berderu.


Belum genap 24 jam aku sampai di kota ini, benarkah suasana di Jakarta sudah segempar itu?


Siapa yang menyebar berita begitu cepat?!


“Algi sudah mengakui perbuatannya,” lanjut Om Krisna. “Dia mau bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan sama kamu. Jadi kita tidak perlu repot melibatkan jalur hukum sebagai penyelesaian.”


Aku melengak. “Tapi, Om--”

__ADS_1


“Gak usah mangkir, Tiara! Gara-gara lo nama baik keluarga gue terutama Papa, jadi korban hujatan seluruh Jakarta!" Chelsea membentak keras. “Lo nikah sama Algi! Trus kita bikin konferensi pers buat nutup mulut sampah netizen!”


“Bener, Ra. Demi nama baik lu juga keluarga Om Krisna, gua siap nikahin lu!” Algi menambahkan. “Gua minta maaf atas perbuatan gak senonoh gua sama lo. Gua nyesel.”


Di tengah deru dentam perasaan kacau, aku menoleh Jancent. Dia masih diam. Tapi aku tahu, dalam tatapan matanya yang sedingin salju, tersirat kemarahan yang mungkin hanya aku yang menyadari.


“Nak Tiara, kami--orang tua Algi, datang ke sini, ingin meminta maaf atas perbuatan putra kami--Algi, sekaligus melamar Nak Tiara untuk memanjangkan silaturahmi sebagai keluarga nantinya.”


Kalimat bapak paruh baya itu semakin membuat hatiku terpental. Apa katanya tadi? Melamar?


Lagi-lagi aku menoleh Jancent. Hatiku meronta memohon pertolongannya. Ini saatnya dia turun dalam perannya sebagai orang yang mencintai aku. Bukankah begitu?


Tante Maria mengusap punggungku dari belakang, menenangkan.


“Tiara, Om mohon. Sekali ini saja Om minta agar kamu jangan mempersulit kami. Jalan bisnis perusahaan Om akan terganggu dengan gosip kotor yang sudah terlanjur beredar. Om yakin, ayah kamu juga tidak akan keberatan dengan keputusan ini di alam sana. Algi dan keluarganya sudah beretikad baik untuk bertanggung jawab.”


Wajahku lurus memandang Om Krisna. Mendengar kata ‘ayah’, perasaanku terasa semakin menyakitkan. Titik-titik air mataku luruh berjatuhan. Aku harus apa?


Om Krisna, pria yang selama ini begitu baik padaku itu nampak memelas. Aku tahu dia dalam kesulitan karena hujatan masa di Jakarta sana. Pengusaha sukses terpandang, namun memiliki keponakan seorang la.cur. Mungkin begitu yang ramai di media saat ini.


Aku merunduk resah. Sepuluh jari tanganku saling me.remas beraduk keringat dingin.


“Ayolah, Tiara. Apa lo gak seneng bakal jadi saudaraan sama gue?” Alna menyerukan dukungannya.


“Sekali pun lo gak setuju, pernikahan itu bakal tetep terjadi!” Chelsea menambah keras. “Lu udah ancurin martabat baik keluarga gu--”


“GAK ADA SATU ORANG PUN DI SINI YANG BISA MAKSA TIARA!”

__ADS_1


__ADS_2