Mutiara Retak

Mutiara Retak
Hujan Angin Dan Kedai Bambu.


__ADS_3

Sambil tersenyum-senyum, aku terus memainkan bandul kalung pemberian Zhio, seolah bayangan Ayah terus bermain di sana. Duduk berselonjor kaki di sofa yang sama. Minuman jeruk di atas meja hanya tinggal seperempat gelas saja. Sementara Zhio pamit sebentar untuk membersihkan diri dan berganti baju. Setelah itu, baru dia akan mengantarku pulang.


Hanya sekitar lima belas menit saja, langkah kaki Zhio kudengar terhentak mendekat ke arahku lagi. Rupanya dia sudah selesai dengan ritualnya yang cukup singkat. Lelaki memang seperti itu--asumsiku--mungkin.


“Ayo, pulang!” ajaknya seraya memasang jam tangan yang ia lepas sebelum mandi beberapa saat lalu. “Di luar udah mendung. Takutnya keburu ujan. Aku 'kan lagi gak ada mobil,” lanjutnya dengan kepala menoleh ke jendela yang tirainya tersibak di sudut dekat piano.


Aku mengikuti arah pandangnya. Dan benar, di luar tak lagi seterang tadi.


“Okay," balas ringanku. Kuterima uluran tangannya untuk berdiri lalu melepasnya lagi. Sesaat kurapikan rambut yang sedikit teracak karna sandaran di atas lengan kursi. Zhio membantuku menyelipkan helaian yang terjuntai di depan wajah ke balik telinga. Aku menyambutnya dengan senyuman.


Kami mulai berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan bagian dalam rumah yang cukup menenangkan bagiku sebenarnya. Tapi apalagi, aku tak bisa tinggal terlalu lama hanya demi sebuah ego. Tante Maria akan sangat cemas jika aku pulang terlalu lambat.


Aku berdiri di ujung teras menunggu Zhio mengunci pintu. Menatap sekilas langit dengan awan hitam berarak tertiup angin.


“Ayo!” Telapak tanganku gegas digamit Zhio, lalu melangkah bersama menuju vespa yang sudah menunggu di dekat pagar.


Dua helm sudah terpasang masing-masing di kepala kami. Motor dilajukan Zhio dengan aku yang sudah apik memeluknya dari belakang.


Jalanan di sekitar daerah tempat tinggal Zhio terlihat sangat sepi. Tidak banyak rumah berjejer, selain beberapa yang sepertinya sepi penghuni, atau mereka memang tak pernah keluar rumah.


Angin kencang menerjang berlawanan dari arah depan. Zhio menambah laju vespa, berharap bisa menghindar dari situasi. Pohon-pohon di tepian jalan terlihat limbung bergoyang-goyang disiksa kekuatan angin yang cukup menggidikan. Aku merekatkan pelukan di pinggang Zhio terserang takut.


Benar saja, tak lama setelah itu, hujan deras turun mengguyur tanpa kompromi. Melebar membasahi seluruh wilayah itu hanya dalam hitungan detik.


Zhio kelabakan membawa motornya hingga terasa seperti melayang-layang tak tentu arah. “Kita harus neduh dulu!” teriaknya seraya menoleh kiri dan kanan--mencari tempat.

__ADS_1


“Iya! Aku juga takut!” balasku sama teriak.


Sebuah kedai bambu tunggal tanpa tetangga di tepi jalan dipilih Zhio pada akhirnya. Aku turun cepat mendahului, di saat dia sibuk memarkirkan vespa di tanah yang sedikit menjorok ke dalam, agar tak mengganggu pengguna lain jika ada yang melintas jalan nantinya.


Seraya memeluk tubuhku sendiri, aku celingukan mengamati bagian kedai. Entah ini sudah tutup, atau memang tak lagi digunakan pemiliknya, terlihat seperti lama terbengkalai. Pintunya terbuka tak cukup lebar. Aku sedikit ngeri menatap celah di dalamnya yang terlihat gelap.


“Ada apa? Kok gidikan gitu?” tanya Zhio seraya mendekatiku. Bomber yang dipakainya terlanjur basah. Dia melepas lalu meletakannya sembarang di atas bangku panjang di belakang kami.


“Warungnya serem. Udah gak dipake ya?” jawab sekaligus tanyaku seraya memandang ke arah celah pintu warung yang gelap itu.


Zhio menoleh ke belakang dengan tubuh ikut berputar mengarah ke sana kemudian.


Bukannya menjawabku, cowok itu malah mendekat ke arah pintu. Tanpa berpikir atau bertindak pelan-pelan, dia mendorong pintu itu hingga sibakannya kini semakin lebar. Wajahnya dibuat melongok ke dalam berpegangan pada kusen yang mulai rapuh mengelupas.


“Gak ada apa-apa. Apanya yang serem?” kicaunya kembali menegakkan tubuh. Aku digandengnya untuk melihat apa yang baru dia lihat di dalam sana.


Tapi ya ... Zhio benar. Tak ada apa pun di dalam sana. Hanya Sebuah bale kayu dengan alas karpet spon bercorak polkadot yang mulai kusam, tersandar mepet di sudut ruang.


Zhio tersenyum mengasak gemas pucuk kepalaku. “Penakut banget sih!”


Aku mencebik, “Ya abisnya gelap begitu!”


•••••


Berlalu hingga berpuluh menit lamanya. Duduk berdampingan rekat di bangku panjang beranda kedai terbengkalai yang kami singgahi ini, aku dan Zhio masih menunggu hujan mereda. Tapi tak ada pertanda apa pun untuk hal demikian. Keadaan malah bertambah semakin mengerikan. Deras kucuran air dari langit menampar jalanan penuh tenaga. Pohon-pohon tertekan angin serasi satu arah seolah akan tumbang. Jangankan untuk melanjutkan perjalanan, kembali ke rumah Zhio yang tak terlalu jauh saja tak ada celah. Kami benar-benar terjebak.

__ADS_1


Suasana semakin gelap seolah telah menjejak malam. Namun perputaran jarum waktu di jam yang melingkari pergelangan tangan Zhio, saat ini baru menunjukan pukul 16.12. Tapi tetap saja aku tak bisa menghindari cemas. Sementara untuk membuka ponsel walau sesaat pun, kami tak berani. Kilat terus berkeredap redup dan terang di atas langit, yang sesekali juga dilatari petir-petir kecil yang menambah udara semakin suram menakutkan.


DUAAAARRR!!


Petir besar yang baru saja terdengar membuatku secara spontan memeluk Zhio. Menyusupkan kepala di dadanya dengan tubuh gemetar takut bercampur dingin. Zhio menyambutnya dengan dekap tangan melingkar erat. Tak kata yang terucap dari mulutnya. Aku yakin dia juga sama cemas dan takutnya dengan aku.


“Yang ... kita masuk ke dalam aja. Di sini kita bisa beneran basah. Angin sama ujannya gede banget.” Zhio membuka pilihan.


Aku mengangguk cepat-cepat tanpa berpikir lagi.


Gegas bangkit mengambil sikap, kami masuk ke dalam kedai lalu menutup pintunya rapat-rapat.


Zhio merogoh ponsel di saku celananya. Flash light digunakannya lalu untuk memberi penerangan. Sehelai kain lusuh yang terkait di gantungan paku suatu sisi, digamit lalu digunakannya untuk membersihkan debu yang melapisi karpet spon di atas bale kayu di depan kami.


“Bersih,” katanya. Lap dilemparnya kemudian ke sembarang arah. Aku lalu digandengnya untuk duduk di bale itu setelahnya.


Kami duduk saling berpeluk, untuk setidaknya menghalau dingin yang semakin menyengat saja.


Aku terus menguap berulang banyaknya hingga berair bola mataku. Benar-benar mengantuk. Suhu tubuh Zhio cukup membuatku nyaman. Dan ....


“Hoaaammm.” Keadaan serasa semakin menggelap, aku ....


....


Mengucek mata yang terasa sepat, aku terbangun. Entah berapa lama aku tertidur. Sedikit terperanjat mengingat waktu. Namun baru hendak kuangkat kepala, Zhio menahan pipiku dengan telapak tangan, yang secara spontan tindakannya membuat wajah dan mata kami saling hadap bertatap dalam.

__ADS_1


“Nyenyak banget bobonya.” Dia berkata lembut di telinga.


Seperti diusap sebuah sihir, aku malah terpaku dalam tatapan Zhio yang berbeda. Dia melepas kacamatanya. Dan ini terasa aneh mengusik perasaanku.


__ADS_2