
“Mami Papi mau aku pindah kuliah ke London.” Satu alasan terlontar dari mulut Nandan. Terdengar lemah dan sangat berat. “Awalnya aku nolak karena aku jelas mau di sini. Tapi ancaman Papi bikin aku gak bisa berontak lagi.” Ia menurunkan kepalanya untuk merunduk. Aku masih berusaha mendengarkan sekuat hati.
Setelah cukup kerongkongan sesaknya kembali terisi udara, Nandan melanjutkan penjelasannya.
Nandi Gunawan--papi Nandan, mencetuskan ultimatum yang membuat putra semata wayangnya itu terkunci dalam aturan yang dimainkannya. Pria paruh baya tersebut mengancam akan menggusur paksa rumah singgah yang didirikan susah payah oleh Nandan dan menggantinya dengan ruko-ruko yang lebih menghasilkan keuntungan baginya.
Rumah singgah itu adalah impian Nandan, aku tahu itu. Dan cowok itu tak bisa berbuat apa pun selain mengikuti 'sang aturan'.
“Trus kita gimana?” tanyaku bergetar, kembali menguatkan hati. “Apa kita bener-bener harus pisah?”
Nandan tercenung menatapku. Bulir bening matanya menyapu wajahku dengan raut hancur. Dengan nada lirih dan lemah, ia kemudian berkata, “Maafin aku, Mut. Sekarang aku mau jujur sama kamu.” Sejenak terdiam untuk mengambil napas, lalu meneruskan, “Selain rumah singgah itu ... Papi juga gak suka sama hubungan kita. Dia gak menghendaki kita bersama, Mut.”
Hatiku terbakar.
Jujur saja, aku baru mengetahui kenyataan itu sekarang. Setelah lebih dari dua tahun lamanya kami berjalan, selama itu pula Nandan menyembunyikan. Pantas saja, sepanjang perjalanan ini, dia tidak pernah mengulang membawaku ke rumahnya setelah hari itu--di awal kami berpacaran. Dia pasti berdebat dengan kedua orang tuanya karena aku.
Aku bangkit dari dudukku. Kususun langkah mundur dengan gerak kaku. Telapak tanganku masih kuat menempel di bibir. Air mataku tak henti mengalir seolah mengolok ketegaranku.
Nandan baru saja mengungkapkan semuanya.
Aku yang menuntut, tapi pada akhirnya aku juga yang hancur.
Nandan akan pergi ke luar negeri. Dia akan meninggalkanku. Dia tidak akan kembali untuk tinggal di sini lagi. Dia akan melupakan aku. Dia akan ....
Tidak!
Aku bahkan tak sanggup membayangkannya.
“Mut.” Sepasang kakinya melangkah mendekat perlahan ke arahku. Sedang aku terus mundur untuk menghindar. Aku tak ingin disentuhnya.
Rasa sakit di hatiku mengalahkan tusukan udara malam yang menyengat menembus pori-pori.
Sebelum ia meraihku, aku berbalik dan berlari secepat mungkin. Menerobos hujan deras yang butirannya bahkan terasa seperti kepalan batu. Nandan mengejar seraya terus memanggil namaku. Tapi aku tak peduli. Aku benar-benar tak ingin melihatnya, terlalu sakit rasanya.
“Mutiara!” teriaknya ke sekian kali.
__ADS_1
Beberapa pasang mata mungkin tengah terheran menatap kami. Aku menyadari mereka berdiam di beberapa titik--mungkin untuk berteduh. Tapi aku bahkan tak bisa menepis dan menghalau perasaan serta tindakku untuk menguatkan urat maluku sebagai manusia. Aku benar-benar tak ingin peduli pada apa pun.
Sayangnya, pada akhirnya aku kalah jua. Nandan berhasil meraih tubuhku yang lalu dipeluknya erat dari belakang. Dia menangis---tangisan dengan tubuh berguncang hingga menular ke tubuhku.
“Aku mohon maafin aku, Muti,” ucapnya lagi-lagi. “Aku sama sekali gak mau kita pisah. Aku sayang kamu dan kamu tahu itu!” Kepalanya terbenam berat di pundakku. “Ini adalah keputusan terberat dalam hidup aku,” lanjutnya melemah.
Aku hanya bisa menangis tanpa memberi komentar sedikit pun. Tangisan bercampur hujan yang mungkin siapa pun tak akan bisa membedakan airnya. Tubuhku terasa lemah. Tak mampu walau sekedar untuk meronta.
Baiklah, akan kubiarkan Nandan memelukku--semaunya. Pelukan paling menyakitkan sepanjang hidupku--pelukan terakhir kali. Setidaknya sampai ia puas, dan bisa melupakanku di kemudian hari.
“Aku mau pulang.”
****
Rasa manis gula bisa jadi racun, saat dituangkan dalam takar yang berlebihan. Dan itu aku.
Aku sedikit menyesali itu.
Motor Nandan baru saja berlalu setelah mengantarku pulang. Aku mengusirnya saat dia terus diam di halaman tanpa bergerak. Semakin lama dia di depanku, semakin sakit hatiku menatapnya. Dia mengalah dengan keinginanku pada akhirnya dan berlalu dengan wajah kacau.
Bisa kubayangkan wajah cemas Ayah saat melihat tampilan mengenaskan putri kesayangannya ini nanti. Sejuta pertanyaan sudah pasti mencecarku dalam kekhawatirannya.
Pada akhirnya aku memilih duduk dengan kepala tersandar pilar tinggi rumah seraya memeluk lututku yang gemetar karena kedinginan.
Air mataku kembali turun tetes demi tetes hingga menganak sungai. Bayangan perangai Nandan terus mengganggu. Wajah teduh yang selalu menenangkan itu, kini terasa menjadi pisau yang menyayat hatiku hingga berdarah-darah.
Aku tak rela, rantai panjang kenangan selama hampir tiga tahun ini, harus terputus hanya karena jarak yang bahkan baru hanya sebentuk rencana. Apakah tidak bisa ia berjuang sekali lagi?
Tangis keparat ini menuntunku sesenggukan. Pundakku kembali berguncang dalam perasaan yang kacau dan tak tahu harus apa.
“Mutia! Kamu pulang, Nak?!”
Aku tersentak pun terperanjat. Kenapa pintu itu tak bersuara saat terbuka? Aku menggeram kesal dalam hati. Cepat kuseka pipiku yang basah dibanjiri air mata sialan ini, agar Ayah tak menyadari betapa hancurnya aku saat ini.
“Kamu kenapa, Sayang?!” tanya cemasnya seraya menggamit daguku untuk ia hadapkan ke arahnya.
__ADS_1
Jelas sudah penampakan wajah kacauku ini.
Aku menepis pelan tangannya lalu membuang pandang ke lain arah. “Muti gak apa-apa kok, Yah,” kilahku menyembunyikan.
Tapi bukan Ayah jika tak menyadari. “Pembohong yang payah!" geramnya. Dipegangnya kedua bahuku, lalu menuntunku untuk berdiri. “Jelasin sekarang juga sama Ayah! Kamu abis dari mana? Trus kenapa pulang tiba-tiba berantakan begini?!”
Aku tak bisa menahan tangisku lagi. Kutenggelamkan kepala di dada bidang Ayah yang selalu terasa nyaman kusandari.
“Nandan, Yah ... Nandan!” Aku mulai mengadu dalam raungan. “Nandan putusin aku cuma karena mau pindah ke luar negeri.” Aku tak pernah bisa berbohong pada siapa pun, terlebih orang itu adalah Ayah.
Tak kudengar satu kata pun dari mulut pria kesayanganku ini. Namun telapak tangannya masih sibuk mengelus kepala dan punggungku penuh kelembutan.
Tak ingin kulihat ekspresinya saat ini. Aku terlalu takut.
“Kamu tunggu di sini,” kata Ayah kemudian. Dia sudah melepaskan pelukan kami beberapa saat setelahnya.
“Ayah mau kemana?” tanyaku seraya mengikuti geraknya. Ia berjalan ke satu arah. Kulihat tangannya menggamit jas hujan yang tergantung di pojokan dinding teras, lalu mengenakannya terburu-buru. “Yah! Ayah mau apa?” ulangku mulai cemas.
“Ayah mau buat perhitungan.” Wajah tegasnya mulai berubah kelam. Kali ini ia masuk ke dalam rumah.
Suara gemerincing kunci motor yang dibanduli rantai kecil, terdengar setelah ia mencapai ambang pintu. Ayah mulai berjalan ke depan halaman. Helmet sudah dikenakannya setelah menarik kasar sandal jepit di tepi teras yang kemudian melengkapi sepasang kakinya.
“Ayah! Gak usah, Yah!” Aku menarik tangannya yang hendak menstarter motor, berusaha menghentikan. “Aku udah bilang sama dia, aku nerima!”
“Apanya yang nerima?!” hardik keras Ayah. Sementara hujan sudah turun kembali, mengguyur apa pun yang tak tersembunyi di bawahnya. “Kamu nangis udah kayak kehilangan kaki, mana bisa dibilang baik-baik aja! Pokoknya Ayah akan bikin perhitungan sama Nandan!”
Suara mesin motor mulai mengudara. Ayah benar-benar marah kali ini.
“Yaaah ... tapi semua bukan murni kesalahan Nandan.”
Sayangnya, ungkapanku tak lagi didengarnya. Ia telah menghilang dari pandangku bersama motor kesayangannya.
Aku melumbrukan diri di atas hamparan tebal rumput jepang di halaman rumah. Aku rapuh, tanpa bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1