
Pantai Ancol, aku sudah beberapa kali ke tempat wisata ini, entah itu bersama Almarhum Ayah, wisata sekolah saat di Bandung, atau lainnya. Tapi sekarang berbeda, tidak dengan semuanya. Aku di sini hanya berdua saja, bersama Zhio si culun.
Bergandengan tangan menikmati suasana indah sore, meskipun Jakarta selalu panas tak kenal ampun setiap detiknya.
Di atas bebatuan pantai, kami berdiri menghadap lautan.
Aku masih menikmati simponi ini. Tenggelam dalam merdunya deburan ombak.
Sampai ....
“Tiara ... jadilah pacarku!”
Senyumku berangsur datar, berubah tegun.
Wajahku masih lurus menghadap lautan, sedang pikirku mengembara berputar-putar--berusaha mencerna kalimat apa yang baru saja diucapkan Zhio.
“Aku serius, Tiara!” Dia menegaskan.
Kini wajahku tergoda untuk menolehnya sedikit naik, karena tubuh kami yang tak setara tinggi. Zhio lumayan jangkung. Tinggiku hanya sebatas dadanya.
“Maksud kamu?” tanyaku memastikan apakah dia sedang bercanda atau tidak.
Zhio menarik senyuman. Satu hentak gerak membuat tubuhnya kini menghadapku. Kedua bahuku diraihnya untuk membuat kami saling berhadapan. Sepasang tangannya ia turunkan, berganti mengambil kedua tanganku yang lantas digenggamnya.
Perasaanku mulai bertalu. Aku menatap mendongak wajah dengan tenggeran kacamata besar itu penuh resah.
Sedekat ini, membuatku mendadak mati beku. Jika diperhatikan, Zhio ini sangatlah manis. Bahkan tahi lalat besar dengan sedikit bulu-bulu halus itu seolah memperindah mahakarya Tuhan yang dihadiahkan untuknya.
“Aku tahu ini pasti ngejutin kamu, Tiara. Tapi aku serius. Aku beneran suka sama kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku.”
Aku menggilir tatap di antara kedua mata Zhio. Mencari setitik saja kebohongan di dalam siratnya. Tapi aku tak menemukan itu. Yang aku lihat justru sebaliknya. Sekilat kesungguhan yang bahkan sulit untuk digoyah. “A-aku ....”
Belum habis mulut gaguku berkata, ia sudah membuat mataku terbelalak. Kecupan dalam menyentuh sepasang punggung tanganku yang merapat usai tarikannya. Aku bahkan bisa melihat bulu-bulu lentik yang membingkai kedua matanya begitu sempurna saat terpejam di depan wajahku.
__ADS_1
Zhio melepaskan kecupan tanganku kemudian.
“Aku sayang kamu, Ra. Terima aku, ya?” Begitu halus suara itu menyusup hingga ke hati. Bening mata di balik kacamata Zhio membuatku terjebak beku. “Aku tahu aku gak sesempurna Algi atau mungkin banyak cowok yang udah deketin kamu. Aku jelek. Tapi aku punya ketulusan luas yang pasti nggak dimiliki mereka. Aku bisa pastikan itu, Ra. Aku bisa bahagiain kamu. Aku bisa kasih apa pun yang kamu mau dan kamu butuhkan, asalkan kamu percaya sama aku.”
Jantungku serasa dihentak berulang kali--berdebar-debar.
Kalimat manis itu juga pernah kudengar dari mulut Nandan, dan aku tertipu pada akhirnya.
Lalu bagaimana bisa aku percaya begitu saja pada sosok lain di depanku ini?
“Jangan samakan aku sama mantan yang pernah kamu ceritain sama aku itu! Aku berbeda, Tiara!” Zhio menyerobot seolah bisa membaca isi pikirku. “Meskipun kata orang aku culun dan jelek, tapi jiwaku masih ksatria. Aku gak akan nyerah sama cintaku hanya karena tarikan orang tua atau lainnya. Aku punya kendaliku sendiri. Aku bukan mainan siapa pun!”
Tuhan ....
Pasang mataku melebar menyikapi untaian kalimat yang terlontar tegas dari mulut cowok itu.
Bagaimana bisa aku berontak?
Zhio begitu mendominasi.
Siap untuk kecewa kedua kali dan ke sekian lagi saat lagi-lagi aku mencoba membuka hati?
Aku mengamati setiap kisah cinta yang tentu saja bermula dari kisahku sendiri, lalu bercermin dari patah hati Karin dan pengkhiatan pacarnya Alna. Semua kisah cinta itu akan ada resiko kekecewaan. Aku menyimpulkan itu adalah nyata adanya dan menjadi kengerian tersendiri yang sulit ditepis oleh hatiku sendiri. Entah apa pun itu alasannya.
Apakah aku begitu pecundang hanya karena kecewa sekali oleh seorang Nandan?
“Apa kamu serius sama ucapan kamu, Zhio?” Aku ingin memastikan sekali lagi.
Pertanyaanku membuat cowok itu tersenyum.
“Apakah pertanyaan itu merupakan sebuah kesempatan?” Ia malah balik bertanya diiringi tatapan menuntut secara halus.
Aku bingung bagaimana menanggapi. Namun di sepersekian detik kemudian, akhirnya mulutku berani buka suara, “Asal kamu bukan pembual, aku bisa aja kasih kesempatan!”
__ADS_1
“Hahaha!” Zhio tergelak. Lalu tanpa kuduga, cowok itu malah menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Mengasak dan mengecupi kepalaku kesenangan.
Aku terkejut dengan itu tentu saja.
“Aku bisa pastikan itu, Tiara! Aku janji sama kamu, aku bakal buktiin kalo aku bukan pembual!” Pelukannya kian ia rekatkan.
Aku masih dalam keadaan bingung. Entah aku ini benar-benar akan menerima dia atau tidak.
Sampai Zhio kembali menekankan apa yang dia janjikan.
Ditatapnya wajahku lekat-lekat. Kedua telapak tangannya menempel di pipi kiri dan kananku, membuat tatapan kami begitu intens dan sangat dekat.
“Aku pasti bahagian kamu dari segala sisi. Aku akan jaga kamu seperti aku jaga nyawaku sendiri. Aku gak boong, Tiara. Aku cinta mati sama kamu.”
Waktu membekukanku. Suara Zhio terdengar berat dan melemah, tapi ada kesungguhan yang aku pun tidak bisa mengukur seperti apa kedalamannya. Seisi dadaku rasanya mau meledak. Nandan bahkan tak pernah membuatku seresah ini saat dia menyatakan cintanya dulu. Ada sesuatu dalam diri Zhio yang sama sekali tak bisa kupahami.
“Apa sekarang kita bisa pacaran?”
Disentak ke sekian kali. Tuntutan Zhio membuatku mendadak gagap. Memalingkan wajah membuang rona memalukan yang sama sekali tak ingin dilihat Zhio.
Tapi bukan Zhio namanya jika tak bisa membaca ekspresi dan situasi. Dia kembali memelukku. “Makasih, Tiara. Aku janji, aku akan berusaha jadi yang terbaik buat kamu, juga hubungan kita ke depan dan sampai selamanya.”
Apa dayaku. Wajahku yang tolol jelas ia anggap sebagai jawaban.
Pada akhirnya aku menyerah. Keras batu di hatiku telah hancur hanya karena seorang Zhio--Zhio si culun dengan tompel berbulu halus sedikit jauh di bawah mata.
Walau terasa kaku, sepasang tanganku mulai naik lalu melingkar sempurna di punggung cowok itu. Aku membalas pelukannya. “Aku akan tunggu janji kamu setiap detiknya.”
Kata balasanku mendorong ia melepas separuh pelukan kami. Gerai rambut yang menampar-nampar di pipiku karena diterpa angin, ia rapikan ke balik telinga. Kacamataku ia lepaskan perlahan, mengaitkannya di saku flanel yang ia pakai, lalu mulai menyusun kata demi kata seraya menatap dalam pada mataku, “Percaya, Tiara. Setiap detik napas kamu, akan terisi aku di dalamnya. Cuma aku.”
Satu titik air mata jatuh menggelinding melewati pipi. Aku tak bisa menahan haru. Moment perpisahan dengan teman-teman di sekolahku hari ini, justru menjadi awal perjalanan cintaku dengan Zhio.
Semoga Tuhan memberkahi takdir terbaiknya untuk kami sampai waktu yang tak terhingga.
__ADS_1
“Kalo itu air mata haru karena aku, aku gak akan hapus,” kata Zhio lembut, merdu, dan menyentuh. “Tapi kalo itu air mata lain yang menyakiti kamu, aku gak akan pernah biarin itu. Gak akan! Camkan itu, Tiara!”