
Pesta itu sudah berlalu hampir satu minggu. Dari hari libur usai pesta sampai hari ini, Chelsea tak menunjukkan sikap baiknya sama sekali padaku. Tak sengaja berpapasan di dalam rumah, dia pasti akan membuang wajah. Dia bahkan memperlakukan kedua orang tuanya sedikit ketus. Jelas ini semua gara-gara aku. Meskipun Om Krisna dan Tante Maria bilang itu bukan masalah. Tapi rasaku tak sama seperti mereka.
Gontai kakiku menapak lantai dingin koridor sekolah menuju kelasku. Pikiranku terus melayang pada bayangan ‘pergi saja dari rumah itu’. Tapi aku tak ingin mengecewakan Om Krisna dan Tante Maria yang sudah begitu baik memberi perlakuan.
Biaya sekolahku bahkan sudah dibayarkan lunas sampai akhir kelulusan oleh mereka. Bagaimana aku bisa mengabaikan tentang harga sebuah jasa.
Mengesampingkan ganjalan perasaanku, aku menghampiri Alna yang sudah duduk manis di bangkunya dengan tiupan permen karet yang mengembung hampir menutupi separuh wajahnya yang kecil.
“Aku ledakin ya, Al?!” candaku menggodanya. Sebatang pensil kuambil di atas meja lalu kudekatkan ke balon permen karet di bibirnya.
“Hmm!” Ia menepis tanganku, lalu menyedot kembali permennya ditutup bunyi pletak-pletok setelahnya. “Janganlah, Ra! Tar ketutup semua muka gue!”
Aku terkekeh lalu duduk di tempatku seraya melepas selempang tas dan menaruhnya di atas meja. “Lagian gede banget niupnya.”
Tak lama suara bell tanda masuk berbunyi, disusul suara gemuruh langkah kaki dari berbagai arah.
Gerombolan anak-anak yang sebelumnya masih berada di luar, masuk berdesakan menuju tempat duduk masing-masing.
Gibran tersenyum seraya berdadah kecil ke arahku. Hanya kubalas setipis senyum tanpa minat. Sementara Algi nampak cuek berjalan menuju bangkunya bersama Seto. Dia memaksa aku menjadi pacarnya berkali-kali, dan akhirnya diam setelah aku menolak sebanyak yang dia minta.
Suasana mulai hening, setelah terlihat seorang guru pria berkumis tipis masuk diikuti seorang siswa berseragam sama seperti kami di belakangnya.
“Pagi, Anak-Anak!” sapa keras Guru Bahasa itu. Namanya Pak Daeng. Buku yang tadi di tentengnya ia letakan apik di atas meja, lalu kembali berdiri tegap tepat di depan papan tulis menghadap lurus ke arah kami. Dengan suara lembeknya, Pak Daeng melanjutkan, “Setelah berbulan lalu Mutiara datang menjadi siswi pindahan, hari ini, kita kedatangan lagi murid pindahan baru di kelas kalian!” Mengarahkan wajah pada lelaki yang masih berdiri diam di sampingnya. “Silakan kenalkan diri sama teman-teman baru kamu.”
Cowok itu tersenyum dengan anggukan menyambut kata Pak Daeng. Ia lalu menghadap kami dan mulai memperkenalkan diri. “Hallo, semua. Kenalkan ... aku Zhio, pindahan dari SMA Makassar.”
Yang kemudian kami semua serempak balas menyapa, “HALLO, ZHIO! SELAMAT DATANG!"
“Terima kasih,” balas kembali Zhio.
Beberapa anak seperti biasa mulai berbisik-bisik saling melempar komentar. Sama seperti saat aku datang pertama kali ke kelas ini.
Pak Daeng mempersilakannya duduk. Anak itu mulai celingukan mencari bangku kosong. Tidak ada! Selain satu di sebelahku yang sedari awal tanpa penghuni. Aku menolak Algi dan Gibran yang beberapa kali meminta bangku ini. Dan sekarang, bangku kosong abadi itu akan diduduki Zhio.
“Hay, aku di sini, gak apa-apa, 'kan?” Cowok itu menunjuk bangku di sebelahku, lalu duduk setelah aku menganggukinya kaku.
__ADS_1
Aku menangkap pandangan tak suka Algi di tempatnya. Dia membuang wajah menghindari tatapan sekilasku.
“Dua culun bersatu!” Salah satu anak cowok, sebut saja Joko, nyeletuk keras tiba-tiba, disambut gelak semua anak kemudian.
Aku terhenyak, sesaat saling berpandangan dengan Zhio lalu kembali mengabaikan. Pak Daeng menghardik keras di kursinya. Guru itu mulai siap dengan goresan spidol di papan tulis.
Kekehan olokan masih terdengar di beberapa titik.
Kucuri tatap sesaat pada Zhio yang mulai sibuk mengeluarkan buku dari tasnya.
Dia sama seperti aku--berkacamata besar dan bening. Rambutnya berponi dan dibiarkannya menjuntai menutupi sebagian kening. Sebuah tahi lalat cukup besar menghias bagian kanan bawah matanya. Kerah seragam ia kancingkan seluruhnya. Benar-benar culun!
Konyol, aku malah ikut-ikutan membenarkan seruan Joko.
Kepala kugelengkan, lalu fokus kembali pada pelajaran yang sudah dimulai dari lima menit lalu.
_____
Waktu merambat. Bell istirahat terdengar nyaring. Semua anak berhambur keluar mengisi kebutuhan mereka masing-masing. Aku, seperti biasa, akan selalu diam di tempat duduk tanpa beranjak hingga bell berakhir jam pelajaran. Memasukkan buku bahasa sisa ajaran Pak Daeng ke dalam tas dan menggantinya dengan yang lain, aku mulai sok sibuk dalam bacaan helai demi helai.
Aku menolehnya, lalu menjawab dipulas sedikit senyum, “Nggak. Aku biasa di sini aja.”
Zhio manggut-manggut. “Nih, aku bawa minum.” Botol kemasan berisi air rasa jeruk ia sodorkan ke arahku. “Kamu gak puasa, 'kan?” candanya tersenyum.
“Ouh, ng-nggak, kok. Aku gak puasa juga!” balasku tergagap lalu ikut tersenyum.
“Ya udah, nih ambil ... Mutiara Andina.”
Aku tersentak dengan itu. Dari mana Zhio tau namaku? Menatapnya spontan lalu mulai sadar setelah cowok itu menunjuk bordiran nama di bagian bawah kiri dadaku dengan jarinya. Aku ikut merunduk untuk menengok, lalu terkekeh jadinya.
“Ya, udah. Kuambil minumannya. Makasih.”
“Sama-sama.” Zhio tersenyum senang.
Botol itu kini berpindah ke tanganku lalu meneguknya. Tak kusangka, kesan pertama kenal Zhio, aku bisa sebebas ini. Dia cukup menyenangkan juga.
__ADS_1
“Pindah lo!”
Suara itu tiba-tiba saja mengagetkanku. Sontak kepala kurotasikan ke asalnya.
Algi ... tahu-tahu sudah berdiri di samping Zhio dengan ekspresi kelam menatap anak baru itu. “Gua bilang lu pindah! Gua mau duduk sini!” ulangnya semakin menekan.
Aku lalu menghardik, “Algi, kamu apaan, sih?!”
Sementara Zhio nampak masih santai di posisinya.
“Tiara! Lu berkali-kali nolak gua duduk di sini karena alesan gak nyaman! Sekarang lu nerima ni curut idiot di sini. Sambil ketawa-ketawa pula! Apa lu sehat?!”
Tubuhku mendadak gemetar menghadapi setiap detail kalimat itu. Aku takut lalu merunduk tak ingin melihat wajah bengis Algi.
Apakah aku sesalah itu? Padahal aku punya alasan kuat di balik apa yang aku lakukan terhadapnya.
Kuedar pandang melalui ekor mataku. Beberapa anak yang tersisa di kelas mengarahkan tatapan mereka lurus ke arah kami.
Aku benar-benar tak nyaman dengan ini.
Zhio lalu bangkit dari tempatnya. Aku kira dia akan mengalah dan membiarkan Algi duduk mengambil alih tempat duduknya. Namun, rentetan kata keluar dari mulutnya tanpa kuduga,
“Aku pikir, kayaknya kamu yang gak sehat? Kamu kasar gini, dia juga ogahlah!”
Mataku membelalak menanggapi. Sontak mendongak untuk melihat bagaimana ekspresinya. Dia sangat santai.
“Bangsatt!” Algi tak terima. “Siapa elu sok-sokan komentarin gua!”
“Algi!” Aku terperanjat spontan mengangkat diri saat satu kepalan cowok itu hendak menonjok wajah Zhio.
“Algi!” Suara teriakan Alna terdengar dari ambang pintu. “Lu ngapain?!” tanyanya seraya berjalan cepat ke arah kami.
“Jangan ikut campur lu, Na!” Algi menghardik saudara kembarnya.
“Ikut campur, ikut campur!” hardik balik Alna mengolok. “Gue liat lu mao nonjok di anak baru! Apanya yang jangan ikut campur! .... Kalo lu sampe bikin ulah lagi, gue laporin bokap, mampus lu!”
__ADS_1