
Aku merasakan hangat hembusan napas Zhio menerpa wajah dinginku. Antar wajah kami nyaris tak berjarak. Bingung dan tak tahu harus apa, jantungku berdebar kencang. Sementara Zhio telah memejamkan mata dengan kepala dimiringkan.
Dari pipi, kini telapak tangannya bergeser ke balik tengkukku, menekannya ke depan--mendekatkan ke wajahnya. Sementara tangan lainnya ia rekatkan di pinggangku dalam posisi mengunci lingkar.
Debar jantungnya bahkan terdengar kencang, walaupun hujan masih bergemuruh di luar sana.
Aku yang lemah ini, semakin to'lol saat bibir Zhio benar-benar menyentuh bibirku merapat. Sentuhan menekan yang membuatku merasakan ada yang lain meraba dalam diri. Seperti sebuah keinginan untuk membalas.
Pada akhirnya kami dikalahkan oleh rasa. Aku dan Zhio sama tenggelam dalam sentuhan antar bibir yang begitu giat saling mengecup, memutar, dan bermain. Tanganku bahkan telah berpindah melingkar di lehernya.
Semakin terbawa alur, Zhio mendorong tubuhku merebah tanpa melepas pa'gutan kami. Suasana terjalin semakin dalam dan intensif.
Aku merasakan bagian bawah perutku bergejolak panas, menginstruksikan diriku sendiri untuk terus melawan dan mengimbangi apa yang Zhio lakukan saat ini padaku.
Sedikit saja aku terkejut, saat telapak tangan Zhio mulai merubah geraknya menjadi rayap dan remass pada bagian lain dari tubuhku. Baju atasan yang kugunakan ia naikan ke atas dan memainkan lihai lima jarinya di sana. Aku melenguhh gelisah, tetapi juga sangat menikmati. Apalagi saat Zhio melepas rekatan bibirnya dari bibirku, lalu turun dan memindahkannya ke bagian dada.
Dua tanganku geram mencengkram rambut gondrongnya di bawah daguku, akibat tenggelam dalam sensasi.
Zhio semakin parah dalam permainannya hingga bale kayu yang kami rebahi ini bergoyang-goyang menunjukkan ia tak lagi kokoh, digunakan untuk pergerakan semacam ini.
Deru engah napas Zhio terdengar keras. Ia mengangkat tubuhnya sendiri untuk melepas kaos oblong yang ia kenakan, lalu melemparnya ke sembarang arah. Aku sempat membelalak melihat tatanan dari dada hingga ke perut cowok itu. Semua dalam porsi sempurna. Tersihir kagum dan tak percaya, sosok culun itu ternyata bak Arjuna, aku tiba-tiba terperanjat menegang. Zhio sudah meneruskan apa yang dia buat sebelumnya. Kali ini ia memulai dari bagian pusarku, merambat naik hingga ke dada, lama bermain di sana bersama kedua kembar milikku dengan mata terpejam menikmati, lalu berakhir di leherku dan kembali ke bibir.
__ADS_1
Aku tidak naif, aku sama menginginkan juga menikmatinya seperti yang Zhio buat. Berharap semua sampai tuntas dan kami tersenyum puas seraya saling berpeluk pada akhirnya.
Zhio dan aku muda-mudi normal dan sudah menjejak angka usia yang pantas untuk mengenal dunia s.e.k.s sebenarnya. Karena itu, lahar keinginan seperti saat ini benar-benar menggelora bagaikan badai yang meliuk tak peduli apa pun di sekitar.
Tapi sayangnya, tak ada yang mengingatkan kami. Tentang sebuah aturan waktu. Kami belum menikah.
Jauh dalam hati suciku, aku sebenarnya ingin menolak, menegaskan pada ego bahwa ini tidaklah benar. Menekankan pada jiwa, bahwa belai kasih kesan dewasa semacam ini, tidak seharusnya dilakukan oleh kami di saat belum ada ikatan sakral yang menguatkan. Tapi sialnya, tubuhku seperti tak ingin berontak dan malah semakin menerima.
Aku baru merasakan hati dan diriku bentrok berlainan pendapat. Dan ini dimenangkan oleh tubuh karena reaksi manusiawi di dalamnya.
Aku benar-benar terbuai dalam setiap sentuhan lelaki yang kucinta ini. Aku mendamba. Apa pun yang dia lakukan saat ini, aku benar-benar tak ingin mengakhirinya.
“Zhio!” pekikku seraya cepat menarik diri untuk bangkit. Kusilangkan tangan di depan dada menginterupsi bagian memalukan yang sebenarnya tak benar untuk dipertontonkan. “Jangan, Zhio.”
Cowok itu terpekur di tempatnya dalam posisi hanya bertopang kedua lutut. Tangan yang semula sibuk hendak menarik ikat pinggang, kaku di tempat yang sama namun mengambang tanpa menyentuh apa pun.
Sepasang mataku remang menggantung air yang sesaat lagi akan jatuh. Aku bergerak cepat meraih bajuku yang tercampak di atas ubin kotor di bawah bale, lalu mengenakannya dalam posisi membelakangi Zhio.
“Ti-Tiara ... maafin aku.” Suara Zhio terdengar pelan bercampur resah. Aku mendengarkannya dengan hati kacau tanpa bisa membalas satu pun kata.
“Aku gak bermaksud ....” Belum kata itu Zhio teruskan, dia menubrukkan diri memeluk punggungku yang sejak tadi membelakangi. “Maafin aku.”
__ADS_1
Kepalanya tersangga di pundakku. Sementara pandanganku tetap lurus ke depan. Aku bahkan tak bisa mendeskripiskan perasaanku sendiri. Tapi satu hal yang aku sadari, aku tidak bisa menyalahkan Zhio untuk kejadian tak senonoh yang baru saja hampir terjadi di antara kami. Bagamana tidak, aku pun sama to-lol dengan sama-sama ikut terbuai dalam keadaan.
“Aku mau pulang,” ucapku pada akhirnya.
...*****...
Menerobos deras hujan, berbasah-basah ria, Zhio akhirnya mengalah pada keinginanku untuk pulang sore hari tadi, meski ia cukup keberatan karena khawatir aku terserang flu. Meninggalkan kedai terbengkalai sisa perbuatan to-lol itu, kami berdiam sepanjang perjalanan. Aku bahkan merasa saat malu tanganku berpegangan pada kedua pinggangnya. Semua mendadak menjadi kaku.
Sampai di rumah Om Krisna, Mbok Misni menyambut cemas di depan teras. Tante Maria bahkan sampai berteriak-teriak melihatku yang kuyup dengan tubuh menggigil. Sedangkan Zhio, aku menyuruhnya pulang secepat mungkin. Cowok itu menurut tanpa bantahan. Ia juga menolak tawaran Tante Maria agar singgah dan sejenak menikmati teh hangat di dalam rumah sembari menunggu hujan reda. Tatapanku cukup dipahaminya. Aku ingin menyendiri beberapa waktu tanpa dia.
Sekarang waktu sudah merangkak ke angka sebelas malam. Tapi mataku masih terjaga. Air jeruk panas yang disediakan Mbok Misni bahkan sudah mendingin. Pikiranku masih kacau dalam bayangan kejadian bodoh sore tadi bersama Zhio.
Berulang kali kuacak rambut dengan teriakan kecil yang tertahan. Aku menyesali kenapa aku setolol itu. Puluhan chat dan belasan panggilan dari Zhio memenuhi layar polselku. Terakhir aku me-nonaktifkannya saking tak ingin terganggu. Melihat nama dan foto kontaknya saja aku sudah bingung dan benar-benar malu. Aku merasa betapa murahnya aku sebagai seorang gadis.
...______...
Keesokan harinya, aku tak pergi ke kampus. Beralasan sedikit tak enak badan, Tante Maria dan Om Krisna membiarkanku tenang beristirahat penuh di dalam kamar, setelah menyediakan beberapa jenis obat lengkap dengan antibiotik untuk kuminum.
Ponsel tak jua kuaktifkan. Aku masih merasa canggung berkomunikasi dengan Zhio.
Sampai ketukan di luar pintu kamarku terdengar berulang, disusul teriakan Tante Maria, “Tiara! Ada Zhio jenguk kamu nih!”
__ADS_1