
Aku lupa mengatakan, jika sekarang, aku tak lagi pergi kemana pun diantar mobilnya Om Krisna. Tentu saja selain tak ingin terus merepotkan, juga demi menghindari umpatan panjang Chelsea yang terus mengungkit banyak hal tentang kerugiannya atas namaku.
Hari yang cerah ini, aku turun dari jok ojek online yang baru saja kutumpangi sampai ke gerbang kampus.
Tas gendong berisi beberapa buku, kukaitkan di sebelah pundak bagian kiri. Tiga buah buku yang lebih besar kupeluk di depan [antara] perut dan dada.
Aku berjalan sedikit tergesa menuju kelasku. Dosen mata kuliah kali ini cukup menyeramkan. Aku tak boleh terlambat walau satu langkah di luar pintu saat dosen itu sudah di dalam.
Sesampainya, dengan terengah-engah, aku mengusap dada melafalkan syukur. Semua belum terlambat.
Aku duduk di bangkuku dengan napas mulai teratur.
Beberapa anak menyapa sambil lalu ke tempat mereka masing-masing.
Satu ronde--anggap saja, sudah usai.
Berlalu dengan baik tanpa seruan keras dosen berkumis Pak Raden itu, seperti saat lalu. Semua mahasiswa cukup belajar dari pengalaman, pun dengan aku.
Merasa tenggorokanku sedikit kering, aku berniat keluar mencari penyegar di kantin lantai satu. Tapi baru langkahku hendak mencapai ambang pintu, dua orang cewek berpenampilan--sedikit glamour mencegat semua anak, tak terkecuali aku, untuk keluar. Sedikit saja aku tahu tentang keduanya, mereka adalah seniorku, teman satu tingkat yang sama dengan Chelsea.
“Mohon perhatian sebentar!” Salah satu dari cewek itu berseru.
“Kita mau sebarin undangan nih!” Ia memberitahu. “Malam minggu ini, Rossa, kalian tahu Rossa Andita anaknya Rektor Satrio, 'kan? ... Nah dia mau adain acara ulang tahunnya nih! Tepatnya di Hotel Bintang Empat Panca Karya, dimulai jam tujuh malam minggu. Dan kalian semua diundang, tanpa terkecuali! Undangannya aku taro meja sini. Seseorang silakan bagikan! Cukup itu aja dari kita, terima kasih, permisi!”
Usai berlalu kedua gadis itu, semua anak mulai ricuh. Satu di antaranya mulai membagikan kertas undangan merah berpita biru itu pada kami satu per satu. Aku menerima dan lalu membacanya sesaat saja. Di bagian paling depan tertera kalimat singkat ‘Diperbolehkan membawa partner’. Aku tersenyum menanggapinya. Karena artinya, aku bisa mengajak Zhio ke acara itu.
Undangan itu kususupkan ke dalam tas, karena nanti harus dibawa kembali saat acara berlangsung. Aku keluar kembali ke niatan awal dengan langkah-langkah ringan.
Namun tepat di belokan akhir koridor menuju kantin ....
“Aduh!” pekikku terkejut. Aku bertabrakan dengan seseorang dari arah berlawanan. Semua bukuku berhambur menyentuh lantai karena insiden kecil barusan.
Bersamaan denganku, orang itu juga ikut berjongkok membantu mengambili buku-bukuku yang tercecer. “Sorry, sorry, aku gak sengaja!”
__ADS_1
“Gak apa-apa. Makasih," ucapku memutus rasa bersalah orang itu. Aku sudah berdiri dengan buku-buku lengkap kembali ke pelukan. “Permisi.”
Ada lain hal, aku terkejut setengah setrum. Tanganku ditarik orang itu tepat sesaat aku melewati tubuhnya hendak berlalu.
“Tunggu dulu! Kamu mau ke kantin, 'kan?” tanyanya.
Aku mengangguk kaku, seraya menarik cepat pergelangan tanganku digenggamannya. “Iya.”
“Kalo gitu kita bareng aja. Aku traktir deh. Anggap aja sebagai permintaan maaf karena udah nabrak kamu!”
Aku terdiam sesaat, lalu berkata, “Gak usah, Kak. Makasih. Lagian aku cuma mau beli minum aja, kok.”
“Gak papa! Aku beliin!”
Dia itu lelaki, seniorku pula.
Aku ingat jelas peringatan Zhio. Dia melarang aku berdekatan dengan lelaki mana pun, kecuali urusan pelajaran. Jadi kalau aku menyanggupi keinginan cowok di depanku ini, artinya aku sudah berkhianat satu kali pada pacarku. Aku tidak mau itu.
“Gak usah, Kak. Aku pamit. Permisi!”
“Hey! Kok pergi sih?! Padahal aku tulus lho!”
Kakiku menapak cepat lantai-lantai menuju kantin. Mengabaikan teriakan yang sungguh terasa mengganggu di telingaku.
Satu cup jus alpukat sudah kudapat. Pikiranku melayang pada wajah senior cowok yang bertabrak denganku tadi. Aku baru ingat ... dia itu 'kan kalau tidak salah ... pacarnya salah satu teman genk-nya Chelsea. Bisa mati aku jika sampai mereka tahu aku bercakap dengan bagian penting dari mereka.
Sesaat aku bergidik ngeri membayangkan itu. Seraya terus berjalan, aku memutuskan pergi menuju taman di belakang kampus. Di sana ada satu tempat pavoritku, setidaknya untuk membaca-baca ulang pelajaran yang kudapat hari ini.
Hanya sekitar sepuluh menit dari jarak aku di kantin, bokongku sudah mendarat sempurna di tempat yang kutuju. Sebuah bangku kayu, di bawah pohon mangga lumayan rimbun tanpa buah, berhadapan dengan sebuah kolam kecil dengan satu jenis teratai berlumut terhampar di permukaan. Aku paling suka di sini, karena sejuknya bisa menghalau sedikit udara Jakarta yang menyengat.
Di sedotan ke sekian jus-ku, aku mendengar semilir suara memanggil.
“Mutiara!”
__ADS_1
Terperanjat. Aku celingukan mencari suara itu.
“Siapa yang manggil aku?" gumamku bertanya--pada diri sendiri.
“Aku di sini.”
Gegas kutolehkan kepala. Suara yang terasa begitu familiar dari arah yang jelas. Seketika membuat melebar bola mataku.
“Na-Nandan!” Aku bangkit cepat dari dudukku saking terkejut, melihatnya yang sudah berdiri di belakangku di samping pohon.
Cowok itu bergerak mendekat. Mengitari bangku yang kududuki, lalu berdiri tepat di depanku. “Apa kabar kamu?” Dia bertanya. Wajahnya muram terlihat tak bersemangat.
Aku membuang wajah ke lain arah seraya menghembus napas cukup kasar, lalu duduk kembali dengan sedikit perasaan resah. “Aku baik. Kamu ngapain di sini?” tanya ketusku.
Aku menggeser posisiku sampai ke ujung bangku, menjauhi Nandan yang kini duduk di sampingku tanpa permisi.
Seraya menoleh ke arahku kemudian menatap, Nandan seperti akan menyusun kata. Aku melihatnya melalui bayangan di sudut mata.
“Gak bisa ya, kita kayak dulu lagi, Mut?”
DEG!
Jantungku rasa melompat. Sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkanku.
Aku tersenyum remeh bercampur getir. Memaksakan wajahku melihat ke arah Nandan. “Kayak dulu gimana maksud kamu?” tanyaku pura-pura bodoh.
Setelah menatapku penuh getir yang tak dibuat-buat, Nandan mengusap kasar wajahnya yang nampak kusut. Berembus kasar napas, ia lalu berujar, “Aku mau kita balikan, Mut. Balik pacaran kayak dulu lagi.”
Susah payah kutelan saliva di ujung kerongkongan. Aku masih menunggu lanjutan kalimat cowok itu, walaupun deru jantung dan hatiku, 'tak bisa dibuat biasa.
“Aku gak niat bohongin kamu soal pindahan aku ke London waktu itu, Mut. Papi jebak aku buat pertunangan itu.” Sejenak dia terdiam. “Aku mau lari sekarang, Mut. Lari sama kamu. Aku mau berontak sekarang! Aku mohon kamu mau ya, Mut.”
Dia menatapku yang kini juga menatapnya dengan air mata yang sudah menitik butir demi butir. “Kita lari dari sini!”
__ADS_1
Aku masih terdiam, sementara seisi dadaku sudah sangat sesak mendengar semua susunan katanya.
“Mut!” Satu telapak tanganku diraihnya cepat, hingga jarak tatap kami cukup berdekatan. “Kamu masih sayang aku, 'kan?”