Mutiara Retak

Mutiara Retak
Zhio


__ADS_3

Waktu berlalu.


Hubunganku dengan Zhio semakin terjalin apik.


Sayangnya, kami tidak melanjutkan kuliah di tempat yang sama. Zhio memilih universitas lain sesuai anjuran keluarganya. Sementara aku ... hhufftt... justru malah terpaksa harus bertemu setiap hari di kampus dengan Chelsea. Dia senior satu tingkat di atasku. Jurusan yang kami ambil juga berada di satu ranah yang sama--bisnis. Bedanya, Chelsea mengambil ilmu komputer, dan aku sendiri di jurusan manajemen sumber daya manusia.


Entahlah!


Aku sedikit menyesalkan kenapa tidak bisa bersama-sama Zhio seperti di masa singkat SMA. Tapi apa mau dikata, peran orang tua untuk urusan pendidikan, tidak bisa kami tindaki seenak jidat sesuai keinginan sendiri. Terlebih hanya karena urusan percintaan. “Toh, akan ada masa lulus,” kata Zhio saat itu menenangkanku.


Niatku untuk keluar dari rumah Om Krisna demi rasa tak ingin terus merepotkan, terpaksa urung. Pria yang sudah seperti ayahku sendiri itu menentang keras keinginanku, tak terkecuali Tante Maria, istrinya. Mereka ingin aku tetap berada di rumah itu walaupun Chelsea masih begitu berat menerima keberadaanku. Aku tak bisa berbuat banyak, walau hanya bertanya mengapa. Hidupku berada di bawah kendali dan kebaikan Om Krisna yang tak bisa kukesampingkan demi sebuah ego begitu saja.


Biarlah, akan kujalani alurku sebagaimana Tuhan mengaturnya.


Hari-hariku di kampus berjalan bagaimana mestinya. Penampilanku masih kubuat sama seperti saat SMA. Aku tak ingin menjadi cantik seperti lainnya. Fokusku hanya tentang belajar dan pendidikan.


Siang ini sepulang kuliah, Zhio sudah berjanji akan menjemputku. Dan saat ini aku sudah menunggu. Duduk dengan satu cup minuman dingin di tangan, di salah satu bangku tembok di depan gerbang, melihat lalu-lalang para mahasiswa yang keluar masuk bergantian.


Sampai tak lama, aku melihat vespa biru terang mulai mendekat lalu berhenti tepat di depanku. Senyumku mengembang seketika. Zhio membuka helm yang lalu dikaitkannya di atas spion. Dia turun setelah membetulkan sesaat kacamata bulat kodoknya.


“Yang, uda lama nunggu?” Dia bertanya seraya menggamit minuman dinginku yang lantas diseruputnya.


“Nggak kok. Baru keluar beberapa menit lalu," jawabku alakadar.

__ADS_1


“Jadi ke toko buku?” tanya cowok itu lagi.


“Jadi dong!” sahut semangatku.


“Yuk!” Zhio bangkit seraya mengulur tangan ke arahku.


Aku menerimanya senang hati seperti biasa.


Di detik ketika Zhio hendak mengenakan helm-nya, suara sarkas kudengar dari arah belakang kami.


“Ckkk, kalian tu cocok banget ya?! .... Sama-sama culun, sama-sama jelek. Mendingan nikah aja sekarang! Gak usah segala kuliah. Trus bikin anak, yang pas lahir modelnya sama-sama konyol kayak kalian!” Diakhiri gelak tawa si pembicara juga teman-teman yang datang bersamanya.


Aku dan Zhio masih terdiam saling menatap dengan tampang jengah.


“Dan lu, Tiara! Abis lu lulus kuliah, lu kerja yang rajin! Trus gantiin duit bokap gue yang boros banyak buat biayain lu! Jangan lupa, gantinya sama gue! Karena duit itu harusnya jatah shopping gue!”


Chelsea tertawa. “Emang lu mampu?! Sepuluh taun kerja pun, lu belum tentu bisa!” Dia kemudian mendekat ke arahku dengan wajah terangkat sombong. “Tapi gue bisa kasih pilihan lain kalo lu keberatan,” ucapnya tepat di depan wajahku. “Lu jadi babu gue aja.”


Belalak mataku disambut tawa Chelsea dan teman-temannya.


Aku tercekat, tak bisa membalas.


Namun di tengah diamku, Zhio mendekat, merangkulkan lengannya di pundakku. Dengan tenang dia berkata pada Chelsea, “Sekarang kamu boleh seneng dan sesuka hati hina pacar saya. Tapi suatu saat ....” Rangkulan di pundakku diketatkan Zhio, seperti menegaskan sesuatu tentang diriku.

__ADS_1


Diriingi senyuman penuh cemooh, Zhio melanjutkan, “Tiara yang akan berdiri sebagai pemenang. Bukan cuma bisa mengganti biaya belanja kamu yang gak seberapa itu, tapi juga bisa membeli diri kamu sendiri, Chelsea! Dan saya ... saya orang pertama yang akan menertawakan kekonyolan kamu di saat itu tiba!”


Bukan hanya Chelsea dan teman-temannya yang terpelongo dengan kata-kata itu, aku pun termasuk di antaranya. Apa-apaan Zhio ini?


“Ayo, Yang. Kita pergi aja.” Zhio menarik tanganku untuk segera naik ke atas vespa yang sudah ia tunggangi. Mesin mulai dinyalakannya.


“Sialan lu, Culun! Seenaknya sumpah-sumpahin gue!” Chelsea berteriak murka setelah keluar dari keterkejutannya. Sementara aku dan Zhio mulai menjauh dengan motor yang sudah melaju membelah jalanan.


 


Bukan ke toko buku seperti niatan awal kami. Sebuah kafe kecil dengan tatanan sederhana yang pada akhirnya jadi pilihan. Aku dan Zhio sudah duduk mengisi selingkar kursi di bagian pojok dekat jendela. Dua piring nasi goreng sambal matah didampingi dua gelas tinggi es teh manis, terhidang menggiurkan di hadapan kami.


“Kamu kok berani sih, bilang gitu sama Chelsea?" Aku mengeluarkan beban tanya yang sedari tadi bergelayut berat dalam pikiran. Es teh manis dengan es batu kotak-kotak kuaduk-aduk dengan sedotan.


Zhio yang baru saja melahap satu sendok nasi gorengnya, tersenyum. Sebelum bicara, teh manis miliknya ia teguk satu sesapan. Kemudian Zhio mulai menatapku penuh kasih dan sepoles senyuman manis. “Itu tandanya kamu harus berusaha membuktikan,” katanya ringan saja. “Yaa, anggap aja ucapan aku tadi itu motifasi buat kamu. Kamu harus berhasil, Tiara. Keberhasilan Chelsea nanti, udah pasti tetap ada di bawah ketek orang tuanya. Dia pewaris satu-satunya perusahaan Om Krisna. Dan kamu ... kamu yang harus berusaha lebih giat. Berusaha buat lepasin diri dari bayangan keluarga Chelsea. Kalo kamu terus bertahan di tengah mereka, kamu akan selamanya jadi bahan ungkitan. Meskipun Om Krisna dan istrinya ikhlas melakukan apa yang menurut mereka benar atas kamu, tetap ada Chelsea yang selamanya akan menjadi duri.”


Mencerna setiap bait kalimat Zhio, aku tertegun dalam.


“Kamu bener, Zhi," ucap lemahku menyetujui kemudian. “Memang dari awal sehabis lulus SMA, aku udah punya niatan buat ninggalin rumah itu. Tapi Om Krisna gak mengizinkan. Aku bisa apa? Dia udah terlalu baik buat aku tinggalin begitu aja. Sementara aku belum punya apa pun buat gantiin semua jasanya dia yang mungkin gak akan bisa kuhitung.”


Zhio mengangkat tunduk wajahku dengan tangannya melalui dagu. Ia menatapku di balik kacamatanya dihiasi senyuman yang selalu nampak manis di pandanganku.


“Karena itu, mulai sekarang, kamu harus berusaha. Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan dukung apa pun yang kamu usahakan. Kecuali usaha kamu buat ninggalin aku!”

__ADS_1


Aku menepis tangannya di daguku, seraya tersenyum haru. “Mana ada aku ninggalin kamu! Yang ada kamu kali ninggalin aku!”


“Psssttt!” Zhio menghardik. Satu telunjuknya ia tempelkan di bibirku. “Aku gak suka ucapan itu! Aku gak akan ninggalin kamu, kamu tahu itu!” tegasnya serius sekali. “Dan aku minta sama kamu, kalo suatu saat aku bikin kesalahan atas hubungan kita, aku mohon ... jangan kamu tutup hati kamu buat maafin aku.”


__ADS_2