
Kutatap punggung tegap yang saat ini berjalan di depanku. Aku tak mengenalinya, tapi aku tahu dia siapa.
Dia adalah lelaki yang tadi ditunjuk-tunjuk girang oleh Chelsea saat awal kami memasuki pesta. Kalo tidak salah, namanya Jancent--Jancent siapalah nama lengkapnya, aku lupa walau tadi terdengar sangat singkat saat Chelsea mengucapkannya.
Aku tak paham kenapa dia sampai ada di gudang tempatku menangis tadi.
Dan saat ini, aku mengikuti apa yang dia katakan. Dia bilang di lantai dua hotel ini, ada tempat yang cukup menenangkan untuk setidaknya menahan kesedihanku. Pada awalnya aku menolak, tapi kemudian aku percaya, setelah dia meyakinkan dengan serius, kalau dia tidak ada niat jahat atau pun hal aneh lainnya. Hanya sekedar ingin membantuku melepaskan beban perasaan yang menonjol sangat di hadapannya.
Tapi hatiku tetap tak ada di tempat. Tak ada dalam tapak demi tapak langkah. Senyuman manis Nandan menyambut setiap tamu yang datang menghampiri, membuat dadaku bergejolak hebat tanpa bisa kutahan. Aku tak bisa menekan perasaanku. Aku sesak.
Di anak tangga ke sekian, tungkai kakiku tiba-tiba lemas. Tubuhku bergetar hebat. Aku terjatuh ambruk seraya meraungkan tangis.
“Hey!” Cowok bernama Jancent itu sontak berbalik. Menyongsongku ikut berjongkok. “Kamu baik-baik aja, 'kan?”
Aku terus menangis dengan pundak berguncang hebat. Dada bidang Jancent di hadapan tanpa sadar kujadikan samsak. Aku memukulinya meluapkan kesakitan. “Nandan jahat! Nandan gak pernah sayang aku! Dia pembohong!” raungku seperti ditinggal mati saja.
“Keluarin aja! Luapin. Selama itu bisa bikin kamu tenang. Aku gak apa-apa, walo kamu jadiin bahan pukulan,” ujar Jancent sok kuat.
Dengan tak tahu malunya, kini aku malah menangis di pelukannya--di tengah tangga pula. Tapi pada akhirnya aku berhasil juga menguasai diri.
Di tengah suasana, suara dering ponselku terdengar.
Aku melepaskan diri dari pelukan Jancent. Merogoh isian tas pestaku, lalu mengambil ponsel dan mengangkatnya.
“Iya, Om.” Suaraku terdengar serak.
“....”
“Maaf gak izin sama Om sama Tante. Aku tadi ke toilet trus muter-muter tempat dikit. Bentar aku balik ke sana.”
“....”
Aku menutup telponnya setelah Om Krisna mengatakan, “Iya, Om tunggu.”
Setelahnya, aku mendadak beku. Tatapanku terkunci di mata Jancent yang juga tengah menatapku lurus. Ternyata kami sedekat ini.
Tuhan!
Apa-apaan ini?
Gegas kupalingkan wajah lalu berusaha mengangkat tubuhku yang sedikit limbung.
Jancent membantuku ikut berdiri. “Hati-hati,” katanya.
“Ma-makasih,” balas gaguku menepis tangannya cepat. “Aku bisa sendiri.”
__ADS_1
Kurapikan sejenak penampilan kacauku. Mulai dari wajah hingga gaunku yang sedikit kotor dan kusut karena berleseh di dasar tangga.
“Nandan itu ... bukannya nama lelaki yang lagi tunangan, ya? Calon menantunya Pak Kevin?” celetuk Jancent bertanya tiba-tiba.
Sontak kudongakan wajah menatapnya, memotong telak kegiatan beres-beresku.
Aku ingin menjawab, tapi terasa sulit walau hanya sebentuk anggukan. Nama Nandan sepertinya mulai menjadi racun yang otomatis menyerang titik terendah hatiku yang sudah rapuh pada dasarnya.
Kupalingkan wajah ke lain arah seraya menyeka tetes air mataku yang mulai kembali jatuh.
“Dia pacar kamu?” Jancent bertanya lagi. “Trus ninggalin dan sekarang tunangan sama orang lain? Gitu?” cecarnya sotoy sekali.
Tapi sayangnya ... semua yang dia katakan, benar adanya.
Tak ingin menjawab, aku memilih berbalik cepat, kembali menuruni tangga.
Siapa dia yang jadi sok tahu masalah pribadiku?
Aku bahkan tidak mengenalnya.
Masa bodo tentang rasa menghargai. Aku tak ingin setiap pertanyaannya menjadi kesakitan berulang yang terus menghantam seisi dada.
“Aku cuma kebetulan keluar dari toilet! Trus gak sengaja liat kamu lari-lari sambil nangis! Aku kira kamu mau bunuh diri, makanya aku ikutin!”
Penjelasan keras Jancent otomatis menghentikan ayunan langkah kakiku. Aku mendongak merotasikan leher ke arahnya lagi yang masih diam di tempat yang sama. “Makasih buat rasa peduli kamu! Sayangnya, aku belum mau mati!” balasku lalu kembali meneruskan langkah secepat yang aku bisa.
Tapi ....
Mataku terbelalak seketika saat suatu ingatan tiba-tiba melintas dalam kepalaku. Sejenak langkah kuhentikan.
Bukankah Om Krisna tahu siapa Nandan?!
Benar!
Mereka pernah bertemu di rumah sakit saat Ayah dirawat berbulan lalu.
Apakah dia akan curiga dengan menghilangnya aku dari tempat itu tadi?
“Tiara! Kamu dari mana sih, Sayang?!”
Jantungku terlonjak kaget. Tante Maria melangkah cepat menghampiriku lalu memeluk. Ternyata mereka menemukanku lebih dulu.
“Aku cuma liat-liat tempat ini aja, Tante!" kelakarku sekenanya. Mencoba menutupi kerapuhanku dengan bersikap sesantai mungkin. “Tadi itu aku kebelet pipis, jadi gk sempet bilang sama Om Tante.”
Om Krisna mengusap kepalaku. “Gak apa-apa, Nak. Kita pulang aja.”
__ADS_1
Aku mengangguk saja.Tapi sedikit merasakan ada ekspresi lain ditunjukkan Om Krisna. Dia nampak iba.
“Chelsea mana, Tante?!” tanyaku mengalihkan.
“Dia katanya mau ngobrol banyak dulu sama Jancent. Trus nanti pulang nyusul.” Tante Maria menjelaskan seperti ada ketidaksetujuan di sana. “Anak itu memang susah diatur.”
Jancent?
Cowok itu ....
“Tapi, Tante--”
Rasa cemasku dipungkas langsung oleh Om Krisna. “Biarin aja. Om udah suruh orang buat awasin dia!”
Aku mendesah pelan--sedikit tenang. Walau bagaimana pun, aku sudah menganggap Chelsea seperti saudaraku sendiri. Dan ini bukan pura-pura. Di luaran sendirian saat malam hari tanpa dampingan yang dipercaya, Ayah selalu bilang; Tidak baik untuk anak perempuan.
Kembali mendesah mengingat hal itu, lagi-lagi hatiku berdesir perih.
Kami mulai melangkah menuju di mana mobil Om Krisna diparkirkan. Suasana di luar tak begitu ramai.
Namun ....
“Tunggu!”
Serentak, aku dan sepasang suami istri orang tua Chelsea itu berbalik ke arah yang sama.
Seketika aku terperanjat melihat sosok yang berlari ke arah kami tersebut.
“Nandan,” desisku.
“Bisa aku bicara sebentar, Mutiara?” tanya Nandan dengan napas sedikit tersengal.
Aku menatapnya tak tahu harus apa.
Om Krisna merangkul pundakku, lalu berkata, “Ambil kesempatan ini, Nak. Kalian memang harus bicara. Om sama Tante tunggu di mobil.”
“Makasih buat kesempatannya, Om,” ucap sopan Nandan.
Om Krisna mengangguk dengan senyum tipisnya.
Aku melihat ekspresi bingung Tante Maria, tapi itu tak lama berlangsung karena Om Krisna lebih dulu menariknya masuk ke dalam mobil. Pasti pria itu menjelaskan apa yang dia tahu pada istrinya.
Dan kalimat Om Krisna tadi menggertak sisi benarku. “Kalian memang harus bicara.”
Bagaimana bisa Nandan keluar untuk menemuiku? Sedang di dalam sana adalah acara pertunangannya?
__ADS_1
Baiklah. Aku tak mau ambil pusing. Akan kubiarkan Nandan mengutarakan apa yang ada di benak pikirnya saat ini.