
BAB 11
Carlotta melangkah maju meninggalkan brigade yang melindungi lahan pertanian. Mata wanita ini membara bagai api, ia sangat membenci penyerangan pada kaum yang tidak bersalah. Hanya sebuah kesalahan kecil menyebabkan semuanya rusak, hancur berantakan. Benar-benar tidak masuk akal, pikiran macam apa yang membuat pimpinan denaagan kejam berbuat seperti ini.
“Apa dia tidak ikut ke dalam serangan ini? Dia hanya menggerakkan bonekanya saja?.”
“Mantan calon suamimu ini Helena, tidak memiliki hati nurani. Apa kau pernah bertemu dengannya? Kenapa dia ingin sekali menikahi mu sampai melakukan hal keji seperti ini?.”
Gerutu Carlotta pada Helena, kalau orang lain lihat pasti akan mengira Putri Helena mengidap penyakit tertentu, yaitu gangguan jiwa dan sejenisnya.
“Apa kamu pernah membuat masalah dengannya ya? Ah tidak, tapi selama beberapa waktu aku di sini tidak ada penyerangan, baru sekarang saja. Jadi baiklah penyebab dia marah bukan Helena tetapi aku.” Carlotta berdecak sebal.
Wanita ini merasa wajar kan bila menolak perjodohan, itu hal biasa. Orang tua bebas memilih calon suami untuk anaknya tapi tidak harus memaksa juga. Apalagi menurut Carlotta, Raja Altezza bukanlah tipe suami idaman. Sifatnya pasti arogan, dan mudah tersinggung tidak ingin dibantah.
Carlotta mantap mendekati Zraak, sedikitpun kini tak gentar hanya ada rasa benci dalam dadanya.
Tingkat keberanian Carlotta sangat tinggi, ia yakin pimpinan pasukan adalah pria yang menunggangi mahkluk mengerikan itu. “Pasti dia yang mengendalikan semua ini, ya pasti pria itu.” Gumam Carlotta.
Percaya diri Carlotta melepas anak panah tepat pada makhluk raksasa merah itu dan pria di atasnya jatuh.
BUGH
Tidak hanya satu atau dua tetapi 4 anak panah sekaligus tepat sasaran. Tapi sosok besar yang bisa terbang masih kokoh mengepakkan sayapnya, hanya kehilangan keseimbangan saja dalam beberapa detik.
Mengetahui Jenderal mereka terjatuh, pasukan berhenti menyerang.
"Tahan penyerangan!!!!, Jenderal Luca terjatuh." Suara lantang seorang Panglima.
Ditengah suasana memanas, penasehat Kerajaan Magixion masuk dalam kastil mencari Raja Arandele.
BRAK
Pintu kokoh terbuat dari baja dengan ukiran sebuah mantra khusus terbuka sangat keras. Raja Arandele yang tengah menikmati keindahan pagi syok mendapat penyerang kala fajar tiba.
__ADS_1
"Penasehat Orn? Datang sepagi ini pada kerjaan kami. Apa lagi yang Raja Altezza inginkan? Penyerangan ini hanya merusak dan berakibat pada rakyatku saja, jadi hentikan semua ini. Aku akan pastikan Putri Helena menerima pernikahannya, Raja Altezza tidak perlu cemas." Tutur Raja Arandele.
"Jika Baginda Raja Arandele membawa Yang Mulia Putri Helena sekarang juga, akan ada imbalan tak ternilai dari kami, jadi bagaimana Baginda Raja?."
"Raja Altezza dan Putri Helena harus menikah dalam waktu dekat ini." Tutur Penasehat Agung Magixion
"Ya tentu saja Penasehat, Orn. Aku pastikan kerajaan kita bersatu sebelum munculnya bulan purnama ." Jawab Raja Arandele.
Penasehat Orn tertawa keras, suara menggema bagai singa mengaum. Dirinya juga terkenal sebagai salah satu orang yang ditakuti kedua setelah Raja Altezza.
Bukan main, setiap diplomasinya syarat akan makna dan lawan pun tunduk.
"Baginda sangat bijak sekali. Hamba mohon maaf, tapi Raja kami menginginkan pernikahan kurang dari dua minggu, sebelum salju pertama jatuh pada Pohon Ek. Saat ini juga kami hentikan penyerangan."
Utusan Raja Altezza berjanji detik ini juga menghentikan penyerang asalkan pernikahan Helena dan Raja Magixion digelar dalam waktu kurang dari satu dua mingu
"Baik sepakat selama Magixion memberi mahar yang sesuai." Jawab Raja Arandele.
Namun setelah menunggu, wanita paruh baya itu datang dengan tangan kosong. Putri Helena tidak ada di kamarnya. Keluar melalui jendela menuruni dinding bebatuan.
Raja Arandele turun tangan langsung mencari Helena, keluar kastil dan melihat kekacauan di sisi timur kerajaan. Beberapa lahan terbakar akibat serangan Altezza.
Bersama pengawal khusus, Raja menuju area yang hangus dan betapa terkejutnya ia menemukan putri bungsunya berada di tengah-tengah pasukan.
"PUTRI HELENA......." Suara lantang menggelegar Raja Arandele. Geram dan marah, apalagi Helena memegang busur panah. Wajahnya dipenuhi peluh dan debu.
Raja memerintahkan seorang komandan untuk menyeret Helena masuk kastil dan menemui utusan Magixion.
"Lepas, lepaskan aku. Apa-apaan kalian ini, lepas." Carlotta mengamuk di tengah pertempuran. Tanpa alasan jelas dirinya di bawa masuk kastil oleh Komandan dan beberapa prajurit.
"Mohon maaf Tuan Putri, ini titah Raja Arandele."
Di aula utama Raja Arandele dan Putri Hera marah pada Helena (Carlotta). Penyerbuan Magixion disebabkan oleh dirinya dan tidak ada yang bisa dilakukan karena lahan di sisi timur telah terbakar.
__ADS_1
"Helena, sepuluh hari lagi kau harus menikah dengan Raja Altezza. Tidak ada penolakan apapun. Bila perlu aku akan memaksamu." Tegas Raja Arandele.
"Mana bisa seperti itu, aku tidak mau. Siapa orangnya aku tidak tahu. Aku bukan alat kalian." Seru Carlotta.
"Kau memang tidak tahu diri." Putri Hera maju mengangkat telapak tangan kanannya hendak memukul Carlotta. Tapi gadi ini bergeser cepat menghindar hingga telapak tangan Hera tidak menempel di pipi mulusnya.
Perdebatan alot terjadi antara ayah dan anak itu, Raja menyambar paksa rambut yang terikat, membawa putri bungsunya mendekat ke jendela. Tangis dan rasa takut orang-orang di bawah sana, perempuan, laki-laki, anak-anak dan bayi terpaksa keluar dari rumah mereka karena kemarahan Magixion.
Untuk kali ini Carlotta menyerah, karena Raja Arandele memberi bukti nyata dari kekuasaan kejam Altezza, dan rakyat tidak bersalah menjadi korban.
"Picik, kalian semua hanya memikirkan kekuasaan, siapa yang kalah dan menang........
seperti inikah Helena hidupmu?." lirih Carlotta dalam hati.
Terpaksa Carlotta menurut pada Raja, tangisnya turun, bukan karena sedih tapi marah pada keadaan. ia pun bersumpah akan membalas semua perbuatan Raja Magixion.
Utusan Raja Altezza berjanji detik ini juga menghentikan penyerang asalkan pernikahan Helena dan Raja Magixion digelar dalam waktu kurang dari satu dua mingu.
Dibantu beberapa dayang, Carlotta membersihkan diri dan menata penampilan.
"Terima kasih Tuan Putri mau membantu keluarga kami. Kami berhutang nyawa pada Putri Helena." Tanda hormat dayang yang keluarganya selalu terluka m
karena serang ini, bahkan harus merelakan keluarga pergi selamanya.
Carlotta yang telah cantik dan anggun menuruni anak tangga bertemu Penasehat Agung Raja Altezza.
Hidupnya benar-benar tragis, tidak ada satupun yang membela, mendengar suara pun enggan. Ia melirik komandan dan yang lainnya hanya bisa diam tiada aksi.
Penyerahan mahar pun dilakukan, pertanda Helena menerima Altezza dan tidak penolakan atau pembatalan dalam bentuk apapun.
Penasehat Agung Raja Altezza mengucapkan janji persekutuan di antara Magixion dengan Arandele.
......TBC......
__ADS_1