My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 12 - Terjepit


__ADS_3

BAB 12


Semua prajurit Arandele terheran mendengar Jenderal terkuat mereka menyerukan perintah untuk menahan serangan dan mundur.


Pasukan bersenjata Magixion pun ditarik dari operasi hadiah kecil ini, semua bersorak senang itu artinya tidak akan ada rakyat yang menjadi korban dari ketamakan Raja mereka. Baik Arandele atau Magixion sama-sama ingin menguasai semua kerajaan, dan hanya mereka berdua yang memiliki persenjataan lengkap namun Magixion sepuluh langkah lebih maju.


Penyerangan terhadap Arandele dihentikan, gencatan senjata dilakukan selama kedua belah pihak tidak menyalahi aturan.


“Baginda Raja beruntung memiliki Putri secantik Tuan Putri Helena. Saya rasa wajahnya sangat mirip dengan mendiang Yang Mulia Ratu.” Pujian sekaligus pancingan yang diutarakan Penasehat Orn.


Dia tahu bahwa Raja Arandele sangat membenci putri bungsunya ini, untuk itu alasan Altezza menggunakan si cantik bak Dewi Venus sebagai alat menjatuhkan Arandele. Menggunakan dendam yang ada pada diri Helena.


Raja Arandele menatap sengit dan tidak suka pada utusan arogan Altezza, ia ingin cepat menikahkan putrinya dengan Raja Magixion, harus segera menemukan apa yang menjadi kelemahan pria itu hingga mampu mengumpulkan sekutu banyak dalam waktu singkat.


“Terima kasih pujiannya Penasehat Orn, anda begitu murah hati. Sampaikan terima kasih Arandele pada Raja Altezza, atas kebaikannya.”


Penasehat Orn tekikik geli mendengar kalimat ironi yang keluar dari bibir Raja pongah itu.


“Akan aku sampaikan, Baginda Raja Arandele sangat baik dan bijaksana menilai keadaan.” Tukasnya menyesap minuman sari buah murni khusus jamuan para Raja.


Sementara Carlotta berada di tengah kubu keduanya yang tidak ia sukai, tapi keadaan memaksanya memihak Arandele.


“Situasi macam apa ini? Aku hanya menjadi alat bagi mereka. Apa dua orang tua ini tidak malu pada seorang gadis yang akan dijadikan tumbal, oh yang benar saja aku harus mati di tangan Pak Tua ayahku, maksudnya ayah Helena dan Raja Altezza si sombong itu.” Geram Carlotta dalam hati.


Sorot matanya jelas memancarkan kebencian teramat dalam baik itu pada Arandel atau Magixion.


Penasehat Agung Magixion beserta para utusannya meninggalkan tanah kekuasaan Arandele yang telah mereka usik ketenangannya.


“Helena cepat kemari, kau harus mendengarkan ini baik-baik, aku tidak menerima bantahan apapun. Kau tahu tugasmu menjadi seorang Ratu tidak mudah, jangan membuatku malu di hadapan Altezza dan mencoreng wajah kerajaan kita. Satu lagi, pastikan semua informasi calon suamimu itu kau laporan padaku tanpa ada yang ditutupi, ini semua demi kebaikan rakyat dan para penerus Kerajaan Arandele.” Pungkas Raja yang tidak lagi muda ini.


Raja pun mulai mendoktrin Helena, apa saja yang harus dilakukan setelah menikah dan kewajibannya sebagai putri berdarah Arandele. Sampai putri bungsunya itu jengah mendengar untaian kata menjijikan yang tertangkap gendang telinganya.


“Apa sudah selesai?” Carlotta berdiri, bokongnya panas ingin keluar dari aula utama yaang gerah seperti gurun pasir ini.


“Mau kemana kau? Duduk !.” Sentak Raja Arandele.

__ADS_1


“Oh ayolah Ayah, bukankah aku harus menikah? Itu tandanya aku harus banyak tidur, benar kan.?” Demi apa Carlotta mengatakan ‘ayah’ sangat lancar, mungkin ia mulai terbiasa dengan kehidupan istana.


Carlotta tidak memedulikan Raja Arandele, pikiran dan tujuannya sangat picik. Tega mengirim putrinya hanya untuk mengambil keuntungan semata. Bagaimana kalau ia disekap lalu dianiaya oleh Raja Altezza? Sekalipun cerdas dan tangguh tetap saja Carlotta tidak bisa melawan semua sendiri.


Hal ini membuat Carlotta penasaran, apa latar belakang kedua Kerajaan Kuat itu berseteru sampai merugikan kaum yang tidak bersalah.


“Sebenarnya apa yang membuat Raja Altezza menginginkan memperistri Helena? Kenapa tidak putri dari sekutunya aja, kenapa harus musuhnya?.”


“Ini bukan era teknologi dimana aku bisa mencari dengan mudah melalui internet, huh. Televisi hitam putih tidak ada.” Keluh Carlotta melangkahkan kakinya.


“Helena beritahu padaku, kenapa ayahmu membenci Magixion, begitupun sebaliknya, kenapa Raja Altezza tidak menikahi Putri Hera yang menyebalkan itu, setidaknya hidupku aman kalau dia keluar dari kastil.” Gerutu Carlotta diperhatikan para dayang istana.


Merasa Helena tidak bisa dimemenuhi permintaannya, Carlotta menuju ruang khusus pelayan dan mereka semua tersentak karena Tuan Putri dilarang menginjak kakinya di tempat tidak suci seperti ini.


“Yang Mulia”


“Tuan Putri”


“Apa yang Putri Helena perlukan? Katakan pada hamba.” Lemah lembut Kepala Penanggung Jawab Etika Putri.


“Ah banyak, aku ingin tahu kena Magixion dan Altezza bermusuhan? Apa Raja Altezza pria yang sangat arogan? Sampai mengirim pasukannya kesini karena aku menolaknya. Pria di belahan bumi manapun sama, memaksa wanita, huh.”


“Alasan yang membingungkan.” Gumam Carlotta.


“Katanya Raja ingin menikahi Putri untuk mematahkan kutukan pada dirinya.” Seru pelayan lain.


“Jaga mulut kalian, kalau tidak, bisa hilang nyawa kalian saat ini juga.” Bentak Kepala Penanggung  Jawab.


“Sudah, sudah, maaf mengganggu.” Carlotta banyak bertanya pada pelayan, tapi alasan yang di peroleh tidak masuk akal. Dirinya pun tidak puas. Sedangkan para pelayan menatap aneh karena pertama kalinya putri mengucap kata ‘maaf’ pada mereka yang memiliki status sosial lebih rendah.


Mengusir rasa kesal dan gundah, Carlotta pergi ke arena pelatihan, memperdalam ilmu bela dirinya, ia harus menyatukan kepingan puzzle ini, dengan tangan dan kaki seorang diri.


“Hidupmu rumit Helena.” Ketus Carlotta.


 Kemudian memanah penuh amarah pada jajaran boneka kayu.

__ADS_1


WUSH


WUSH


“Aku semakin hebat kan? Kenapa tiba-tiba merindukan papa? Semoga Papa selalu sehat, aku mencintaimu Papah”. Suasana hati Carlotta menjadi mendung sama seperti langit yang gelap berkabut, bahkan rintik gerimis mulai membasahi dedaunan.


Petir menggelegar


Duaarrr, kilat saling menyandar.


Tepat ketika Carlotta hendak melepaskan anak panah, ia mengalami sesak napas dan kepalanya sakit, “Akh kenapa ini, ada apa? Sakit, aku susah bernapas, huh huh.” Menjatuhkan busur dan anak panah, meremat kuat bagian dada.


Rasanya menyakitkan seperti salah satu organ tubuh terlepas dari tempanya, dan bercucuran darah. Tapi Carlota merasa sehat, kenapa dirinya merasa sakit. apakah Helen memiliki penyakit bawaan hingga Carlotta yang sakit.


BRUK


Dia jatuh pingsan. Di atas tanah dan rumput hijau yang basah oleh air hujan.


“Yang Mulia?”


“Tuan Putri?”


“TIDAK”


Semua yang menyaksikan menjerit hebat, cemas Putri Helena mendapat serangan dari udara.


 Tapi


Samar-samar di telinga Carlotta mendengar suara Luciano yang menangis memanggil pilu namanya.


“Papa Aku merindukanmu.” Ia menangis dalam tubuhnya.


“Papa aku merindukanmu, akhirnya aku kembali, papa terima kasih selalu menyayangiku.” Ucap Carlotta bahagia, tanpa diduga ia akan kembali pada raganya yang cukup lama ditinggal.


Carlotta menggerakkan lengan tetapi kaku, tidak bisa bergerak, bahkan merayakan tubuhnya pun tidak.

__ADS_1


“A-apa yang terjadi?.”


...TBC...


__ADS_2