My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 19 - Membingungkan


__ADS_3

BAB 19


“Tolong”


“Huh huh huh huh, tolong.”


“J-jangan, jangan sakiti aku, aku mohon. Aku minta maaf, maaf. Jangan sakiti aku mohon, jangan.”


“Carlotta tolong aku.”


Carlotta terbangun di kamar Ratu, ia membuka mata setelah mendengar seorang wanita memanggil namanya dan meminta tolong. Dia yakin suara itu milik roh Helena, tapi yang jadi pertanyaan untuk apa minta tolong? Lalu dimana keberadaan Helena?


Hanya suara tanpa melihatnya dalam mimpi, sepertinya Helena tengah ketakutan, tapi karena apa? Semua menggantung di udara tidak ada akar dan tidak bisa diselesaikan dengan mudah.  


“Kita harus bertemu Helena, aku yakin kamu memiliki jawaban atas semua yang terjadi. Aku juga yakin kamu tidak selemah yang dikatakan dalam buku silsilah Kerajaan Arandele.” Gumam Carlotta dan dirinya akan terus mencari cara agar Helena kembali.


“Yang Mulia telah siuman, akhirnya. Baginda Raja cemas karena Ratu tidak sadarkan diri selama satu minggu.” Tutur seorang wanita yang menjadi penanggung jawab kesehatan Ratu Magixion.


“APA????  S-satu minggu? Yang benar saja? Aku pikir baru satu jam yang lalu.” Carlotta duduk dan menatap sekitarnya, semua dayang tampak khawatir pada kondisi Ratu yang tidur bagaikan mayat hidup.


“Mereka semua tidak sedang merekayasa semua ini kan? Jangan sampai aku terjebak permainan kotor mereka semua. Akh perutku lapar sekali.” Carlotta memegangi perutnya yang begitu kempes, kering dan memprihatinkan.


“Silahkan dimakan Yang Mulia Ratu, sup kerang ini masih hangat, dipercaya bisa meningkatkan kesuburan. Kalkun panggang yang dapat memenuhi energi Yang Mulia, semua ini kami persiapkan sesuai perintah Raja Altezza.” jelas salah satu dayang yang bertanggung jawab pada hidangan Ratu.


Semua yang berdiri di kamar itu tersenyum malu, pasalnya baru pertama kali Raja Altezza menunjukan sisi hangatnya. Selama ini terkenal dingin dan kejam pada wanita, bahkan tidak segan bersikap buruk pada kaum hawa tersebut.


“Ck berlebihan, ini memang sifat dasar pria seperti itu, dia berusaha meluluhkan hatiku, huh enak saja.” Geram Carlotta menghentak kuat ranjangnya.

__ADS_1


Tak dipungkiri rasa lapar membuat Carlotta melahap habis makanannya sampai tidak ada yang bersisa, bayangkan saja ia tertidur selama satu minggu dan perutnya dalam keadaan kosong. Hal mustahil memang, Dokter Kerajaan sudah putus asa memberi obat pada Ratu.


Carlotta diam memandang ke luar melalui jendela yang terbuka, otaknya kembali menyatukan peristiwa yang terjadi belakangan ini. Putri Hera yang kejam, yang kedua menemukan jalan rahasia, lalu pasukan Magixion yang menyerang.


“Ah ya”


Seketika dia ingat pernah melihat buku kuno itu di ruang rahasia kamar Helena, menyesal telah mengabaikan buku usang itu dan sekarang bagaimana caranya keluar dari Magixion, lalu mencari tahu semua yang membuatnya penasaran dan bingung?.


“Ya aku harus ke sana.” Tekad Carlotta dalam hati. Otak cerdiknya berpikir keras untuk melarikan diri dari Magixion, dan secara cepat kembali pada wilayah terkutuk ini.


Wanita ini yakin bahwa akan menemukan jawaban dari buku berdebu milik Helena.


**


Dirasa kondisi sudah stabil, Carlotta mulai keluar kamar tanpa didampingi oleh dayang. Dia turun ke bawah di mana lambang kekuasaan Magixion berada, patung naga raksasa.


Ratu menghirup kuat oksigen dalam kastil, entahlah dirinya merasa sedikit lebih baik hidup di kastil dingin dan sepi ini dibanding Arandele, rumahnya sendiri tetapi bagai penjara.


“Kemana Baginda Raja, sejak tadi aku tidak melihatnya. Sepertinya Raja Altezza sangat sibuk, berbeda sekali dengan Raja Arandele yang lebih sering bersantai.” Ungkap Carlotta yang merasa kesepian.


“Aku penasaran dengan Jenderal Luca, kenapa...... kenapa wajahnya mirip dengan Papa. Tapi Papa pernah bilang bahwa dirinya berdarah bangsawan dan ksatria.”


Setidaknya ia pernah melihat wajah Jenderal Perang Luca yang terkuat diantara jajaran Jenderal lainnya, mengobati rasa rindunya akan Luciano Maldini.


Carlotta berjalan mengitari kekuasaan Magixion, kakinya terhenti, tubuhnya seketika merinding, rambut-rambut halus di sekujur tubuh berdiri.


Carlotta melihat arena pertarungan besar, megah, dindingnya sangat kuat melingkar, lengkap dengan besi-besi tajam, lancip di sisi arena dan tengahnya. Dapat dipastikan hanya ksatria sejati dan beruntung yang bisa keluar dari lingkaran kematian itu.

__ADS_1


“Ini gila, aku baru pertama kali melihatnya. Selama ini hanya ada peninggalan sejarah tapi yang ini benar-benar menyeramkan. Untuk apa Raja Altezza memiliki ini semua? Aku rasa dia bukan petarung handal.” Tutur Carlotta bicara pada dirinya sendiri.


Langkah kakinya kembali terhenti pada bangunan kokoh tradisional, Carlotta pun membuka pintu baja itu dan dirinya lagi-lagi takjub, melihat pasukan yang berlatih dengan alat berbeda dari Arandele pastinya. Sesuatu yang digunakan oleh tentara di zaman modern.


“Wow, dari mana mereka mendapatkan ini semua?.” Pikirnya sangat penasaran.


Pandangan Carlotta teralih pada dua orang pria sedang adu ketangkasan bela diri di tengah lapang. Salah satunya pasti Altezza, begitulah keyakinan Carlotta.


Salah satunya dari topeng dan pakaian yang dikenakan, ciri khas para keturunan Raja begitu kental pada seorang pria gagah yang tengah memegang sebilah pedang bermata tajam.


Carlotta berjalan semakin memasuki bangunan kokoh ini, gaun cantiknya ia biarkan menyapu debu dan dedaunan kering di atas jalan.


“Y-yang Mulia Ratu.” Semua menunduk hormat memberi salam kecuali dua orang yang beradu kekuatan. Selama ratusan tahun tidak ada Ratu ataupun Putri Raja mengunjungi tempat kotor dan panas seperti ini, kecuali Raja dan Pangeran.


Carlotta berdiri menikmati suasana seru nan apik di Magixion, ia semakin betah tinggal di kalangan musuhnya dan ingin berlatih bersama Jenderal Perang Luca di Magixion, hal gila yang diinginkan yaitu bisa menunggangi monster naga merah besar.


Setelah melihat senjata apa yang digunakan Magixion, lalu seberapa besar kekuatan ini, Carlotta putuskan tidak akan membuka rahasia ini pada Arandele, sampai dirinya mengetahui untuk apa semua ini dipersiapkan.


“Aku tidak menyangka dibalik rumor yang beredar, ternyata Magixion jauh lebih kuat dari hanya sekedar gambaran mereka, tapi apa ini juga digunakan untuk menaklukan sekutunya? Bisa jadi dia menekan Kerajaan lain untuk mendapat dukungan. Benar-benar luar biasa, aku harus menjalin hubungan baik dengannya.”


“Tapi hentikan, Baginda Raja pasti menilai aku terpengaruh dengan perhatian recehnya. Hah, tidak di zaman kuno, tidak di era modern semua pria sama.” Ketus Carlotta dalam hati.


Padahal sewaktu pengiriman hadiah kecil, Raja Altezza tidak mengirim pasukannya yang kuat serta masih menggunakan pedang dan anak panah, bukan senjata api berisi timah panas.


Pikirannya buyar kala Altezza menjatuhkan lawannya tepat di depan mata Ratu Helena.


BRUK

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2