My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 38 - Kabar Buruk


__ADS_3

Putri Hera memicingkan mata, dia sendiri tidak tahu bahwa buku ramalan masa depan benar adanya. Bentuk rupa pun tidak tahu, tiba-tiba Anastasia datang menggeledah seluruh isi kamar.


“Apa kau tahu buku itu? Kenapa tidak pernah bilang? Kau memang sengaja membuatku menderita, benar kan Helena?” tegas Putri Hera, menyibak selimut dan menarik bahu adiknya. Benar-benar marah pada Helena, berani memanfaatkannya seperti ini.


“Ck … kau itu Hera selalu menyalahkan orang lain tanpa mau mencari tahu lebih dulu. Sudahlah aku pulang, ku lihat keadaanmu baik-baik saja.” Carlotta membuka pintu hanya dengan satu tangan dan tidak menyentuhnya, tentu saja keahlian ringan seperti ini telah ia kuasai dengan baik.


“Satu lagi Yang Mulia Putri Hera, jangan pernah mengkhianati, karena jika itu terjadi kau akan menderita kemudian mati secara perlahan.” Sinis Carlotta keluar kamar sang Putri.


WUSH


Seketika angin berhembus kencang tanda Carlotta telah meninggalkan kastil.


“Aku rasa keturunan Arandele yang akan membinasakan Anastasia itu, adikku Helena. Dia memang berbeda sekarang lebih kuat dan tidak lemah. Aku akui itu.” Gumam Putri Hera, sedangkan pelayan yang mendengar tersenyum kecil.

__ADS_1


Bahagia karena kakak beradik itu saling mengagumi satu sama lain, tidak ada dendam dan perlahan bibit kasih sayang mulai tumbuh.


“Kau … kenapa tidak ikut dengannya, hah?” Hera menunjuk pelayan yang masih setia menemaninya.


“Ini atas permintaan Yang Mulia Ratu, hamba akan menemani Putri Hera sampai sembuh.” Alasan pelayan, kerena tidak mungkin mengizinkan orang lain mengetahui apa yang terjadi, pasti mereka membuat desas desus tentang keadaan ini.


**


“Sepertinya kau masih kurang tidur, otakmu ini masih sulit menerima kebenaran. Bantulah aku Altezza. Aku akan menghancurkan Anastasia, dia harus mati. Nasib dunia ini tidak akan aman bila dalam genggamannya.” Cibir Carlotta memandang sinis pada Raja.


“Buktikan Ratu, kalau memang benar mendiang Ratu Arandele tidak membunuh kedua orangtuaku. Aku akan berhenti menyerang Arandele.” Tawar Altezza, tidak ingin merugi sedikitpun.


Dia ingin imbalan yang besar.

__ADS_1


“Tentu saja, bahkan kau akan mendapat dua keuntungan sekaligus. Jadi bagaimana, setuju membantuku atau kau akan tetap menjalankan rencana bodohmu itu?” tanya Carlotta. Pikiran Raja sulit ditebak dan menguras tenaga menghadapi pria ini. Apalagi dia senang sekali bisa bertarung dengan Carlotta, adu kekuatan dan ketangkasan.


“Baik aku setuju, kau harus memenuhi janjimu Ratu. Jika kau ingkar, aku sendiri yang akan menusukkan pedang ke jantungmu.” Sengit Altezza, dia tidak mutlak mempercayai kesepakatannya dengan Carlotta.


“Baginda?” Panggil Jenderal Luca tergesa-gesa, ada sesuatu yang sangat penting kali ini, bakan Zraak di luar pun meraung keras, merasa keluarganya di kastil terancam.


“Ada apa? Katakana Luca!” malas Altezza bila mendapat kabar yang tak penting.


“Baginda Raja, Anastasia mengirim pasukannya untuk menguasai benteng di bagian timur, mereka sudah tiba di sana, dan pasukan kita kalah jumlah. Tidak ada yang menyangka serangan ini.” Terang Jenderal Luca yang geram pada penyihir hitam.


'‘Rebut kembali benteng itu dan pastikan seluruh benteng mendapat tambahan pasukan, kita pulang.” Raja Altezza berdiri, menoleh sekejap melihat wajah cantik Ratu yang sangat tegas tak memperlihatkan sedikitpun kecemasan atau rasa takut.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2