My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 37 - Kebencian


__ADS_3

Altezza menerima buku tebal dari Carlotta, rasa penasarannya langsung membuat dirinya melahap buku itu dan tanpa buang waktu. Raja membaca cepat, kata demi kata di resapi, sampai pada penjelasan mengenai Anastasia yang membunuh Raja dan Ratu Magixion, lalu sengaja meninggalkan jejak dan memfitnah Ratu Arandele.


Ratu Arandele memang terkenal sebagai penyihir putih hebat pada masanya, bahkan dengan adanya penyihir putih di Kerajaan Arandele, membuatnya selalu kokoh. Tapi siapa sangka hal ini dimanfaatkan oleh Anastasia, hanya karena sakit hati, Sang Raja kekasih yang teramat dicintai tidak jadi memilihnya sebagai Ratu Arandele.


Anastasia bersumpah akan meluluhlantakan Arandele dengan cara yang keji dan hina yaitu melalui keturunan Magixion. Sebab Arandele dan Magixion selalu bersaing dalam segi apapun.


“Semua ini omong kosong benar kan Helena? Kau menipuku? Berani sekali kau membodohi suamimu.” Teriak Altezza menggema dalam ruang bawah tanah, Raja tidak terima begitu saja karena keyakinannya selama ini , ialah mendiang Ratu Arandele yang bersalah.


“Kau hanya membela ibumu. Ck, tidak bisa melihat siapa yang salah dan kau menuduh Anastasia.” Suara Altezza melemah tapi semakin menyudutkan Ratu.


“Aku tidak akan percaya begitu saja.” Altezza berdiri dan membanting buku, sampai wajah aslinya yang buruk terlihat oleh semua orang dalam ruangan.

__ADS_1


Minerva, pelayan terkejut melihatnya. Tapi tidak dengan Carlotta dan Jenderal Luca, keduanya berusaha menenangkan dua orang yang ketakutan.


Carlotta maju, mendekati Raja tapi Altezza malah mengeluarkan pedangnya dan berniat membunuh Ratu. Namun itu tidak terjadi sebab Carlotta lebih dulu merebut pedang itu, dia melompat berpijak pada pilar dan terbang mengudara di atas Altezza merebut pedang itu.


“Kau memang wanita yang mahir mencuri. Keturunan penyihir sejati.” Sinis Altezza benar-benar menghina. Carlotta yang merasa membuang waktu akhirnya memantrai Raja agar tertidur, karena ia harus berkunjung ke suatu tempat.


“Yang Mulia, Anda tidak boleh melakukan ini pada Baginda Raja.” Ujar Luca, ia bingung tetap bersama Altezza atau Carlotta sang Ratu.


Carlotta menggunakan ilmu yang telah ia pelajari, hingga sampai di dalam kastil hanya dengan waktu lima menit padahal seharusnya membutuhkan waktu berjam-jam.


Ratu Magixion ini melihat bagaimana Hera meringis sakit akibat ulah Anastasia, sejujurnya tidak tega tapi inilah takdir Putri Hera, seandainya dulu dia bisa bersikap baik pasti kejadian ini tidak menimpanya.

__ADS_1


“Mau apa kau kesini? Tertawa di atas rasa sakitku? Dasar adik  pembawa sial.” Hardik Hera tidak mau melihat wajah adiknya.


“Aku datang merasa kasihan, dan silahkan saja tenggelam dalam pikiranmu yang selalu buruk.” Carlotta memilih naik ke atas ranjang, duduk di sisi kosong sembari meluruskan kakinya.


“Aku yakin kau tahu kejadiannya. Selamat, berhasil membuatku menjadi budak penyihir hitam itu, sebaiknya penuhi janjimu, aku ingin terbebas dari kalian semua.” Dingin Hera, ia mengingat betapa kejamnya Anastasia, dan tidak yakin adiknya yang bodoh ini berhasil mengalahkan Sang Ratu penyihir.


“Apa dia mengambil sesuatu darimu? Atau mungkin mencari sesuatu? Katakan Hera, jangan kau tutupi.” Ucap Carlotta sembari membuat bola cahaya pada tangannya, dan bermain dengan cahaya itu.


“Dia mencari buku, buku ramalan masa depan.” Jawab Putri Hera, kini menatap lekat-lekat wajah Helena.


TBC

__ADS_1


__ADS_2