
BAB 24
Hingga pagi menyapa Carlotta baru selesai mempelajari buku milik Helena. Telah menguasai beberapa teknik sihir dan mantra, tapi ada hal yang belum ia mengerti mengenai perisai, bagaimana caranya agar kemampuan itu bisa keluar dari Helena, sementara beberapa kali dirinya mencoba tidak bisa membentengi diri sendiri dengan perisainya.
Pagi ini Carlotta lupa, ia benar-benar tidak mengingat dan merasa tak penting menanggapi keinginan Altezza yang menantangnya berburu di hutan terlarang.
Beberapa dayang tidak ada yang berani membangunkannya, sebab Ratu tidur sangat nyenyak. Bahkan melewatkan waktu sarapan, beginilah Carlotta ia tidak segan menunjukan sikap tidak sukanya pada seseorang apalagi semalam Altezza terang-terangan mencekik lehernya.
“Ummm ... sebaiknya kalian keluar sampaikan pada Raja aku masih mengantuk, jangan ganggu tidurku.” Ratu mengibaskan sebelah tangannya.
Di waktu bersamaan Raja masuk tanpa pemberitahuan lebih dulu. Pria ini menatap sengit Ratu yang bersikap seenaknya dan acuh.
“Apa yang Ratuku lakukan hingga masih berbaring saat matahari telah tinggi menyinari bumi? Sepertinya Ratuku kelelahan.” Altezza bersikap selayaknya suami yang perhatian pada istri tetapi dalam hati sangat membenci Ratu.
“Bukan urusanmu.” Jawab Carlotta, menarik selimut dan memunggungi suaminya.
“Kalian semua biarkan Ratu bersama ku, mungkin Ratuku ini sedang merajuk.” Goda Raja tapi sebenarnya bukan, pria ini benar-benar ingin mengambil keuntungan bersama Carlotta.
Selepas dayang pergi, Altezza melepas jubah kerjaannya yang berlapis emas dan terukir naga berkepala tiga itu, disimpannya di atas kursi. Kemudian ia mulai duduk di tepi ranjang, mengusik tidur Carlotta.
Wanita itu tidak diam saja, memiliki gerakan refleks yang baik. Bakan kedua tangan Carlotta langsung dalam posisi siap memberi pukulan jab untuk Altezza.
“Refleks yang sangat mengagumkan, aku yakin Ratuku hari ini tidak akan kalah dalam berburu.” Raja tersenyum tipis.
“Tentu saja, dan ... Baginda akan menyesal karena pagi ini mengganggu tidurku.” Balas Carlotta, turun dari ranjang dan bersiap, memanggil pada dayangnya.
**
Memasuki kawasan hutan terlarang, Altezza dan Carlotta di dampingi oleh Jenderal Luca serta satu orang panglima. Raja dan Ratu menolak tim pengawal khusus, selain merasa risih mereka juga memiliki ilmu bela diri di atas rata-rata.
Penasehat Orn terlalu berlebihan mengkhawatirkan Raja, melupakan kenyamanan dari Altezza yang tidak suka privasinya diusik.
“Apa yang kita cari hari ini? Aku tidak mau kalau sampai kau curang.” Sinis Carlotta yang menunggangi Heimdall. Kuda yang sama di persiapkan oleh Altezza, bahkan Raja memerintahkan departemen keamanan dan gudang senjata untuk membuat busur panah khusus untuk Ratu.
__ADS_1
“Apapun, Ratuku boleh membidiknya sesuka hati.” Tanggapan Altezza sangat santai padahal ia merencanakan sesuatu.
Semakin masuk ke hutan terlarang, tak ada cahaya matahari yang menembus tempat ini, suhunya sangat dingin, kabut dimana-mana, pikiran Carlotta melayang, hewan apa yang tinggal di tempat mengerikan seperti ini, mungkin seekor semut pun tak sudi menginap di hutan terlarang.
Dahulu, hutan terlarang adalah wilayah paling agung dan subur milik Magixion, salah satu sumber hidup rakyat. Hasil alamnya melimpah ruah, bahkan banyak petani yang bercocok taman di perbatasan hutan, mengambil air dari mata air yang tak pernah kering sepanjang tahun, sekalipun musim dingin menyerang.
Tapi setelah kutukan diterima oleh Raja, hutan ini dalam sekejap berubah menjadi menakutkan dan tidak layak dihuni oleh seekor lalat, mata air mengering dan hanya pohon-pohon besar yang hidup.
Mereka saling melindungi diri satu sama lain, ya pohon-pohon besar ini bukanlah pohon biasa. Mereka adalah Naudentree, pasukan pohon yang terlelap tidur sejak Ratu dan Raja meninggal dunia, lalu tugasnya hanya menjaga hutan sampai sihir hitam sirna dari Magixion.
Carlotta yang semula bersikap acuh berubah, dirinya merasakan sesuatu yang datang. Sesuatu yang sangat jahat, udara di sekitar mereka mendadak dingin dan perlahan berubah membeku. Namun waktu tak terhenti, kabut hitam mulai mulai menutupi langit dan hutan terlarang.
Suara langkah puluhan bahkan mungkin ratusan pasang kaki jelas terdengar.
“Apa itu, mahkluk apa itu? Ini tidak nyata.” Kedua mata Carlotta melebar melihat ratusan prajurit tinggi besar, serta kulit yang hitam legam, kuku mereka tajam dan sama hitamnya, wajahnya tidak terbentuk sempurna, tidak memiliki kelopak mata dan juga tidak ada hidung atau telinga, bibirnya pun ada yang lurus, miring dan setengah, deretan gigi tajam berbaris rapi mengucurkan air liur.
“Panglima lindungi Ratu !!”
Raja Altezza bersama Jenderal Luca menarik pedang dari sarungnya, menampakkan betapa tajam pedang itu. Keduanya mulai menyerang dan menusuk satu persatu pasukan tentara menyeramkan bak kehausan akan darah.
Mulai melepaskan anak panah satu persatu. Tak puas, Carlotta pun menembak tiga panah sekaligus, lalu dirinya melompat turun dan meraih satu pedang yang disembunyikan di balik pelana kuda.
“Akh” Teriak Carlotta sembari menyayat, menusuk bahkan menebas pasukan menjijikan di depannya.
“Iblis apa kalian, hah? Berani sekali mengganggu.” Padahal pertama kali ia melihat spesies seperti ini, menurutnya dalam buku ensiklopedia tidak ada.
SREK
SREK
TING
TING
__ADS_1
SREK
Suara pedang beradu dengan tombak dan senjata lainnya.
Semua sibuk dengan lawannya masing-masing, baik itu Raja Altezza, Jenderal Luca, Carlotta dan Panglima, menumpas si pasukan tak berdarah merah ini.
Carlotta bergerak cepat, melesat membasmi lawan tanpa ampun, bahkan ia menusukkan pedangnya tepat di punggung mahkluk itu.
“Mati kau.” Desisnya
Namun tidak disangka, tersisa satu yang baru saja muncul tepat di belakang Carlotta, bersiap melemparkan tombak yang akan menembus punggung Ratu Magixion ini.
“Ratu” teriak Altezza.
Jenderal dan Panglima yang hendak melumpuhkan lawan, kalah cepat dari Carlotta yang langsung membalik tubuh, menunduk menghindari lemparan tombak dan ...
SREK
Terdengar pilu jerit Heimdall yang menjadi korban dari ganasnya tombak.
“Kurang ajar.” Bengis Carlotta, merebut pedang dari tangan Raja, gesit melompat, tubuhnya berputar di udara dan menusuk lalu mencabutnya hingga mahkluk itu berlutut sekarat lalu tertawa.
“My Queen tidak akan jera, kalian semua akan binasa, Hahaha.”
“Aku tidak peduli, kau membunuh kuda ku.” Sangar Carlotta menendang kuat, menancapkan pedang Raja tepat di tubuh lawannya.
Masih dalam emosi meluap, Carlotta menyalahkan Altezza yang membawanya ke hutan mengerikan, hingga bertemu mahkluk mengerikan seperti itu.
Carlotta berlutut, membelai kepala Heimdall, merasakan desah napas terakhir sebelum benar-benar menghilang dari dunia.
“Maafkan aku. Maaf aku tidak menjagamu dengan baik, semoga kau damai di surganya.”
Gemuruh hebat masih memenuhi rongga dada Carlotta, ia pun menarik kerah Raja dan bersiap memberi pukulan telak. Matanya berkilat marah, giginya saling beradu gemelatuk.
__ADS_1
“Semua ini karena anda, karena Baginda membawaku kesini, seharusnya ku abaikan tantangan murahan mu.” Carlotta memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi Raja.
...TBC...