My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 31 - Terluka


__ADS_3

BAB 31


Putri Hera berjalan tertatih melewati bebatuan tinggi nan tajam, bahkan ia sempat terjatuh setelah sampai di atas, berguling menimpa tanah keras. Bahu kanannya terluka, sayatan kerikil kecil begitu perih dirasakan.


Tapi Putri Hera tetap berdiri dan bangkit, ia harus berjalan sejauh tiga kilometer sebelum memasuki gerbang utama kastil. Peluh membanjiri daksa, gemetar karena kedinginan dan lapar. Tentu telah melewati jam makan malam.


Darah menetes, lengan gaun berubah warna mejadi merah bukan lagi biru langit.


Mahkota ruby tampak bersinar dalam gelapnya jalan yang ditempuh. Apa Putri Hera takut? Tentu saja tidak. Dia pemberani dan seorang pejuang yang gigih, hanya saja semua itu tertutup oleh kabut kebencian pada adiknya sendiri.


Gerbang utama sisi kastil terbuka lebar, para penjaga mengetahui bahwa Putri Hera pergi ke tepi danau, selain itu kilatan dari ruby mengukuhkan seorang wanita yang mendekat adalah Putri Hera Sang Pewaris Takhta Arandele.


“Yang Mulia Tuan Putri.” Teriak penjaga pintu gerbang, penampilan Putri Hera sangat berbeda jauh dari beberapa jam yang lalu. Ia tampak kusam dan terluka. Tandu milik putri segera mendekat, membawa Putri Helena ke dalam kastil utama.


“Hubungi Dokter Kerajaan, beritahu bahwa Putri Hera terluka.” Perintah pimpinan penjaga keamanan gerbang selatan.


“Dia ... dia bukan Helena, wajahnya memang sama tetapi semua pola tingkah laku serta tatapan matanya tidak bisa dibohongi, siapa dia?.”


Putri Hera mengerang kesakitan pada bagian bahunya, kedua tangan erat memegang tandu, menyalurkan rasa sakit akibat terjatuh dari tepi danau.


“Helena selalu takut padaku, apapun perintahku selalu dituruti demi mendapat pengakuan bahwa ia adalah Putri dari Raja Arandele. Tapi lihat sekarang aura membunuh menguasai dirinya, kenapa dia tidak membunuhku atau mematahkan tulang pergelangan tangan? Rencana apa yang dia jalankan.” Putri Hera perlahan menutup mata dan tergolek lemah dalam tandu.


**


Raja Arandele mendapat kabar bahwa putri kesayangannya terluka langsung menuju kamar Hera.


Murka, beraninya ada seseorang yang melukai Putri Hera seperti ini. Dia langsung memerintah prajurit dan panglima menuju lokasi kejadian, menyisir barang bukti bila perlu menyeret pelaku malam ini juga. Penjara gelap dan lembab telah menanti tersangka.


Dalam tidur, Putri Hera bergerak gelisah. Kedua tangannya menggapai sesuatu di udara, bibir sedikit terbuka, kelopak mata berubah terbuka tapi gagal.


“Apa yang terjadi padamu Putri Hera? Bisa terluka cukup parah.” Raja Arandele risau, pewarisnya dalam keadaan sekarat.


“Yang Mulia Raja, hamba mohon izin menyampaikan sesuatu. Tuan Putri Hera bukan terluka karena sayatan pedang atau sejenisnya. Melainkan ini penyebabnya.” Dokter Kerajaan memberikan kain putih terbungkus rapi berisi ratusan batu kecil berwarna merah , terkena darah Putri Hera.

__ADS_1


“Tuan Putri mengalami infeksi dan perlu waktu dalam pemulihan, mengalami kerusakan kulit dan bakteri berkembang pesat dalam luka, hamba khawatir akan membusuk.” Lanjut Dokter Kerajaan.


“APA KAU BILANG? Membusuk? Tidak ku biarkan putriku kehilangan satu tangannya. Lakukan yang terbaik! Kuberikan imbalan emas murni jika Hera kembali sehat.” Raja Arandele tidak mau pewarisnya mengalami hidup menderita yang berakhir pada olok-olok perempuan lain.


Raja Arandele mendekati Hera, duduk di tepi ranjang, membelai pada rambut panjang, menurunkan tubuhnya seraya berbisik kata-kata kepada Putri Hera.


“Kau harus sembuh Putri Hera, ingat tugas dan tanggung jawab. Hanya kaulah pewaris Arandele. Tentu tidak ingin kehilangan takhta bukan?.” Senyum Raja sebelum keluar dari kamar putrinya.


Kejadian hari ini membuat Raja meningkatkan keamanan di sekitar istana, khawatir ada penyusup masuk dari segala penjuru perbatasan Arandele yang luas. Bahkan area danau di perketat oleh pasukan khusus dan patroli air dilakukan mulai malam ini.


Pikiran Raja langsung terlintas pada Raja Altezza, siapa lagi musuh mereka kalau bukan Raja terkuat Magixion? Tapi ia juga tidak mungkin menuduh tanpa bukti, masih menunggu tim penyelidikan menyampaikan hasil pemeriksaan.


Sedangkan dalam kamar Putri Hera hanya didampingi dua orang dayang penanggung jawab putri. Terus berupaya agar putri membuka kedua mata, “Yang Mulia Tuan Putri bangunlah, apa anda mimpi buruk?.” Cemas kedua dayang.


“Tidak ... jangan lakukan itu padaku ... TIDAK.” Teriak Putri Hera bersamaan dengan dirinya yang siuman dari pingsan.


“Huh huh huh”


Sigap dua pelayan memberikan minum dan menghapus keringat di dahi, menenangkan Putri Hera.


“Di mana Ayah? Apa dia menjenguk aku?”


“Yang Mulia Raja baru saja kembali ke aula utama Tuan Putri.”


Putri Hera merasakan riak kegembiraan pada hati, ia senang Raja Arandele masih memperhatikannya  walaupun hanya sebentar berkunjung tidak apa.


Mendadak ia ingat permintaan Ratu Magixion, dalam hati dan pikiran sungguh tidak masuk akal. Mungkin Helena telah didoktrin kuat oleh suaminya hingga bicara melantur.


**


Magixion


PRANG

__ADS_1


Raja Altezza membanting kuat cawan dalam genggaman, kabar dari salah satu prajurit tidak menyenangkan. Hingga saat ini mereka belum menemukan keberadaan Ratu Helena, padahal jumlah pasukan hampir satu resimen. Mana mungkin sebanyak itu tidak menemukan jejak Ratu.


“Kalian semua bosan hidup, hah? Ku perintahkan mencari Ratu, dia tidak lain seorang wanita kenapa sampai kalah olehnya? Di mana Jenderal Luca? Dia tidak mungkin mengecewakanku.”


“Mohon ampun Baginda, Jenderal Luca baru saja tiba.”


Pintu bangunan utama terbuka lebar, tampak Jenderal berjalan mendekat pada Raja, kemudian menekuk lutut memberi penghormatan.


“Baginda Raja, hamba tidak menemukan jejak ratu sedikit pun, sama  halnya dengan Zraak, kami menyusuri hutan terlarang sampai perbatasan, Zraak membawa ke dalam hutan Arandele, tetapi tidak ada Ratu di sana.


Zraak hanya mampu mencium bau yang terbawa angin tanpa bisa mendeteksi lokasi Ratu.” Jenderal Luca menerangkan tanpa menutupi sesuatu.


Meskipun iba kepada Ratu, tetapi Luca tidak mungkin berdusta. Nasib ke sepuluh keturunan ada di tangannya.


“Aaarrrgh”


Murka Altezza, memukul pilar penyangga hingga retak rambut. Dia percaya semua penurutan Jenderal Luca.


“Baik, lakukan terus pencarian. Ingat jangan sampai membunuhnya. Hanya aku ... aku yang berhak melukainya.” Bengis Altezza. Menambah pasukan penjaga di setiap perbatasan, mengirim Jenderal Luca untuk mengawasi di Arandele tanpa ketahuan oleh pengamanan Raja pongah itu.


Raja juga memerintahkan prajuritnya mencari hingga pelosok desa sekutu Magixion, tidak menutup kemungkinan Ratu melarikan diri ke tempat jauh dan aman dari pengawasannya.


“Baginda Raja dikuasai oleh amarah ... ini tidak biasa dibiarkan berlarut-larut.” Pikir Jenderal Luca.


Altezza mengambil pedang dari sisi tubuhnya dan menghunuskan ke arah jendela, lalu menancapkan runcingnya benda itu pada dinding batu dari jarak jauh.Suara dentingnya pun begitu nyaring terdengar.


“Kau tidak bisa pergi jauh Ratu, cepat atau lambat Zraak akan membawamu ke hadapanku, berlutut di depanku, dan bersujud memohon atas nama Arandele.” Kilat kebencian berkobar pada kedua iris abu-abunya.


...TBC...


 


 

__ADS_1


__ADS_2