
BAB 7
Setelah pelayan dan prajurit yang bertugas menjaganya memastikan Tuan Putri aman dalam kamar. Carlotta mengganti pakaian, melepas gaun tidurnya dengan gaun lain.
Ia harus memastikan dan memaksa Helena kembali. Karena cukup lama dirinya berada dalam tubuh Putri Helena yang sama sekali tidak cocok dengannya.
“Maaf Helena, tapi aku harus kembali. Ku mohon kembali lah, jangan menghilang dan lari dari masalah.” Ucap Carlotta sembari menatap cermin seolah bicara pada Helena.
Tengah malam ia menyelinap keluar melalui jalan rahasia, dan segera menuju dimana Heimdall dikurung oleh Raja Arandele. Carlotta membebaskan hewan itu dan menunggangi kuda putih. Karena telah memahami situasi dan kondisi penjagaan, ia pun berhasil keluar dari gerbang utama kastil.
Malam yang biasanya disinari rembulan dan bintang kini gelap tanpa cahaya, ia pun pergi dalam keadaan jalan yang tak terlihat.
“Bawa aku ke danau, Heimdall. Pastikan kita selamat sampai tepi danau, setelah itu kamu kembalilah, jangan menungguku. Aku menyayangimu Heimdall.” Mencium rambut punggung kuda putih yang sangat cerdas itu.
Kuda Heimdall menjalankan tugasnya sangat baik, Carlotta berdiri di tepi danau curam dan berbatu. Kepalanya berdenyut sedikit pusing, tiba-tiba potongan ingatan Helena tentang danau ini menghampiri kepalanya.
“Aku tahu Helena kamu masih hidup, aku tahu, kembalilah malam ini juga.” Carlotta berjalan tertatih mendekati danau yang nampak tenang dan sunyi.
“Helena aku pergi, jaga dirimu baik-baik.” Pesan Carlotta seolah ia akan meninggalkan seseorang yang dikenalnya sejak lama.
BYUR
Carlotta benar-benar menenggelamkan diri ke danau di tepi selatan kastil. Danau yang gelap, sangat menakutkan bagi Carlotta.
Benar-banar pertama kali ia memasuki tempat yang membuat bulu kuduknya merinding, dengan kedua mata yang terbuka melirik ke sisi kanan dan kiri, mencari sesuatu yang ingin dijumpainya sekarang juga.
Tapi setelah cukup lama dalam air, tidak ada tanda-tanda kehadiran roh Helena, malah tubuhnya nyaris membeku, kaki dan tangannya kebas tidak bisa bergerak. Danau yang sangat dingin, menusuk sampai ke dalam tubuh.
Carlotta memejamkan mata, ia tidak kuat lagi berada dalam air tapi semua harus dilakukan agar Helena kembali ke raganya.
__ADS_1
Namun sekilas, bayang wajah seseorang yang telah mengkhianati dan menembak Carlotta tanpa rasa kemanusiaan itu seolah mendekatinya di dalam air.
Bibir wanita itu bergerak pelan dan merapalkan sebuah kata-kata yang tidak dimengerti, tangannyaq terulur pada wajah Carlotta tapi ia sigap menghindar walaupun bergerak lemah. Sorot kedua mata merah mencekik leher hingga Carlotta nyaris kehilangan napasnya.
“Kau, Le-lepaskan.” Suara Carlotta tertahan di tenggorokan, rongga itu seperti dipenuhi air danau yang membanjiri paru-parunya. Napas berat dan melemah, perih pada hidung menjalar ke telinga.
Carlotta berusaha melawan, tubuhnya memberontak tapi sial tenaganya telah habis akibat berendam dalam dinginnya air danau.
“Kenapa dia ingin selalu menyakitiku? Tidak puaskan menembaki dengan peluru? Ini bukan tubuhku, jangan sakiti dia.”
Meskipun Carlotta tidak menyukai tubuh Helena, tapi ia tidak ingin seseorang melukai raga Helena. Masalah mereka biarlah terjadi diantar mereka tanpa harus melibatkan Helena yang lemah.
“Menyingkir kau perempuan tidak tahu diri.” Teriak Carlotta dalam hati.
Seketika melihat sebilah cahaya membentuk pedang masuk dalam air, danau yang semula gelap menjadi terang, silau menusuk mata dan memisahkan jarak antar Carlotta dengan orang itu, yang langsung menghilang entah kemana, lalu tiba-tiba tubuhnya kembali ke daratan.
“Uhuk....uhuk.” Carlotta mengeluarkan cairan yang masuk dalam tubuhnya.
Ternyata pelayan setia menyelamatkan Helena dari dinginnya air danau. Ia yang melihat Helena pergi menunggangi
kuda langsung mengikuti dari belakang, kendati hanya dengan berjalan dan berlari akhirnya bisa sampai tepat waktu.
“Iya Putri Helena, saya cemas. Kenapa Putri melakukan ini semua? Kami menyayangi Putri Helena.” Ucapnya menunduk, cukup sekali ia melihat tuannya menenggelamkan diri hinga membeku tapi malam ini Putri Helena mengulang kejadian mengerikan itu.
“Hah, baiklah terima kasih karena menolongku, pastikan tidak ada yang tahu masalah ini.” Tegas Carlotta kembali menunggangi Kuda Heimdall.
Rencananya hancur ya hancur berantakan, lagipula jika pelayan itu tidak datang, nyawanya pasti hilang karena sosok seseorang dalam air. “Bagaimana bisa dia ada disini?.” Gumam Carlotta. Memegang lehernya yang masih terasa sesak akibat tercekik, lalu kata-kata asing yang didengarnya begitu nyata masuk telinga.
Bukan. Ini bukan mimpi, dia ada. Dia juga hidup di zaman yang sama saat ini.
__ADS_1
Carlotta menggelengkan kepala, semuanya terasa tidak masuk akal dan mustahil. Ia mengepalkan kedua tangan, Roh Putri Helena sama sekali tidak ingin menemuinya.
Tapi
Carlotta tidak menyerah begitu saja ia akan tetap mencari cara agar Helena bersedia kembali dan kehidupan mereka berjalan sebagaimana mestinya. “Mungin tidak malam ini, tapi kau harus pulang Helena.” Jerit Carlotta.
“Tuan Putri, ada yang ingin hamba sampaikan -.” Pelayan tanpa sengaja menguping pembicaraan Raja Arandele dengan penasehat kerajaan yang menyampaikan bahwa esok pagi utusan Raja Magixion akan menemui Raja Arandele
Merundingkan masalah pernikahan yang akan mengikat kedua kerajaan besar. Selain itu seorang seniman ditugaskan khusus melukis wajah Putri Helena yang akan diberikan pada Raja Altezza. Dia penasaran akan wajah calon istrinya, karena selama ini yang diketahui semua orang hanyalah sosok Putri Hera.
“Benar-benar ayah yang tidak menyayangi anaknya, bagaimana bisa menikahkan aku dengan pria yang bahkan rupanya saja tidak tahu, ah maksudku Helena. Semua ini karena Putri Hera.” Geram Carlotta.
Bagaimanpun juga Carlotta tidak ingin menikah dengan Raja Magixion apalagi ditugaskan sebagai mata-mata. Ini hidupnya meskipun sekarang dalam tubuh Putri Helena tidak ada yang bisa memaksa Carlotta.
“Bagiku pernikahan bukan mainan. Aku tidak bisa menjalani hal buruk sesuai keinginan Raja Arandele.” Tegas Carlotta.
Semalaman ia mencari ide menggagalkan rencana busuk Raja Arandele, tidur pun percuma karena tidak ada rasa kantuk sedikit pun.
“Apa aku kabur dari sini?.” Ide konyol terlintas dalam benak Carlotta.
Sekalipun kabur adalah ide paling baik tapi dimana lagi tempat aman selain dalam kastil ini.
“Akh kenapa bisa semakin kacau dan rumit? Kenapa aku terkurung pada keadaan ini? Sangat tidak menguntungkan.” Otak cerdasnya berpikir terus menerus, tapi berulang kali berakhir buntu. Ya buntu, kalau di dunianya pasti Carlotta bisa kabur kemana pun tapi disini. Dia mau pergi kemana?.
Carlotta tidak ingin mati sia-sia, karena ia tidak mengenal medan di luar kerajaan ini ataupun bahaya apa yang mengintai. Usianya juga masih sangat muda, hidupnya masih sangat panjang dan banyak mimpi yang belum digapai.
Ketika pagi datang, matahari mulai tinggi Carlotta menyeringai licik tampaknya Dewi Fortuna masih memihaknya.
“Kali ini aku pemenangnya,maafkan aku ayah.” Tawa kecil Carlotta.
__ADS_1
...TBC...