
BAB 17
Carlotta terbangun dari tidurnya, dia melirik pada bunga yang semalam membeku tapi pagi ini menjadi layu bahkan mati sampai ke akarnya, sama seperti pohon yang menjadi tempat ia bernaung, seluruh daunnya gugur.
“Apa ini benar pagi?.” Gumam Carlotta. Dia pikir mengalami mimpi atau halusinasi mana mungkin salju turun di musim panas.
Ditengah dirinya yang kebingungan, seorang dayang senior beserta beberapa dayang muda menghampiri Carlotta. Sesuai perintah Raja Altezza, Ratu diperkenankan masuk kastil dan membersihkan diri.
“Selamat pagi Yang Mulia Ratu, semoga hari Yang Mulia selalu menyenangkan dan dipenuhi berkat.”
“Terima kasih, kau sangat baik. Tapi siapa? Aku baru melihatmu.?” Tanya Carlotta masih dalam keadaan duduk, lalu dibantu beberapa dayang berdiri, seketika ia memekik karena pinggangnya pegal, semalaman tidur dalam keadaan duduk hal paling menyebalkan , padahal bukan kali pertama bagi Carlotta.
Sebelum masuk kastil Carlotta menatap kamar Raja, mimpi yang seperti nyata baginya. Untuk mengupas rasa penasaran, Carlotta bertanya pada beberapa dayang. Namun mereka semua bilang semalam tidak terjadi apapun dan istana serta Kerajaan Magixion dalam keadaan yang aman.
“Mungkin aku bermimpi.” Gumam Carlotta
Usai bersiap dan merapikan diri, ia harus menunggu Raja di ruang makan, rasa marah Carlotta masih tetap ada, merasa tertipu dan dibodohi oleh Raja Magixion.
“Seperti membeli barang dari black market, bahkan aku tidak akan tertipu, ini kali kedua aku ditipu oleh keadaan dan orang terdekatku.” Carlotta bergumam seorang diri menanti Raja Alttezza.
“Perutku lapar.” Memutar bola mata, sungguh menyedihkan harus bersama makan bahkan mempersilahkan Raja lebih dulu. Hidup sebagai Ratu tidak seindah yang dibayangkan orang lain.
Ketika Carlotta menyerah, Raja Altezza masuk bersama Jenderal Luca dan Penasehat Agung, seketika Ratu terperanjat karena wajah Jenderal perang itu mirip seseorang yang sangat ia rindukan.
Sebelum makan, Ratu Magixion ini mendengar adanya sesuatu yang dikhususkan bagi Ratu, hingga memasang telinga baik-baik.
Carlotta semakin marah mendengar peraturan baru dari Penasehat Agung Orn, dia diharuskan melahirkan anak perempuan, jika melahirkan anak laki-laki ada konsekuensi yang diterimanya yaitu diasingkan pada sebuah desa jauh dan terpencil.
BRAK
“WHAT? Ini gila tidak adil, bagaimana mungkin di zaman seperti ini bisa mengetahui jenis kelamin bayi, dan aku tidak akan memiliki anak dengannya, aku tidak mau.” Carlotta membuang wajah, ia muak dengan semua permainan ini.
“Ratu, tolong jaga etika anda.” Ujar Penasehat Agung.
__ADS_1
“Katakan pada Raja-mu kalau aku tidak mau memiliki anak dengannya dan satu lagi aku ditipu oleh kalian semua, Raja Altezza......” Melirik pada Raja sebelum mengatakan sosok apa yang ada di balik topeng itu.
“Dia.....dia adalah.”
BRAK
“Hentikan, lakukan sesuai keinginan Ratuku selama ini yang terbaik.” Mata abu-abunya menatap tajam pada Carlotta.
Aura permusuhan semakin kental antara Raja Altezza dan Ratu.
“Sebagai seorang Ratu, anda wajib menjalankan peraturan yang ada Yang Mulia.” Ujar Penasehat Agung Orn.
“Apa? Apa maksudnya semua itu? Itu namanya tidak adil, kalian tahu tidak adil. Lalu kalian pikir Raja tidak ikut andil? Enak saja menyalahkan-ku, ah maksudnya wanita dalam semua ini. Tidak, tidak mau.” Tolak Carlotta pada peraturan yang sangat merugikan wanita.
Melahirkan keturunan adalah kewajiban seorang Ratu, tapi siapa yang tahu. Jika anak laki-laki itu harus dipersembahkan pada Anastasia, sebagai alat tukar bahwa ia tidak akan lagi mengganggu Magixion. Sungguh sadis syarat yang diminta penyihir hitam itu.
Altezza pun terpaksa menyetujuinya karena nyawa rakyat Magixion ada ditangannya dan Anastasia dapat dengan mudah membantai, meluluhlantakkan Magixion dalam hitungan detik. Ia tidak memiliki pilihan lain selain mengorbankan diri serta keturunannya kelak. Untuk itu Altezza harap anaknya yang lahir adalah seorang putri, hingga ia menemukan cara bagaimana menghancurkan Anastasia.
PRANG
“Duduklah Ratuku, jangan merusak sarapan pagi ini.” Suara Altezza tanpa dosa terdengar datar.
Carlotta tersentak melihat Raja, topeng yang sama digunakan oleh pria asing dalam hutan terlarang, ia pun memberanikan diri bertanya pada Altezza.
“Apa yang Baginda Raja inginkan? Maaf jika aku tidak sesuai dengan keinginan Raja, tapi aku tidak mau memiliki anak bersama Baginda.”
“RATU.”
“Jaga ucapan anda Yang Mulia.” Penasehat Agung Orn memberi peringatan.
“Sekarang layani suamimu makan, Ratu.” Pinta Altezza suaranya terdengar lembut namun memaksa. Carlotta muak harus melayani pria di depannya, meminta makanan tetapi detik berikutnya berganti, terus berlangsung sampai satu jam lamanya.
“Ish apa yang kau mau sebenarnya? Membuatku marah? Hah kalau memang itu tujuannya, selamat anda berhasil Yang Mulia.”
__ADS_1
“Kalian, bawalah semua ini, cepat.”
“B-baik Yang Mulia Ratu.”
Carlotta yang kesal memerintahkan pelayan membawa pergi semua makanan.
Setelah ruangan ini kosong, Carlotta berdiri menyandar pada meja menantang Altezza dan bertanya apa yang sebenarnya Altezza inginkan.
“Apa niatmu menikahiku? Katakan, aku ingin tahu. Sejak awal aku menduga ada yang tidak beres. Kenapa harus menikahi anak dari musuhmu.”
Altezza memejamkan kedua matanya, ingatan Altezza terbawa pada kemarin malam, penyihir hitam datang dan bertepuk tangan padanya, memberi ucapan selamat karena Altezza telah berhasil menikahi Putri Arandele, tapi tidak semudah itu kutukan hilang.
Dia pikir dengan menikahi Putri Helena semua masalah selesai dan hanya tinggal dendamnya pada Arandele. Tapi mantra kutukan Anastasia, mengharuskannya mengabil kep3r4w4nan Ratu dengan dasar saling mencintai.
Tentu itu bukan hal mudah bagi Altezza, tidak sampai disitu. Anastasia penyihir picik itu mempersiapkan tujuan lain. Ia ingin darah keturunan Magixion terhenti, hinga dirinya bisa menguasai dunia di bawah tangannya.
Altezza hanya bisa mengepalkan tangan, terikat perjanjian dengan penyihir hitam adalah hal terburuk baginya, apalagi sampai mengorbankan darah dagingnya kelak.
Sedangkan Putri Helena yang dianggap bodoh tidak sesuai kenyataan, bahkan Raja memikirkan bagaimana Ratunya itu bisa tunduk dan mematuhi segala perintahnya.
“Kenapa diam?.” Tanya Carlotta tidak kunjung mendapat jawaban.
“Dengar ya, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian semua, dan sesuatu apa yang mendatangimu semalam sampai kau membuat peraturan menjijikan seperti itu.”
“Tadi malam, Ratu mengetahui apa?.” Selidik Altezza.
“Oh, aku lihat ada sosok bayangan hitam masuk ke kamar Yang Mulia, semacam kabut, lupakan itu hanya mimpi.” Jawab Carlotta apa adanya.
“Bagaimana mungkin dirinya tidak terkena pengaruh sihir itu? Ratu melihat dan mengetahui persis kedatangan Anastasia ke kamarku. Apa sihirnya tidak terpengaruh pada wanita ini?.”
“Tentu saja, mungkin itu mimpi buruk, Ratu.” Tanggapan Altezza berusaha menutupi semua yang terjadi.
“Aku menginginkanmu Ratu. Menginginkanmu sebagai wanitaku.”
__ADS_1
“APA? Gila.” Carlotta terpekik.
...TBC...