My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 14 - Pernikahan


__ADS_3

BAB 14


Hari pernikahan tiba, acara itu digelar cukup mewah dan mengundang seluruh sekutu dari masing-masing Kerajaan, lebih mirip suatu kubu yang bersiap perang ketika mendapat ancaman. Tidak hanya itu setiap kerajaan membawa beberapa resimen prajuritnya yang dipimpin langsung oleh Jenderal terbaik mereka.


Zraak, mahkluk menyeramkan kesayangan Raja Altezza terbang bebas di langit yang cerah ini, naga itu seakan menjaga upacara pernikahan, dan ia siap mengoyak siapapun atau apapun yang memberontak. Tidak hanya satu Zraak tetapi 50 naga merah terbang mengitari sekeliling kawasan Magixion. Sementara 50 sisanya menjaga kastil, Zraak hitam dan putih.


Mahkluk itu dikendalikan langsung oleh Luca, Jenderal yang sangat Altezza percaya dan tidak akan berkhianat atau dirinya dan kesepuluh keturunan kelak menjadi santapan bagi Zraak.


Carlotta menatap naga itu dengan kosong, akhirnya tiba waktu ia harus tinggal bersama musuhnya. Nasib buruk ia dapatkan setelah terbangun dalam tubuh Helena.


“Sampai sekarang pria itu masih bersembunyi, dasar pengecut.” Geram Carlotta, penasaran akan suaminya nanti.


Hamparan bunga memenuhi sepanjang jalan masuk kastil Magixion serta wilayah kekuasaannya, rakyat sukarela menghias rumah serta jalan-jalan dengan beraneka bunga.


Mereka senang Raja Altezza akhirnya menikah dan itu artinya sesuatu akan segera kembali pada semula, kembali pada yang seharusnya, semua berubah tidak lagi dalam masa kegelapan.


Mereka percaya seorang penyihir hitam memberikan kutukan pada Raja Altezza dan salah satu penawarnya adalah menikahi Putri dari Kerajaan Arandele.


Pernikahan ini mengikat dua kerajaan kuat menjadi satu. Acara digelar pada salah satu wilayah Kekuasaan Kerjaan Magixion.


“Hey, hey untuk apa ini? Bukankah kalian sengaja mendandaniku supaya aku cantik hah? Kenapa ditutupi seperti ini? Raja pasti marah pada kalian hey.” Hardik Carlotta.


“Maaf Yang Mulia, ini atas perintah Raja Altezza. Kami hanya menjalankannya, mohon maaf bila membuat Yang Mulia tidak nyaman.” Beberapa dayang menunduk hormat pada calon Ratu Magixion.


Carlotta tidak mengerti kenapa semua diharuskan menggunakan penutup wajah, termasuk para dayang mulai memasang sesuatu pada wajah mereka. Apalagi Carlotta, hanya mata dan bibir yang terlihat.


“Heh,pria sialan. Belum menikah saja sudah posesif seperti ini. Kalau dia hidup di dunia modern ku pastikan tidak akan mendapat jodoh atau menikah dengan siapapun. Keterlaluan si Altezza itu.” Gerutu Carlotta, karena alasan yang diberikan Magixion tidak logis.


Raja tidak ingin kecantikan istrinya dilihat orang lain sebelum dirinya melihat secara langsung wajah Putri Helena bak Dewi Venus.


Sekilas ia melihat tidak ada yang salah dengan kerajaan ini, namun keadaannya lebih gersang dibanding Arandele yang sejuk dan subur. Carlotta mengintip dari kereta kuda yang mengantarnya menuju altar suci.


“Apa dia juga iri pada Arandele? Karena lahan kami makmur?.” Isi kepalanya berpikir yang lain dan melayang kemanapun.


Upacara pernikahan dilaksanakan, semua serba putih gading, bunga yang semula berwarna warni berubah menjadi putih. Sepintas Carlotta melihat bayangan hitam, besar dan menyeramkan, nampak tua dengan rambut hitam legam yang panjang, tengah menatap kereta kudanya.


“God, apalagi itu? Apa bayangan pohon? Atau hewan buas? Bagaimana kalau aku diserang hewan buas, ah gila. Raja Altezza tidak menjamin keselamatan calon istrinya.” Sekalipun ia pemberani tapi dengan gaun panjang dan ekornya yang hampir 3 meter ini, serta riasan di kepala mana mungkin sanggup berlari kencang.


“Yang Mulia, sudah sampai tujuan, silahkan pegang tangan, kami akan membantu Yang Mulia berdiri dan berjalan.”

__ADS_1


“Hem”


Carlotta mengeluarkan kepalanya, terasa berat, ia pun menggenggam tangan para dayang yang sengaja Altezza kirim. Berjalan sejauh beberapa ratus meter cukup membuatnya kelelahan, dengan atribut khas pernikahan kerajaan.


Tubuhnya nyaris terjatuh karena susahnya berjalan menggunakan alas kaki tinggi dan terbuat dari berlian langka itu.


“Shit” melepas alas kakinya dan berjalan di atas tanah.


“Yang Mulia”


“Maha Putri”


“Tidak boleh menginjakkan kaki di atas tanah.”


“Biar gampang nanti ku pakai lagi, kalian fokus saja memegangi gaun sialan ini.” Titah Carlotta.


Tanpa diketahui seseorang melihat tingkat lakunya dari tinggi menara, ia tersenyum sinis dan mengumpat dalam hati. “Anak kecil, apa Arandele tidak memberinya pelajaran etika yang baik.”


Carlotta masih berdiri sendiri di altar tanpa suaminya. Pegal dan jenuh berdiri dengan ratusan mata memandang padanya.


“Belum menikah saja sudah menyiksa seperti ini, menyebalkan.”


BRAK


“Baginda Raja Altezza, salam hormat.”


“Salam Yang Mulia Agung Raja Altezza.”


Pakaian yang senada dengan Carlotta, dan sebilah pedang berada di sisi dengan sarungnya terbuat dari sisik naga, Zraak.


Semua orang yang hadir tunduk pada Raja Magixion itu kecuali satu, Raja Arandele hanya menatap calon menantunya, dan Carlotta pun termangu melihat bagaimana gagahnya sang Raja tapi sayang topeng menutupi hampir seluruh wajah.


Setelah mengucap ikrar Raja Altezza langsung membawa Putri Helena pergi untuk memisahkan diri dari keramaian. Wanita ini menarik perhatiannya, apalagi tadi ia sendiri mengawasi langsung dari atas menara.


“Hey, bisa pelan sedikit. Kau itu pria tapi kasar memperlakukan wanita. Dasar aneh.” Carlotta tetap mengikuti langkah lebar suaminya.


Selama perjalanan menuju tempat diadakannya perjamuan, sepasang suami istri ini hanya diam, terbalut dalam pemikiran masing-masing.


“Kita belum berkenalan, Aku Carlotta Maldini, ah maksudnya Helena ya Helena.” Carlotta berusaha mencairkan suasana yang menegangkan.

__ADS_1


“Kau akan tahu siapa aku ketika ritual malam pertama kita.” Datar Sang Raja.


“WHAT? Oh tidak kau sakit jiwa.”


Raja Altezza mengerutkan dahi, tidak mengerti apa maksud Ratunya.


 


**


Selesai pesta, Carlotta didampingi beberapa dayang memasuki kamar ratu, seorang penasehat agung kerajaan membacakan peraturan di Kerajaan Magixion. Banyak peraturan memusingkan bagi CArlotta, termasuk dilarang masuk ke kamar suaminya sendiri, dan menunggu Raja Altezza menghampiri Ratunya.


“Good, peraturan terakhir aku suka. Aku juga mana mungkin masuk ke kamar pria. Ck bukan gayaku. Semoga pria itu hilang entah kemana.” Kesal Carlotta.


Carlotta dibantu dayang membersihkan diri sebelum mulai ritual malam pertama.


“Ternyata jadi Ratu ada enaknya, mendapat pelayan seperti ini.” Senyum Carlotta karena begitu dimanjakan, tubuhnya benar-benar rileks mendapat pijatan dari dayang.


Dayang juga membantu Carlotta memasang gaun ritual malam ini dan menata rambut serta memberi wewangian pada tubuhnya.


“Kami permisi Yang Mulia Ratu Magixion.”


Dia termenung di balkon kokoh kamar, menatap pada rembulan yang berbentuk lekukan senyum.


BRAK


Pintu kokoh kamar Ratu terbuka, masih menggunakan topeng dan tersentak melihat suaminya masuk kamar, dengan beberapa pelayan membawa sajian.


“KAU?” tunjuk Carlotta pada suaminya.


“Silahkan Baginda Raja dan Ratu –“ Membacakan lantunan harapan dan doa pada sepasang pengantin ini, baru kemudian Carlotta berani mendekati suaminya setelah pelayan pergi.


“Kau laki-laki itu?.” Carlotta ingat pria yang ingin menangkap serta mengejarnya.


Sikap angkuh dan kebencian dipancarkan Carlotta. Dadanya naik turun, napasnya menderu serta tajam menatap Raja Altezza.


Keduanya sama-sama membuka topeng dan terkejut melihat wajah masing-masing.


“KAU?”

__ADS_1


“KAU”


...TBC...


__ADS_2