
BAB 21
“Yang Mulia.” Pekik seorang pelayan menahan tubuh Carlotta yang limbung dan kehilangan keseimbangan.
Buku di tangannya jatuh dan mendarat sempurna di atas lantai, kedua tangan Carlotta gemetar, tubuhnya lemas seakan rontok sudah tulang kuat yang menopang struktur tubuhnya. Hatinya hancur, kepalanya mendadak buntu tidak bisa berpikir.
Carlotta berusaha mencoba bernapas tapi sesak yang ia rasakan.
“B-bagaimana bisa ada di buku ini? Bagaimana bisa? Apa hubungan dia dengan semua ini?.” Suaranya lirih dan tercekat di tenggorokan, keringat dingin langsung menyambar pada sekujur badannya.
Carlotta Maldini terkejut bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak, melihat sosok wanita dalam buku itu. Wanita yang telah mengkhianatinya, wanita yang telah menorehkan luka pada dirinya.
Anastasia Maldini, anak angkat Luciano Maldini. Lebih tepatnya anak dari musuh yang berhasil Luciano kalahkan. Saat itu Anastasia masih kecil, tapi tepat di depan matanya ia melihat orangtuanya di bunuh, darah segar mengalir dari kepala keduanya.
Anastasia hanya bisa menangis menjerit ketakutan. Bukan tanpa alasan Luciano membantai mereka, karena mereka adalah racun yang hidup dalam salah satu organisasi mafia, mereka selalu mengadu domba antara pihak satu dan lainnya. Selain itu menyelundupkan beragam senjata guna memperbesar kekuatan pemberontak.
Luciano bersama ketua mafia lain sepakat untuk menghabisi, memutus mata rantai yang selalu menyebabkan persaudaraan antar sekutu mafia retak.
Tidak tega meninggalkan seorang putri kecil menangis sendirian di dalam kamar, Luciano yang memiliki sifat penyayang membawa Anastasia ke mansionny. Hidup berdampingan bersama Carlotta yang baru saja kehilangan sosok ibu.
Kedua gadis itu tumbuh saling berbagi dan mendapat cinta dari seorang ayah. Luciano memberikan sama rata kasih sayang dan hartanya pada Anastasia, karena anak itu memiliki bakat terpendam dan bisa mendampingi Carlotta kelak ketika memimpin Moisa.
Rencana hanyalah rencana, Carlotta menjadi korban dari ketidakadilan, tanpa di duga Anastasia melakukan penyerangan ketika mereka berada di Semenanjung Balkan untuk mengawasi dan menyelesaikan konflik ekstern.
Carlotta yang terlanjur mempercayai Anastasia, tidak menaruh curiga apapun bahkan ia menyayangi seperti kakak kandungnya sendiri. Namun siapa sangka, karena ambisi dan dendam membutakan Anastasia hingga tega menyerang Carlotta.
Masih dalam keterkejutan, Carlotta berusaha berdiri, ia berjalan dengan kedua kakinya yang masih gemetar.
“Yang Mulia, hamba akan memanggil dokter kerajaan.” Tukas pelayan.
“Tidak, jangan. Aku tidak mau Raja Arandele tahu keberadaan-ku. Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku.”
__ADS_1
Carlotta menyimpan buku itu dalam tas yang ia bawa, perlahan tapi pasti dirinya akan mempelajari semua.
“Katakan, apa yang kau tahu tentang Ratu Arandele?.” Tanya Carlotta, karena selain sosok Anastasia, dalam buku juga terdapat wajah cantik rupawan bak Dewi Venus yang mirip sekali dengan Helena dan Putri Hera.
“Mendiang Ratu? Saya tidak terlalu tahu Yang Mulia, karena saya baru mendampingi Yang Mulia ketika remaja, mungkin seseorang bisa memberi informasi yang dibutuhkan.” Tutur pelayan itu, takut.
“Bawa aku padanya, aku ingin tahu semua. Yah aku masih kehilangan ingatan, jadi ingin mendapatkan kembali semua kenangan masa lalu. Kau harus membantuku.”
“Baik Yang Mulia.”
Carlotta bersama pelayannya menyelinap keluar dan berusaha meninggalkan kastil, tapi sayang tidak berjalan mulus, pasalnya Putri Hera mengetahui keberadaan mereka.
Secara kasar Putri Hera merampas tas yang melekat di tubuh adiknya, sampai Carlotta tersentak.
“Apa yang kau curi Yang Mulia Ratu Magixion? Berani sekali membawa barang dari kerjaan kami dan menyerahkannya pada Raja itu, suamimu yang buruk rupa.” Putri Hera berbisik pada adiknya.
Bukan tanpa alasan, ketika hari pernikahan Helena, Putri Hera yang cerdik dan licik menyelidiki tentang Raja Altezza termasuk desas desus kutukan yang menyatakan bahwa Raja Altezza tidak sempurna.
“Aku rasa pencuri sesungguhnya di sini adalah Tuan Putri Hera yang terhormat.” Tatap Carlotta sengit, mengangkat dagu, mengintimidasi wanita pongah di depannya.
“Kurang ajar kamu, setelah menjadi Ratu rupanya kamu berubah menjadi sampah, Helena.”
Putri Hera melayangkan satu tangan hendak memukul keras pipi adiknya itu, namun Carlotta dengan santai menanggapi pertikaian tidak berguna ini. Dia tidak menangkis melainkan menggeser sedikit tubuhnya ke sisi kiri, hingga Putri Hera tersungkur pada tanah kotor.
“Bercerminlah sebelum kau mengatakan orang lain pencuri. Pikirkan kata-kata ku dengan baik Yang Mulia, dan maaf tanganku terlalu bersih untuk menyentuh dan menolong mu.” Telak Carlotta, dirinya bergegas keluar.
Bagi Carlotta, Putri Hera adalah pencuri kehidupan adiknya sendiri. Seharusnya sebagai seorang kakak, ia bisa mengayomi Putri Helena yang lemah dan bersatu melawan Magixion. Bukan malah memberikan Helena sebagai tumbal, Carlotta iba pada kehidupan sang pemilik tubuh sangat miris.
“Helena, aku akan membalas apapun yang terjadi padamu, kau jangan takut mulai sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh kita, ku pastikan itu.” Teguh Carlotta dalam hati, bibirnya tersenyum simpul.
“Yang Mulia, sangat luar biasa. Hamba tidak menyangka Yang Mulia berani melawan Putri Hera. Yang Mulia banyak berubah.” Puji pelayan setia.
__ADS_1
“Kau, bagaimana kalau kau bekerja padaku, awasi gerak-gerik Raja dan Putri Hera, aku akan membayar dengan beberapa keping emas.”
“I-iya Yang Mulia, saya bersedia. Apapun yang diperintahkan.” Bersujud di depan Carlotta, karena melayani Putri Arandele sekaligus Ratu Magixion adalah hal terpuji dan mulia baginya. Apalagi bayaran yang dijanjikan adalah emas, bisa merubah hidupnya dan keluarga.
Carlotta mensejajarkan diri dengan pelayan itu lalu memintanya bangun, ia merasa tidak layak disembah, karena derajatnya sama rata sebagai manusia.
Keduanya melewati sungai kecil yang dikelilingi pepohonan menjulang tinggi, memasuki hutan yang berbatasan langsung dengan hutan terlarang kawasan Magixion.
“Kau tahu, aku pernah memasukinya dan aku rasa mereka semua hidup.” Tawa Carlotta sembari menunjuk pada hutan terlarang.
“Benarkah Yang Mulia? Hutan itu tidak ada seorang prajurit pun yang berani memasukan satu langkah kakinya.”
“Sekarang kita kemana lagi?.” Tanya Carlotta.
“Terus saja Yang Mulia, di depan ada tanah lapang dan kita harus melewati ruang rahasia.” Jawab pelayan.
Sampai kedua pasang kaki itu tiba di tanah lapang yang di kelilingi bongkahan batu besar. Pintu terbuka, Carlotta tidak berkedip melihat tanah bergeser perlahan, benar-benar tidak masuk akal.
“Masuklah Yang Mulia, tidak apa.”
Carlotta dan pelayannya masuk pada sebuah gua, awalnya ini mirip gua biasa tapi semakin masuk ke dalam. Seorang wanita cantik dan bersinar menunggu duduk di atas sesuatu, tidak duduk melainkan melayang di udara.
“Akhirnya kau datang menemuiku Carlotta.” Senyumnya ramah dan menyejukkan hati serta jiwa.
Deg
Wanita itu mengetahui nama Carlotta, padahal tidak satu orang pun di kerajaan ini tahu jiwa siapa yang bersemayam dalam tubuh Helena.
“Siapa kau?.”
...TBC...
__ADS_1