My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 27 - Kemurkaan Raja


__ADS_3

BAB 27


Carlotta tidak mengerti kenapa Raja Altezza masih bisa bergerak bebas padahal mantra yang ia gunakan mampu menghentikan siapapun bahkan debu yang melayang di udara ikut terhenti.


“KAU” bengis Raja Altezza menatap intens pada Ratu.


Suara pedang yang dicabut dari sarungnya pun terdengar tajam di telinga, Raja Altezza menghunuskan pedang tepat ke leher Ratu. Ujung runcingnya berada di kulit, Raja hanya perlu menekannya sedikit sebelum mata tajamnya menembus leher Carlotta.


“Bagaimana bisa kau tidak terpengaruh oleh mantraku?” lirih Carlotta.


Entah kenapa tiba-tiba kedua matanya berubah, Altezza melihat tatapan memohon dari kedua bola mata jernih itu. Sesuatu yang baru ia lihat dari Ratu Helena, karena biasanya hanya ada dendam dan kebencian yang terpancar. Tapi kali ini seakan memohon, mengiba pada Raja agar menjatuhkan pedangnya.


“Ratu”


PRANG


Suara denting pedang terjatuh, Carlotta dan Altezza sama-sama bergeming beberapa detik sampai keduanya tersadar.


“Apa yang aku lakukan?” Carlotta kebingungan, seolah jiwa Helena datang dan membantunya melepaskan pedang itu dari lehernya.


“Tatapan itu sama seperti dalam buku. Mu-mungkinkah Ratu adalah dua orang yang berbeda? Tidak, Kerajaan Arandele tidak memiliki putri kembar.” Desis Altezza.


Tidak berlangsung lama Altezza langsung mengunci tubuh Carlotta pada dinding, ia tidak akan kalah dari Ratunya. Apalagi wanita ini jelas melanggar aturan yang mengikat, ia bahkan menghipnotis para penjaga lalu melarikan diri dengan mudahnya.


“Kau harus tahu Ratu. Di sini akulah Rajanya, kau harus tunduk pada perintahku, jangan berbuat semau mu. Paham? Aku tidak segan untuk membunuhmu sekarang juga Ratuku.” Bengis Altezza, kedua matanya membara, seolah membakar hangus tubuh wanita di cengkeramannya.


“Kalau begitu, buktikan kekuatanmu. Aku tidak yakin kau bisa membunuhku, kau terlalu pengecut menjadi seorang Raja. Bersembunyi di balik topeng dan terperdaya oleh dendam, yang tidak kau ketahui dengan pasti sampai ke akar.” Tukas Carlotta berusaha melepaskan cengkraman Altezza yang semakin kuat, menjepit saluran pernapasannya.


“Lepaskan aku br3n9s3k. Argh ... sekalipun aku budakmu, bukan berarti bisa kau perlakukan seenaknya saja.”


BUGH


Carlotta menendang kuat kaki Raja, ia menghirup rakus oksigen, membutuhkan pasokan lebih banyak akibat Altezza mencekiknya.


“Argh kurang ajar kau Ratu.”

__ADS_1


Altezza dan Carlotta terlibat perkelahian, keduanya saling adu kekuatan dengan tangan kosong. Beberapa kali pukulan Altezza meleset karena lincahnya gerakan Ratu dan menghindar. Sedangkan bagi Carlotta , seumur hidupnya baru menemukan lawan seimbang dalam adu ketangkasan bela diri.


Kepalan tangan Carlotta hampir saja mengenai rahang Raja, tapi lelaki ini sigap menangkis.


Walaupun Altezza hidup di zaman yang berbeda dengannya tapi semua kemampuan bela diri patut diacungi jempol dan tidak main-main. Carlotta mengerti kenapa ia dijuluki sebagai Raja terkuat di antara sekutunya.


Saling memukul, menangkis, mengunci, bahkan membelit satu sama lain. Berusaha menjatuhkan lawan tetapi keduanya sama kuat, tidak ada kata lelah pada diri mereka. Carlotta terus menyerang Altezza dengan beberapa ilmu bela diri yang dikuasainya.


“Tidak semudah itu Ratu, kau tidak bisa menjatuhkan ku.” Berang Altezza, ia melompat dan berjalan pada dinding batu, menghentak kuat tubuhnya sembari melayangkan pukulan pada Carlotta yang terperangah melihat Altezza.


BRAK


Tapi sayang, Carlotta menjatuhkan diri, sehingga kepalan tangan Raja mengenai pilar di belakang tubuh Ratu, retak dan buku-buku jari Altezza terluka.


“Masih bisa ternyata kau menghindar. Ku akui kekuatan dan nyali mi besar Ratuku. Tapi tidak semudah itu kau bisa lolos, ku pastikan kau masuk ke penjara bawah tanah sekarang juga. Tangan ku sendiri yang akan menyeret mu.” Amarah telah menguasai diri Altezza sampai ia berambisi mengalahkan Ratunya dan mengurung wanita itu di penjara yang gelap dan lembab.


“Sayangnya itu tidak akan terjadi Baginda Raja.” Seringai licik terpancar dari wajah Carlotta.


Ia menjentikkan jari, seketika pilar semula retak kini runtuh dan waktu kembali berjalan. Fokus Altezza terpecah pada reruntuhan dan pasukan yang berhamburan melindungi dirinya.


“Wanita macam apa dia itu?” batin Altezza meras kesal atas kekalahannya.


Tidak terima, Raja memerintahkan pasukan terbaik untuk menangkap Ratu Magixion, bila perlu melukai wanita itu pun bukan masalah selama masih bernapas.


“Baginda?” tanya Jenderal Luca, karena baru pertama kali Raja Altezza begitu berambisi pada seseorang hingga Ratunya tak segan ia lukai.


“Dapatkan dia untukku, Jenderal. Aku ingin dia kembali ke kastil secepatnya. Dia perempuan yang berbahaya. Pastikan kau membawanya ke hadapanku, bila perlu gunakan Zraak.” Akal sehat Altezza tidak lagi berpikir logis.


Jenderal Luca tersentak, Raja memerintahkan dirinya menggunakan Zraak sama saja mengancam nyawa Ratu. Bagi  Zraak sekali ia berburu, maka tidak bisa dilepaskan dan selalu haus akan darah mangsanya.


“Baginda?” Jenderal Luca menggelengkan kepala.


“Lakukan sesuai perintahku Jenderal atau kau berakhir di antara taring binatang kejam itu!” bengis Altezza.


Baginya menikahi Ratu Helena sebuah kesalahan dan esok hari, semua yang terlibat diberi hukuman ringan. Termasuk Penasehat Agung Orn, salah memberikan informasi mengenai Ratu.

__ADS_1


“Apakah Penasehat Agung terlibat? Kita lihat nanti, apa yang akan ia tuai.”Seringai Altezza.


**


Di sisi lain, Ratu berusaha keluar dari kota, ratusan pasukan mengejarnya bahkan melepaskan anak panah tetapi tidak satupun mengenainya.


“Raja sombong, mengandalkan kekuatan dan hanya bisa memerintahkan prajuritnya untuk menangkap ku. Tidak semudah itu Raja Altezza.” Carlotta berlari sangat cepat, kakinya tidak kenal lelah.


“Tutup semua pintu gerbang, sekarang!!” Jenderal Luca lantang memberi perintah, dan seketika itu juga suara kokoh baja terdengar telinga, katrol penahan pintu saling berputar menurunkan tajamnya besi gerbang utama.


Lalu pintu baja di sisi tembok batu mulai bergerak menutup akses jalan apapun termasuk seekor semut kecil tak akan bisa melewatinya.


“Akh sial, aku harus cepat sebelum gerbang menutup.”


Kedua kaki menyusuri tanah, gerbang utama semakin bergerak dan Carlotta menggulingkan tubuhnya tepat sebelum pintu itu menutup sempurna.


SREK


“Argghhh” raungan keras wanita ini, lengan kanan tergores tajamnya besi pada bagian luar gerbang. Carlotta menahan sakit, tapi setidaknya ia berhasil melewati pintu, dari pada harus terpenjara di tempat gelap bersama kawanan tikus.


Carlotta berjalan di tengah gelapnya malam, tanpa apapun. Ia hanya membawa buku milik Helena di dalam pakaiannya. Berharap tidak ada seekor singa yang menghadang karena mencium bau amis darah.


Sejenak langkahnya terhenti, Carlotta merobek gaun dan membebat luka itu, setidaknya bisa bertahan beberapa jam lagi sebelum mendapat pengobatan.


Carlotta bergerak menuju hutan terlarang, entahlah menurutnya saat ini tempat yang cocok untuk bersembunyi adalah hutan terlarang. Namun tiba-tiba raganya menggigil, gigi saling beradu, bibirnya pun pucat.


“Oh tidak jangan, tugas ku belum selesai. Kau harus kuat Carlotta.”


Kedua mata menutup perlahan, Carlotta jatuh tersungkur di atas tanah tidak sadarkan diri.


...TBC...


 


 

__ADS_1


__ADS_2