
Raja Altezza segera kembali ke Magixion, di tengah perjalanan ia juga mendengar bahwa beberapa pasukan telah lumpuh tak berdaya. Mahkluk mengerikan tak berdarah menyerang rasa takut para tentara, sehingga mereka kalah sebelum benar-benar berhadapan dengan musuh.
Namun tidak ada satupun yang melihat keberadaan Anastasia, Jenderal Luca setia berada di sisi Tuannya, melindungi Raja sudah menjadi tugasnya.
Dari kejauhan satu per satu anak panah mulai di tembak ke arah lawan, tombak panjang dan pedang pun menghujani pasukan haus darah itu. Namun jumlah mereka masih terlalu banyak, selain itu belum ada perintah dari Raja yang menyatakan perang.
Sesungguhnya Magixion memiliki pasukan terkuat dibanding kerajaan lain, namun tidak menunjukkan jati diri sebelum sang pemimpin benar-benar menyetujui untuk turut andil dalam peperangan.
“Luca, untuk apa kau di sini? Segera panggil pasukan terkuat kita dan gunakan senjata andalan, perang dengan Anastasia benar-benar dimulai. Kita harus melawannya sekarang, jangan bersembunyi.” Altezza lebih baik sendiri di luar kastil melawan musuh, dia tidak gentar.
“Baik, Baginda.” Patuh Jenderal Luca, memilih jalan memutar untuk memasuki kastil utama. Zraak merah yang ditunggangi begitu gesit, melewati jalan penuh pohon dan akar gantung.
Secepat kilat Luca membuka pintu tentara rahasia. “Baginda Raja sudah menyetujuinya, sekarang kalian semua, aku harap buktikan sumpah kalian.” Seru Jenderal Luca menatap tajam pada setiap resimen pasukannya.
__ADS_1
“SIAP JENDERAL.” Suara itu menggema, memberi efek merinding bagi siapapun yang mendengar.
**
Di luar kastil Altezza tampak bingung sebab angin kencang berhembus menjatuhkan dedaunan. “Tidak. Ini bukan Anastasia. Ya jika penyihir hitam itu datang, maka seluruh waktu akan terhenti dan daratan dipenuhi es.” Tegas Altezza dalam hati. Yah memang benar, itu bukan penyihir hitam tetapi istrinya, Ratu Helena.
“Helena?” Altezza terlonjak, ia sama sekali tidak menyangka, istrinya yang semula begitu dingin dan acuh di dalam ruang rahasia, dan kini tersenyum manis tepat di sebelahnya.
Sebelum mengikuti langkah Raja Altezza. Carlotta kedatangan tamu. Putri Hera tergopoh-gopoh menyambangi ruang bawah tanah.
Hera menyampaikan rencana licik Anastasia yang akan membangunkan mahkluk dari dalam jurang. Dia yang telah tertidur selama ribuan tahun, semua demi menuntaskan segala dendam seorang Anastasia. Semula dipikir bahwa Magixion akan menghancurkan Arandele, tapi ternyata tidak, kehadiran Helena diluar perkiraan Anastasia, hingga ia murka dalam istananya.
“Ratu?” panggil Altezza berharap istrinya mendengar.
__ADS_1
Dan yah tentu saja, Carlotta menoleh, mengernyitkan kening sembari berpikir. “Ada apa dia memanggilku, kenapa bukan dari tadi.” Kesal Carlotta dalam hati.
“Ratuku, aku mempercayaimu. Bantulah aku, hancurkan musuh kita bersama.” Ujar Altezza, seketika itu pendar cahaya putih terpancar dari tubuh keduanya, terbang menuju langit.
Carlotta hanya mengangguk pelan, paham akan maksud suaminya.
Dia juga membutuhkan bantuan Magixion untuk menuntaskan semua pasukan menjijikan Anastasia.
Segera Carlotta pergi ke dalam hutan terlarang, debar jantungnya sangat kuat.
“Sebentar lagi, iya sebentar lagi kita akan bertemu, Anastasia. Aku bersumpah … menghancurkanmu.” Ucap Carlotta penuh dendam dalam hati. Dia begitu percaya diri bisa melawan musuh besarnya dengan kekuatan yang dimiliki, dan Carlotta tidak takut apapun.
tbc
__ADS_1