My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 25 - Permusuhan


__ADS_3

BAB 25


Ratu terus berjalan tanpa memedulikan Raja Altezza, dirinya masih diliputi amarah dan dendam. Bisa-bisanya Raja membawanya pada hutan terlarang yang sangat berbahaya, Heimdall yang baru saja menemaninya menjadi korban.


“Baginda Raja?”


Jenderal Luca menanti titah Raja, sekalipun Ratu memiliki kekuatan, Jenderal tetap khawatir akan keselamatan Ratu , bagaimana jika pasukan Buio kembali menyerang? Raja sama sekali tidak peduli dan segera kembali ke istana.


“Baginda?.”


“Siapa Tuanmu Jenderal? Aku atau Ratu? Jika dia takut pasti akan pulang, Ratu masih mampu untuk berpikir jernih.” Raja Altezza tidak peduli, akhirnya ia pulang di dampingi Panglima dan Jenderal Luca.


Sedangkan Carlotta terus berjalan kaki menyusuri hutan yang semakin dalam dan gelap. Sampai pada satu jurang besar yang memisahkan daratan satu dengan daratan di depannya.


Carlotta bisa melihat sebuah bangunan hitam dan tinggi, tidak jelas bentuknya karena sangat jauh dan terhalang oleh kabut hitam. Seakan berada di waktu dan dimensi berbeda.


“Tempat apa itu?.” Gumam Carlotta penasaran, ia tidak mungkin ke sana, jalan ditempuh sangat sulit. Jurang hitam dan terjal membentang luas.


Carlotta memejamkan kedua mata sejenak lalu menarik napas untuk memfokuskan pikirannya.


“Minerva, aku lihat ada satu istana yang besar dan tinggi namun strukturnya lebih mirip pegunungan, selain itu ada jurang di perbatasan Magixion, tempat apa itu? Aku merasakan ada sesuatu yang memanggil kuat ke sana.”


Ya, jiwa Carlotta seakan melayang dan menariknya untuk mendekat tapi akal dan pikirannya masih normal, apalagi melihat jalan yang tidak mudah.


“Yang Mulia Ratu, kembalilah ke istana. Pelajari buku milik Helena, saat ini Yang Mulia belum siap untuk kesana, waktunya sudah ditentukan dan diramalkan dalam buku, mohon Yang Mulia jangan gegabah karena takdir masih bisa berubah ketika kita memilih.” Jawab Minerva melalui telepati.


“Minerva ... Apa itu ... Apa di sana Anastasia berada?.” Penasaran Carlotta, ia begitu membenci sang penyihir hitam yang membuatnya harus memasuki zaman ini.


“Ya. Yang Mulia jangan bertindak bodoh, segera pulang dan perkuat diri. Ada mahkluk besar di antara jurang itu yang bisa bangkit kapan saja jika Anastasia memanggilnya. Aku harap Yang Mulia menjauh.”

__ADS_1


“Baiklah, tapi kau berhutang banyak penjelasan padaku.”


Carlotta berbalik arah tapi seketika itu juga ia merasa bulu kuduknya berdiri, mendengar suara begitu berat dan besar tengah mendengkur di dasar jurang yang entah sedalam apa.


**


Ratu Helena menginjakkan kaki di Magixion sesaat setelah matahari terbenam. Peluh dan debu memenuhi tubuhnya, namun raga wanita ini masih segar dan berjalan seperti biasa memasuki kastil.


Kedua netra Ratu mendelik pada menara pengawas, di mana biasa Altezza duduk untuk melihat luasnya Magixion dan memperhatikan pergerakan Arandele.


“Ck, dia masih bersembunyi dalam kegelapan setelah meninggalkanku tanpa pengawasan. Benar-benar luar biasa suamimu ini Helena, ku yakin jika kamu yang ada di sini pasti merasa tersiksa. Aku pun sama tapi tidak peduli, tujuanku adalah untuk membalas dendam pada mereka yang telah membuat hidup kita seperti ini.”


Sedangkan di atas sana Altezza diam menatap tajam pada Ratunya. Menikahi Putri Helena untuk menjadikannya sebagai alat ternyata tidak sesuai rencana, wanita itu tidak serapuh yang Altezza pikir, sekarang rasanya percuma menikahinya hanya menambah pekerjaan tak berarti.


Altezza tidak akan bersikap baik pada Ratu, sia-sia. Lagipula wanita itu tidak mungkin mencintainya dengan tulus, tidak menyukai seorang Raja buruk rupa.


“Jenderal, mulai detik ini awasi semua pergerakan Ratu, jika melakukan kesalahan jangan segan untuk menghukumnya dan bila perlu masukan dia dalam penjara bawah tanah. Pastikan dia mematuhi semua peraturan Magixion. Termasuk larangan menginjakkan kaki di area pelatihan.” Tegas Altezza, bara permusuhan terhadap ratunya begitu panas.


“Satu lagi, hubungi Penasehat Orn, katakan padanya untuk mengurangi dayang yang bertugas di kamar Ratu. Biarkan wanita itu mandiri, dia harus belajar menghormati aku sebagai Raja sekaligus suaminya.” Desis Altezza membalik tubuh dan berjalan menuju Zraak hitam yang menunggunya untuk turun dari menara.


Carlotta tahu pasti Altezza mulai merencanakan sesuatu padanya, ia tidak akan membiarkan hidupnya menjadi sia-sia. Kini musuhnya bertambah banyak, benar kata Minerva ia harus mempelajari ilmu dan menguasainya sampai benar-benar kuat dan siap.


“Kau akan menyesal Altezza, aku bukanlah Helena Arandele, tapi aku adalah Carlotta Maldini yang akan membalas pada kalian semua. Pertama akan kita beri pelajaran adalah Putri Hera.” Sinis Carlotta melangkah masuk ke dalam bangunan utama.


Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada dayang atau pun penanggung jawab istana yang selalu melayaninya. Hanya ada dua orang dayang, keduanya juga ketakutan, bekerja dalam pengawasan secara langsung oleh Raja. Sebab tidak boleh satu orang pun berteman dan bertukar kata lebih pada Ratu, kalau tidak semua keluarga menjadi taruhannya.


“Apa yang terjadi? Kemana dayang lainnya? Biasanya mereka semua berebut mencari perhatianku.” Santai Carlotta berendam dalam air hangat, tidak ada pijatan atau menggosok tubuh oleh dayang, semua ia lakukan sendiri.


Selesai membersihkan tubuh Carlotta duduk di jendela, ia membaca buku, kata perkata di serapnya.

__ADS_1


Mempelajari teknik melayang di udara dengan menggunakan salah satu elemen dan ya Carlotta berhasil berdiri dengan kaki yang melayang di udara, tidak terjatuh bahkan langsung menguasai keseimbangan.


Tangannya menari lembut di udara kemudian merapalkan sebuah mantra dan ya benda dalam kamar perlahan terbang, melayang berputar-putar di udara, seakan kehilangan gravitasinya. Carlotta tertawa ringan sampai seekor burung merpati kecil memasuki jendela kamarnya.


BRAK


BRUK


Benda-benda berjatuhan termasuk dirinya yang nyaris kehilangan fokus, karena melihat seekor unggas masuk.


“Hi, kawan kecil, ada apa? Kamu membawa pesan untukku?.” Carlotta melihat gulungan kertas kecil terikat pada kaki burung merpati biru ini. Lantas ia mengambilnya membuka surat itu dan bercedak kesal.


“Terima kasih kawan kecil.” Melepaskan burung merpati.


Carlotta menggelengkan kepala, rupanya Putri Hera diam-diam memerintahkan seorang dayang untuk mengawasi kehidupannya di sini. Semua ia dapatkan dari pelayan setianya di Arandele.


“Helena, kakakmu ingin bermain-main dengan kita. Menurutmu permainan apa yang kita berikan padanya? Haruskah yang ringan atau sesuatu yang membuat jantungnya berhenti berdetak?.” Carlotta tertawa depan cermin lalu ia mendengar suara aneh di balik pintu.


Penasaran segera membuka tapi berulang kali pintu itu sangat berat dan sepertinya sesuatu yang berat menahan di bagian luar.


“Akh sial pasti ini ulah Raja Altezza, mereka semua sama saja tidak pernah mengizinkanku hidup tenang. Awas kalian.”


Selain memiliki kemampuan membobol kunci, Carlotta pun telah menguasai ilmu membuka kunci hanya dengan pikirannya.


KLEK


KLEK


KLEK

__ADS_1


Suara kunci mulai terbuka dan Carlotta tersenyum, sekalipun dia mulai menguasai beberapa sihir, tidak membuatnya lupa dan menggunakan sewenang-wenang. Dia hanya mau mencari dayang yang menjadi mata-mata di kasti Magixion ini.


...TBC...


__ADS_2