My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 33 - Kekuatan Baru


__ADS_3

BAB 33


Carlotta menyeringai mendengar semua perkataan menjijikan Raja Magixion. Tanpa hati nurani memerintah istrinya untuk menyerahkan nyawa, benar-benar keterlaluan.


Ratu perlahan maju mendekat, tidak gentar sama sekali dengan banyaknya pasukan Magixion, bahkan kawanan  Zraak terbang mengitari pasukan, melindungi dari serangan udara pihak manapun.


Raja Altezza bersama Zraak hitam terbang, mendekati  seseorang di bawah sana yang menatap penuh kebencian dan dendam.


Sepasang suami istri ini saling menghunuskan pedang, ingin membunuh satu sama lain. Zraak turut merasakan apa isi hati Raja, hewan bertaring panjang dan lidah api itu berkilat penuh kebencian, bersiap menyemburkan api, membakar apapun di depannya.


Zraak menginjakkan kaki di padang rumput hijau nan berkilau, Raja pun turun, melompat dari balik punggung besar naga hitam itu.Gagah berjalan menuju Carlotta, masing-masing mengangkat pedang.


Detik ini juga dua benda tajam saling beradu, berdenting keras, mengeluarkan percik api. Raja melihat sorot mata Ratu yang tidak takut sama sekali, mungkin saja di balik gerbang utama pasukan Arandele telah berkumpul dan bersiap menyerang prajurit Magixion.


“Katakan siapa sebenarnya dirimu Helena?” sentak Raja.


“Aku adalah aku yang ditakdirkan untuk mengalahkan sesuatu, kau tidak perlu tahu, hidupmu terbelenggu dalam dendam, otak cerdik tidak dipergunakan sama sekali. Benar-benar Raja yang bodoh.”  Tantang Carlotta.


Gesit menggerakkan pedangnya. Bahkan Altezza pun belum pernah melihat ilmu pedang seperti Ratu, entah apa yang dipelajari selama menghilang.


“Jangan mengganggu Arandele, atau kalian semua ku musnahkan sekarang juga.” Carlotta berhasil melekatkan ujung pedang pada leher Raja.


Semua terkejut Raja Altezza di kalahkan oleh Ratu, hanya perlu menekan sedikit saja, pasti pedang langsung melukai Raja. Tapi Carlotta urung melakukannya, sebab Raja Magixion bukanlah musuh sesungguhnya melainkan Anastasia yang harus ia kalahkan.


“Dengar Baginda Raja, aku bukanlah dermawan yang mudah memaafkan, aku juga bukan iblis yang dikuasai amarah. Kau ingin tetap hidup bukan? Ada imbalan yang harus kau bayar.” Tegas Carlotta masih tetap menempelkan pedang pada suaminya.


“Apa? Katakan! Tapi jika menginginkan keselamatan Arandele, aku tidak bisa, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga.” Raja memegang pedang Ratu, sampai darah mengalir dari telapak tangannya.

__ADS_1


Darah Raja Altezza menetes membasahi rerumputan hijau, bau amis mulai menguar menusuk hidung. Sebenarnya bukan ini yang Carlotta inginkan, tetapi Altezza masih kukuh dengan pendiriannya dan ingin melenyapkan Arandele.


“Tanpa aku bilang pun, Baginda mengetahui apa keinginanku. Mungkin memang takdir bahwa nyawamu ada di ujung pedangku.” Carlotta semakin menekan pedang, hingga ujung tajamnya merobek kulit Raja.


“Yang Mulia Ratu, Baginda Raja adalah suami anda. Mohon Ratu jangan gelap mata.” Jenderal Luca memohon, karena jika Altezza terbunuh akan membahayakan Arandele dan Magixion. Anastasia bebas berkeliaran di luar sana.


Tubuh Carlotta bergetar hebat menahan amarah, di saat terjepit saja Raja Altezza masih bersikeras.


“Tarik mundur pasukan kalian! Aku tidak segan membasahi pedang ini dengan merahnya darah Raja Altezza.” Tatap Carlotta semakin menghunus tajam pada kedua bola mata abu-abu suaminya.


“Tidak akan.” Tegas Altezza


Carlotta merasa perlu melakukan sedikit permainan pada Raja, tanpa segan ia menarik pedangnya, dengan gerakan cepat melukai bahu Raja. Hingga rintih kesakitan terdengar dan darah mulai menetes semakin banyak.


“Baginda?” Jenderal Luca menghampiri Raja, membantunya, tetapi sifat keras kepala Altezza tetap kukuh. Bahkan menyeru para prajurit untuk bertempur.


Ribuan pasukan itu maju mendekati Arandele, beberapa jatuh berguguran, karena tembakan anak panah menghujani dari atas benteng Arandele.


Zraak mulai menghampiri dan menyemburkan api pada benteng Arandele, banyak prajurit berjatuhan akibat terbakar. Belum lagi Zraak terus mengudara dan terbang di atas mereka semua, menggangu perhatian bahkan merusak beberapa pilar utama hingga runtuh.


Carlotta merasa perlu menghentikan semua ini, ia pun menggunakan kekuatan sihirnya dan mengeluarkan perisai untuk melindungi Arandele. Seketika kerajaan itu tertutup oleh sesuatu yang bercahaya, menyilaukan pandangan.


Minerva serta seorang pelayan berdiri tepat di belakang Ratu, membantu menjaga kekuatan dan menyalurkan energi bersama-sama.


Dirasa aman melindungi Arandele dari serangan, Carlotta melesat cepat mendekati pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Luca.


Wanita ini membuat pagar berduri setinggi leher orang dewasa, menghalangi semua laju pasukan bahkan beberapa diantaranya terpaksa tertusuk oleh duri.

__ADS_1


Mereka tidak menyangka bahwa Ratu Helena adalah seorang penyihir. Telah lama tidak pernah melihat sosok penyihir ikut terlibat peperangan dan ini tentu melanggar aturan.


Raja Arandele dan Putri Hera menyaksikan itu semua dari menara  pengawas, menatap takjub pada putri yang mereka rendahkan. Raja menitikkan air mata, putri yang tidak pernah ia anggap ada, justru mewarisi segala sesuatu milik mendiang Ratu.


Sedangkan Putri Hera gemetar, mengingat perjanjian yang dibuatnya bersama Helena. Ia benar-benar merasa pelu mematuhi adiknya. Helena yang sekarang sangat berbeda dari sebelumnya.


“Aku akan memenuhi perjanjian itu , Helena” ucap Putri Hera dalam hati.


Seketika perisai semakin kokoh dan besar, Minerva tersenyum mengetahui siapa yang membantu mereka.


“Akhirnya Yang Mulia Putri memilih jalan yang seharusnya.” Gumamnya.


Daksa Carlotta tersentak mendapat kekuatan baru, satu dukungan baru adalah semangat dan semakin kuat dirinya.


“Kalian semua dengarkan aku. Mundurlah sekarang, bukan karena kalah tetapi peperangan sesungguhnya belum mulai. Musuh kalian bukan Kerajaan Arandele, tetapi sesuatu di sana yang berada dalam kegelapan.” Carlotta menunjuk ke arah istana penyihir, bahkan tidak terlihat karena jarak yang jauh dan terhalang oleh kabut tebal.


“Jika kalian semua gugur di sini, siapa yang membantu kami menuntaskan musuh sesungguhnya. Kalian semua harus tahu, bahwa bukanlah manusia yang dihadapi, melainkan pasukan menyeramkan berdarah hitam tak kenal rasa takut. Mundurlah sekarang, persiapkan diri kalian!” perintah Carlotta sangat disetujui oleh Jenderal Luca, semua masuk akal atas apa yang menimpa Raja belakangan ini.


Ratu Helena menatap Raja, tersenyum licik dan merasa menang. Ia pun mendapat hadiah, Zraak mendekat dan bersiap mencabik Ratunya.


Semua pasukan baik Arandele atau Magixion tersentak, Raja masih tetap keras kepala melanjutkan peperangan ini.


“Aku tidak menerima ini semua Ratu, bayar lah dengan harga yang sesuai.” Sengit Altezza di tengah rasa sakit sekaligus amarah bercampur menjadi satu.


Zraak hitam berdiri tepat di depan Carlotta, kedua mata menatap amarah, perlahan mulut bertaring dan lidah panjang itu mulai terbuka.


Dapat terlihat betapa tegasnya rahang yang dimiliki, tidak ada yang mampu selamat dari gigitan Zraak. Taringnya terlalu banyak dan tajam, selain itu napas bau menyeruak dari dalam rongga tenggorokan.

__ADS_1


Carlotta hanya tersenyum tipis menanggapi semua perintah Raja, tangannya terangkat memerintahkan Zraak mendekat padanya, sampai raga besar itu berada tepat di depan Ratu,menghalangi jarak pandang dan pergerakan ratu, hingga Carlotta tidak bisa melarikan diri.


TBC


__ADS_2