My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 35 - Perjanjian Dengan Penyihir Hitam


__ADS_3

BAB 35


Malam setelah penyerangan Magixion, langit Kerajaan Arandele tampak gelap tanpa bintang dan bulan. Kabut hitam menyelimuti pusat kota, penduduk masuk ke dalam hunian lebih cepat sebab takut pada pemilik kegelapan.


Semakin lama kabut itu bergerak menuju kastil kerajaan. Cahaya biru menari-nari diantara kabut yang berjalan. Seluruh kota mendadak mengalami musim dingin, daun membeku, bunga mengering dan mati perlahan, daun-daun pada pepohonan berguguran, banyak ranting patah memenuhi jalan dan atap rumah rakyat.


Kabut hitam itu akhirnya tiba di Kastil, lebih tepatnya menara kamar tidur Putri Hera. Seketika waktu pun terhenti, bahkan hujan es terhenti di udara, aktifitas manusia terjeda.


Putri Hera menelan ludah sangat susah, akhirnya Anastasia datang untuk membuat perjanjian dengannya, sesuatu yang ia ketahui dari Ratu Helena.


Rasa mencekam bisa dirasakan, Putri Hera menyaksikan sendiri dengan kedua matanya bagaimana waktu benar-benar terhenti.


Para dayang di dalam kamarnya berhamburan keluar, bahkan beberapa diantaranya bermaksud membawa Putri Hera keluar, namun sayang tidak ada yang bisa mencegah niat  Anastasia.


“Yang Mulia Tuan Putri, hamba mohon ampun, jika kedatangan pertama ini tanpa membuat jadwal lebih dulu.” Anastasia begitu cantik dan tersenyum hangat, untuk sesaat Hera sedih lalu mengeluarkan air mata. Dia ingat mendiang Ratu, struktur wajah antara Anastasia dan dan ibunya sangatlah mirip.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu datang? Maaf kami tidak mempersiapkan penyambutan apapun.” Putri Hera meneguhkan hati sekalipun imbalan yang ditawarkan Anastasia sangat menggiurkan.


“Anda memang cerdas.” Sarkas Anastasia, kedua mata hitamnya seolah menguliti lawan bicara.


Mengamati menyeluruh tentang Putri Hera, dan ya benar saja seperti ramalan dalam buku, bahwa hanya darah murni keturunan penyihir putih yang bisa mengalahkan penyihir hitam.


Jika Anastasia gagal membuat perjanjian, bisa dipastikan hidupnya sebagai penyihir terkuat dan wanita hebat akan kandas. Tapi ia senang karena Putri Hera, pribadi yang sangat acuh dan tidak dalam pengawasan siapapun.


“Katakan sekarang juga Anastasia? Apa yang kau inginkan?” Hera balik bertanya, malah kali ini ia lebih berani dan tidak takut. Ingat perjanjiannya dengan Ratu Helena, dan betapa sakit ketika ia menolak menyetujui permintaan adiknya.


“Oh, Kau sangat antusias sekali Yang Mulia Putri Hera, kau memang pantas menggantikan aku di istana penyihir, tidak yang lain selain dirimu.” Seringai licik Anastasia.


Anastasia duduk menyandar di atas ranjang besar Tuan Putri, meluruskan kaki, dan memainkan tangan di depan udara, jemarinya menari menimbulkan asap hitam pekat.


“Ah Yang Mulia Putri Hera, aku hanya ingin kau menjadi sekutuku, bagaimana? Hanya berdiri di sisiku. Aku akan memberi apapun yang kau inginkan, termasuk menguasai seluruh Kerajaan, tidak hanya sekutu Arandele.” Ucap Anastasia, lalu dengan cepat ia melesat berpindah tempat di belakang tubuh Hera, tangan kanannya menempel di leher Putri Hera, kuku panjang menyeramkan pun menusuk pada kulit.

__ADS_1


Anastasia berbisik sesuatu, suara rendah sangat dalam, mendesis juga menanamkan kebencian.


“Kerajaan Magixion dan sekutunya akan menjadi milik kita, bayangkan ... kau akan disanjung oleh seluruh manusia di muka bumi. Kita memiliki kekuatan luar biasa dari prajurit Magixion, dan kau Putri Hera, menjadi Ratunya, tidak ada Ratu atau Raja yang lain.”


Tawaran yang diajukan Anastasia sungguh menggiurkan tetapi Hera hanya ingin memimpin Arandele bukan kerajaan lain apalagi seluruh kerajaan.


“Oh sungguh luar biasa, apa benar hanya berdiri bersamamu, bisa membuat dunia takluk di bawah kakiku?” Putri Hera menunjukkan wajah semangat dan senyum merekah, sikap congkaknya pun sangat ketara sekali.


“Tentu saja Yang Mulia, mari kita buat perjanjian ... dan kau akan terikat seumur hidupmu denganku, dasar b0d0h.” Lanjut penyihir hitam dalam hatinya yang busuk dan penuh kebencian.


Putri Hera panik sebab ia telah terikat dengan perjanjian adiknya, dan bagaimana bila wanita tua berkulit muda ini mengetahuinya. Pasti detik ini juga nyawa Hera melayang.


“T-tapi aku ... aku ... aakkh.” Jerit kesakitan Putri Hera ketika melihat kedua punggung tangannya terukir sesuatu, darah menetes berjatuhan ke lantai.


“Oh Maaf keponakanku, dengan ini kau tidak bisa melarikan diri.” Desis Anastasia kemudian tertawa melihat ukiran di atas punggung tangan Hera.

__ADS_1


Gadis itu masih meringis kesakitan bahkan sekarang tubuhnya jatuh di atas lantai dengan genangan darah merah. Raganya lemah tak bertulang, Putri Hera meneteskan air mata, melihat Anastasia mengacak kamarnya seolah mencari sesuatu, sedangkan sang pemilik peraduan hanya tergolek tiada upaya melawan.


TBC


__ADS_2