My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 36 - Awal Rahasia Terbongkar


__ADS_3

BAB 36


Setelah kepergian Anastasia, seorang dayang masuk kamar. Membantu Putri Hera bangun, dan merapikan kamar tersebut. Bagi Hera ada sesuatu yang aneh, kenapa dayang ini hanya diam saja, seharusnya ia bertanya apa penyebab kamar berantakan.


“Hey, kau kenapa diam saja? Tidak penasaran kenapa kamarku hancur seperti ini.” Tunjuk Putri Hera pada semua barang berjatuhan di lantai.


“Sebaiknya Tuan Putri Hera istirahat, saya akan membawa ramuan herbal agar Putri merasa tenang dan nyenyak tidur.” Jawab dayang perlahan berjalan mundur.


Tapi karena Hera merasa janggal, dengan cepat dia menahan dayang tersebut dan mendorongnya sampai ke dinding. Ia curiga dayang ini mata-mata, atau bahkan berniat jahat terhadap Arandele.


“Katakan siapa dirimu! Kau mengkhianati Arandele benar kan? Apa yang penyihir hitam itu janjikan? Aku akan memastikan kau mendekam di penjara bawah tanah.” Bengis Hera, sekalipun tangannya terluka ia masih mampu menggertak orang lain apalagi lawannya hanya seorang dayang rendahan.


“Maaf Tuan Putri, hamba tidak pernah mengkhianati Arandele. Hamba tidak ingin kerajaan ini jatuh kepada siapapun, nasib semua rakyat dipertaruhkan mulai saat ini.” Ujar dayang kepercayaan Helena.


Sontak Hera melepaskan cengkeramannya, ia juga tidak ingin melukai orang lain hanya karena tuduhan sepele tanpa alasan yang pasti.

__ADS_1


Dayang itu pun pamit keluar, sementara Hera masih menatap brankas kecil dalam lemari yang dibongkar paksa oleh Anastasia, ia mengingat betul kemurkaan sang Ratu Penyihir hitam, suara teriakannya menggelegar menusuk telinga Hera.


Hera sendiri tidak tahu apa yang dicari oleh penyihir hitam itu, sampai akhirnya dia menyebut buku. Tapi buku apa dan isinya tentang apa, Putri Hera tidak tahu menahu, bahkan melihatnya pun tidak pernah.


Sempat terlintas dalam benaknya, bahwa yang membawa buku itu pasti Ratu Magixion, adik dari Hera. Sayangnya Anastasia salah sasaran. Dan sangat membingungkan kenapa ia sama sekali tidak menyebut nama Helena sebagai ancaman yang akan menghancurkan dirinya.


Tapi abaikan saja, selama Arandele tetap aman, dia tidak peduli apapun yang terjadi di luar sana.


Tiba-tiba dayang itu datang lagi membawa ramuan herbal, untuk mengobati luka dalam dan luar.


“Silahkan diminum Tuan Putri, ini terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan.” Dayang membantu Hera minum, dan benar saja efeknya luar biasa, setelah meneguk habis, tubuhnya terasa kuat bahkan luka di tangan tidak sakit.


“Yang Mulia Ratu akan segera mengunjungi anda, mohon Putri sampaikan semua yang terjadi.” Tutur dayang menghilang di balik pintu.


**

__ADS_1


Di sisi lain, ruang bawah tanah


Altezza dan Carlotta adu kekuatan, beberapa kali ruangan ini bergetar hebat lantaran keduanya saling menjatuhkan satu sama lain. Altezza tidak peduli, ia hanya melampiaskan rasa amarahnya yang terpendam sangat dalam.


“Kau sama seperti mendiang Ratu Arandele, penyihir tidak berguna yang hanya bisa menghancurkan orang tidak bersalah. Aku akan membunuhmu Helena, dengan tanganku sendiri.” Desis Altezza, meraih pedang dalam sarungnya dan menghunuskan tepat di depanhidung Carlotta.


“Ck kau itu berlebihan, kalau mau membunuhku silahkan! Itu juga kalau kau bisa, dan pasti akan menyesal seumur hidup, kau tidak akan pernah bisa mengalahkan Ratu Penyihir, dan selamanya rupamu akan buruk rupa seperti ini.” Tegas Carlotta bahkan berani maju menantang suaminya.


“Aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah darah keturunan Arandele, dan mereka akan lenyap di tanganku, kau tahu? Dengan ini dendamku terbayar dan tidak perlu menghancurkan Anastasia.” Altezza meraih tangan Ratu, menghentak kuat sampai tubuh keduanya mendekat, dan pedang siap menusuk jantung Ratu.


Carlotta hanya tertawa sinis menanggapi semua, ia bahkan tidak ragu merebut pedang dari tangan suaminya.


“Asal kau tahu Baginda Raja, musuh utama sesungguhnya adalah Ratu Penyihir Hitam, dia yang telah membunuh kedua orangtuamu. Dia juga memfitnah Arandele, sengaja menggunakan kekuatanmu untuk menyerang kerajaanku, tanpa mengotori tangannya. Sedangkan dia bersiap merebut kekuasaan yang sebenarnya dari tangan Raja Altezza.” Jelas Carlotta panjang kali lebar.


“Maksudmu? Ku yakin semua itu hanya omong kosong.” Hardik Altezza, tapi Ratu membawa sesuatu untuk suaminya dan menyerahkan bukti itu. Sontak saja kedua mata abu-abu melebar melihat apa yang ada di pangkuannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2