My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 20 - Menyelinap


__ADS_3

BAB 20


“Maaf Yang Mulia Ratu.” Jenderal Luca menunduk memberi hormat pada Ratu Helena, kemudian mencoba berdiri dan Ratu membantu pimpinan pasukan terkuat itu bangun.


“Aku pikir Jenderal Luca bisa mengalahkan Baginda Raja.” Carlogta melirik sinis pada Altezza, sengaja ia memancing emosi Raja sekaligus musuhnya itu.


Setelah memberi sedikit kata motivasi, Ratu melangkah ke tengah lapang menantang Raja yang terkenal memiliki kekuatan.


“Sepertinya Ratu tertarik pada ilmu bela diri. Aku akan memerintahkan Penasehat Orn mengadakan pertarungan antar ksatria di arena. Mungkin Ratu menyukainya.” Santai Altezza, sebenarnya dalam hati pria ini geram, kenapa biasa istrinya masuk ke area pelatihan.


“Ck, melihat kalian saja aku sudah senang. Terima kasih niat baikmu ingin memberi hiburan.Tapi..........” Carlotta melirik pada pedang tajam di sisi Raja lalu mengambil pedang dan melemparkannya, melesat cepat hingga tepat menancap pada atap salah satu bangunan.


Semua terkesima dengan keahlian Ratu Magixion, tak ada yang menduga bahwa Ratu memiliki kemampuan menggunakan benda tajam itu.


“Apa yang kau inginkan Ratuku?.” Tatap tajam iris abu-abu Raja.


“Mudah, beri aku akses memasuki tempat ini dan berlatih bersama kalian. Itu saja.” Tawa Carlotta renyah.


Hal menarik bagi Ratu, tapi menyulut api perselisihan baru antara dirinya dan Altezza. Raja merasa istrinya tengah melancarkan aksi sebagai mata-mata Arandele, dan itu tidak akan ia biarkan terjadi. Bagaimanapun dirinya menikahi Helena utuk memuluskan tujuannya, bukan memberi angin segar pada Arandele.


“Ku tunjukan seberapa kuat Rajamu.” Desis Altezza


“Kalian kemari, kita akan bertarung.” Perintah Altezza pada beberapa prajuritnya yang berbaris.


Raja bahkan ingin melawan dengan beberapa orang sekaligus, dirinya merasa terluka harga diri karena sikap Ratu. Tapi niatnya untuk menunjukkan kekuatan pada Ratu gagal sudah, ketika wanita itu melenggang pergi keluar arena pelatihan.


“Ya ya silahkan lanjutkan latihan kalian.” Mengibaskan satu tangan.


Di pintu keluar Carlotta berpapasan dengan Penasehat Agung Orn yang langsung memarahinya, karena berani menginjakkan kaki di tempat pelatihan yang tidak layak bagi seorang Ratu.

__ADS_1


“Yang Mulia, tidak sepantasnya menapakkan kaki di sini, tugas Yang Mulia bukan berperang melainkan menjaga Kerajaan dengan kelembutan anda dan memberikan contoh pada wanita di seluruh Kerajaan mengenai sikap baik anda.” Namun pikiran Carlotta melayang, ia tidak menggubris kata-kata rendahan Penasehat Orn, yang ada dalam otak Carlotta malam ini juga ia harus keluar dari Magixion apapun caranya.


**


Malam hari di saat semua orang terlelap di peraduan, Carlotta mengendap keluar kastil.


Setidaknya beberapa hari tinggal di istana kokoh ini mengetahui beberapa kebiasaan dan keseharian para penjaga.


Carlotta mengikat rambut, dan menggunakan jubah hitam menutupi kepala. Carlotta melihat ukiran pada pintu kastil yang kuat, bisa dipastikan jika terjadi perang tidak mudah dihancurkan oleh apapun.


Carlotta berjalan pelan pada salah satu tempat, dengan menggunakan pisau kecil ia membobol pintu, matanya melirik waspada ke kiri dan kanan.


“Yeah, berhasil.” Serunya bahagia , rupanya kemampuan kecil yang ia pelajari berguna untuk mencuri sesuatu.


Carlotta melepaskan Kuda Heimdall dari kandangnya. Lagi-lagi memakai keahlian kecil untuk melarikan diri dari ketatnya penjagaan. Ia bahkan menunggangi kuda kesayangan Raja Altezza. Carlotta melewati semak kecil dan jalan berlumpur di belakang kastil, ia memutar untuk mencapai gerbang utama Magixion.


Sampai akhirnya berhasil keluar di saat gerbang itu terbuka, Carlotta menyelinap dibalik gerbong pengantar bahan makanan. Tidak ada seorang pun yang tahu perginya Ratu Helena kecuali suaminya sendiri yang melihat dari menara pengawas.


Sementara di menara pengawas


Raja Altezza terus menatap kepergian Ratu, tidak terlintas dalam benaknya bahwa semudah itu seorang wanita keluar dari gerbang utama Magixion dengan penjagaan ketat. Rahang Raja berkedut, kedua tangannya terkepal sempurna, kedua bola mata dipenuhi kilatan amarah.


“Jenderal, sebegitu kuat kah hubungan darah antara mereka, sampai Ratuku mengkhianati suaminya?. Apa ini sebagai salah satu wujud kasih sayang Ratu pada Raja?.” Sarkas Altezza ditemani Jenderal Luca.


“Baginda, mohon maaf bila hamba lancang.” Jenderal Luca menunduk hormat pada pria yang telah menyelamatkan nyawanya di masa lalu, hingga ia bersumpah akan mengabdi seumur hidup pada Magixion terutama Altezza. Kesetiaannya melebihi siapapun yang ada di Kerajaan ini.


“Katakan apapun yang ingin kau sampaikan.”


“Apa Baginda Raja mulai menaruh hati pada Yang Mulia Ratu?. Kalau itu benar, apa balas dendam ini akan Baginda lupakan?.” Tanya Jenderal Luca, karena hanya ia yang mengetahui semua taktik dan keinginan Raja.

__ADS_1


“Kuharap tidak. Tapi kau tahu Luca. Ratu bukanlah wanita bodoh, ia tidak mudah diperdaya dan tatapannya tidak pernah takut, bahkan ia berani melarikan diri tanpa penjagaan seorang pengawalnya.”


“Aku ingin lihat seberapa banyak yang bisa ia sampaikan pada tua bangka itu.” Geram Altezza.


Altezza mencurigai Helena pergi ke Arandele, untuk memberi informasi apa saja yang dilihatnya selama beberapa hari tinggal di Magixion termasuk angkatan bersenjata serta kekuatan yang mereka miliki.


“Apa Yang Mulia ingin mengirim beberapa prajurit untuk membawa Ratu kembali.?” Tanya Jenderal Luca, ia telah siap menyerukan anak buahnya namun Raja hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


**


Tiba di  Arandele, Carlotta tidak mudah melewati ketatnya keamanan. Pasalnya keadaan ini sangat berbeda dari pertama kali ia lihat. Kali ini Raja Arandele memperkuat pertahanan di gerbang utama dan gerbang lainnya.


Sedangkan Carlotta diburu oleh waktu, ia harus sampai di Magixion dalam esok hari sebelum Raja mengetahuinya.


Carlotta terus berpikir, ia berjalan kesana kemari mengetuk-ngetuk kepalanya. “Apa yang harus aku lakukan? Kalau siang seperti ini pasti semua orang melihatku.” Carlotta sembunyi diantara pepohonan tinggi.


Tapi ia beruntung, pelayan setianya lewat dan tanpa membuang waktu Carlotta memanggil pelayannya yang baru saja akan memasuki gerbang utama. Dengan bantuan perempuan muda itu, Carlotta bisa masuk ke dalam kota, lalu menuju kastil melalui jalan rahasia.


“Terima kasih telah membantuku. Jangan katakan apapun bahwa aku ke sini.” Memegang tangan pelayan dan memohon padanya, karena kalau tidak, pasti Raja Arandele mencarinya bahkan menjatuhi hukuman.


“Yang Mulia Ratu tenang saja, hamba menjamin lidah dan mulut ini selalu terjaga.”


Gegas Carlotta membuka hendak buku usang tertanda matahari dan bintang, buku itu terkunci tidak bisa terbuka sama sekali. Benar-benar membuang waktu baginya, namun netra Ratu melirik pada pisau dan beberapa tetesan darah kering pada meja batu. Lantas Carlotta menyayat kecil telapak tangannya sampai darah segar menetes ke buku itu.


Cahaya putih menyinari ruang rahasia, seolah matahari berada di dalamnya, buku pun terbang berputar membentuk tornado kecil dan sinar biru keluar dari dalam buku, sama seperti yang ia lihat di kastil Magixion.


Buku terbuka


Kedua mata Carlotta terbelalak melihat sosok wanita yang dikenalinya terdapat dalam buku, dengan nama yang sama tetapi kalimat dalam buku sukses membuat jantungnya berdetak cepat berkali lipat.

__ADS_1


“Mustahil.” Gumamnya dalam keterkejutan.


...TBC...


__ADS_2