My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 13 - Kenyataan Pahit


__ADS_3

BAB 13


Waktu dan zaman berbeda


“Papa, ini aku Carlotta. Papa tolong. Oh God kenapa tubuhku kaku, Papa.” teriak Carlotta, jiwanya meronta dan menangis.


“Papa apa kita akan pulang ke rumah? Katakan pada dokter aku belum sembuh aku masih memerlukan alat-alat ini, Papa aku mohon.” Lirihnya menangis, melihat semua alat bantu mulai dicabut dari tubuhnya.


“Tidak, ini tidak mungkin. Aku masih hidup, hey kalian tidak boleh seperti ini padaku. Aku Carlotta Maldini. Aku pastikan kalian menerima hukuman karena tidak menyelamatkan aku.”


“Papa, aku mohon.” Dalam tubuh yang membeku itu Carlotta hanya bisa menangis, hancur hatinya mengetahui ini terjadi. Tapi ia harap Luciano akan membawanya pulang ke mansion Maldini.


“Terima kasih telah memberi penangan terbaik bagi putriku.” Luciano mencoba tegar dan kuat menghadapi semuanya.


“Tuan Besar Maldini kami turut berduka, semoga anda mendapat kelapangan hati dan selamat jalan Nona Muda Carlotta Maldini.”


Keluarga besar Maldini dilanda duka mendalam, semua jajaran koalisi mafia mendampingi pimpinan Moisa itu. Pria tangguh dan kuat ini menjadi lemah seketika mendengar kenyataan pahit.


Putri tunggal Luciano Maldini dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami koma dan kondisi vegetatif. Hasil pemeriksaan pun menjelaskan bahwa organ vital Carlotta mengalami kerusakan akibat terlalu lama tidak mendapat penanganan. Selain itu tukang rusuk pelindung paru-paru dan jantung patah, pergelangan tangannya remuk.


“Tidak, Papa. ini aku. Aku masih hidup.” Samar Carlotta mendengar tangis Luciano dan beberapa orang berbela sungkawa.


“Putriku Carlotta, hiduplah dengan baik di tempat baru, Papa akan selalu memberi yang terbaik untukmu, Papa menyayangimu Carlotta, putriku.” Luciano mengecup sayang kening putri tunggalnya. Setelah kehilangan sang istri ia pun harus terpukul kehilangan permata hatinya.


Bibir Carlotta seakan terkunci kuat, rapat dan tidak bisa bergerak. Raganya begitu kaku dan dingin seperti salju.


Tidak hanya itu Carlotta mendengar isak tangis dari seseorang yang ia benci, demi apapun ia akan membalas dendam pada wanita itu.


“Anastasia, brengsek kau, awas kau Anastasia.” Geram Carlotta.

__ADS_1


Tapi ia sadar tak ada lagi yang bisa dilakukan, raganya menolak kehadirannya. Lalu kemana jiwanya sekarang pergi dan bernaung?.


“Semua ini karena Putri Hera, jiwa Helena tidak kembali sampai saat ini dan kau Anastasia, teganya kau mengkhianati persaudaraan kita.” Isak tangis jiwa Carlotta menutup mata menahan perih di dadanya.


**


Carlotta membuka lebar kedua matanya, ia menangis dalam diam, ruang kamar dengan ornamen interior mewah, bergaya victorian klasik pada zamannya, sinar matahari menyorot masuk ke dalam ruang kamar melalui celah jendela dan tirai yang terbuka.


Carlotta tertawa miris dalam hati, bibirnya hanya sedikit bergerak. “Kamu puas Helena, aku bahkan terkubur di dunia ku, aku tidak bisa kembali bersama keluargaku, Papa dan semua yang aku sayangi.”


Ternyata dirinya masih terbangun dalam tubuh Helena dan kenyataan pahit harus diterimanya, bahwa Carlotta Maldini meninggal dunia. Secara tidak langsung jiwanya terkunci dalam raga Helena.


“Semua ini karena dia, seandainya dia tidak memberi siksaan fisik dan psikis pada adiknya, pasti Helena tidak akan jatuh ke danau dan membawa jiwaku ke dalam tubuhnya. Sialan kau Putri Hera, aku sangat membencimu, kau tidak layak menjadi putri, kau tidak pantas hidup dan terlahir sebagai Putri Raja bahkan putri kasta terendah pun tidak layak bagimu. Tingkah lakumu sangat busuk.” Bengis Carlotta dalam hati, ia membatin dan hanya bisa meratapi nasibnya.


Putri Hera menyadari adiknya siuman sangat kesal, “Ck masih hidup rupanya. Adikku yang malang, pesakitan, ah tapi sayangnya dia calon istri Raja Magixion.”


 “Kau awasi adikmu jangan sampai ia kembali tidak sadarkan diri.” Raja Arandele memerintahkan Hera untuk menjaga Helena.


Namun Putri Hera kesal luar biasa, bisa-bisanya ia harus menjaga adik yang paling dibencinya. Putri Hera berdiri, mengambil air minum yang disiapkan dokter kerajaan khusus untuk memulihkan tenaga adiknya.


Tanpa hati Putri Hera menyiram satu gelas air pada adiknya dan memaki Helena.


“Dasar kau tidak tahu diri, selalu menyusahkan ku, sejak lahir dan sekarang. aku membencimu Helena. Aku bukan pengasuhmu, aku bukan saudaramu. Kehadiranmu hanya petaka bagi Arandele.” Desis Putri Hera selalu mengulang entah ke berapa kali bahwa ia membenci adiknya ini.


Tiada perlawanan apapun karena Carlotta masih syok atas kejadian yang dialaminya. Pakaian serta ranjangnya basah.


Setelah Putri Hera keluar para dayang gegas menggantinya karena jika Putri Helena sampai sakit, Raja tidak segan memenjarakan mereka atau bahkan membunuh mereka semua.


Raja Altezza ingin calon istrinya dalam keadaan yang baik dan tidak kekurangan satu apapun.

__ADS_1


 


**


Putri Helena (Carlotta) tidak diizinkan meninggalkan kastil sampai pernikahan tiba, hari-harinya dihabiskan dengan membaca buku, berlatih dan bercengkrama bersama beragam kalangan.


Beberapa hari ia lalui tanpa semangat dan selalu merenung duduk sendiri di jendela kamarnya, membaca buku pun tidak fokus sampai benda tebal yang memiliki ratusan halaman itu terjatuh dan menimpa seseorang di bawah sana.


Tidak ada benda yang bisa ia bawa dari zamannya, meskipun hanya sebuah foto. Carlotta sangat merindukan sosok ayah, begitu ingin memeluk Luciano yang sangat sayang padanya. Di sini meskipun ia seorang putri, tidak ada kehangatan yang dirasakan bersama keluarga.


“Huuuh, aku mencoba menerimanya Helena, tapi kau tahu ini semua ini tidak mudah. Aku datang tanpa apapun, tidak membawa apapun, tiba-tiba masalah pelik mengelilingi hidupku ini. Jika kau tidak mau hidup lagi, biarlah ragamu menjadi milikku tapi aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian, dampingi aku, beri tahu apa yang aku ku lakukan.” Carlotta bergumam pada dirinya sendiri, berharap Helena mau mendengar.


Tak mengapa bila Tuan Putri itu datang ke mimpinya, yang penting Carlotta sangat ingin Helena memberi tahu apa yang terjadi.


Selesai mencurahkan segala kegundahan hati, Carlotta bergegas keluar kamar, ia mencari sosok pelayan setia dan beberapa ksatria yang selalu memberinya dukungan termasuk Panglima Red.


Dia perlu informasi tentang hidup di zaman ini, mencari tahu apa alasan Magixion membenci Arandele, masih penasaran apa sebenarnya yang diinginkan Altezza.


Kalau hanya dendam semata bisa kan langsung membumi hanguskan tanah subur makmur ini, tapi kenapa seolah ia ingin menyiksa dan membunuh Arandele secara perlahan? Tentu melalui dirinya sebagai alat.


Carlotta semakin gencar memperkuat tubuhnya sendiri. Terlalu banyak intrik dan musuh di dalam istana , ia juga memerlukan tubuh yang bugar.


Apalagi dalam waktu satu minggu akan tinggal bersama musuh, ya menikah dengan pria yang mendadak menjadi musuhnya dan sampai sekarang Carlotta tidak tahu seperti apa sosok Altezza.


Seseorang bilang ia adalah pria kejam dengan wajah buruk rupa dan menjijikan, tapi pihak lain mengatakan Altezza adalah Raja paling tampan di seluruh negeri.


“Bodoh amat dengan wajahnya, aku hanya ingin membalas dendamku.” Desis Carlotta.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2