My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 16 - Penyihir Hitam


__ADS_3

BAB 16


“Kau keluar dari kastil ini. Sekarang juga.”


“Kau akan menerima pendidikan terkait etika Ratu Magixion.”


Raja tidak terima mendapat perlawanan, keturunan Arandele satu ini begitu liar dan sulit ditaklukan, sama seperti kerajaannya. Altezza memberi hukuman pada Ratu, keluar dari kastil dan diizinkan masuk kembali esok hari.


“Baik, aku keluar.......hanya keluar kastil saja bukan ke penjara masih lebih baik.” Lanjutnya dalam hati menggerutu.


“Semua orang tidak ada yang boleh membantu Ratu, ingat itu.” Geram Altezza meninggalkan kamar Ratu setelah memakai topengnya kembali.


“Maafkan kami Ratu, tidak bisa berbuat apa-apa.” Para dayang menundukkan kepala dan menatap sedih atas kejadian ini, jika Raja sampai marah pada Ratu itu tandanya ada kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.


Tidak ada satupun yang membantu Ratu, semua takut akan kekuasaan Raja Altezza, karena Raja tidak segan melakukan apapun pada mereka yang membantu Ratunya.


Tanpa alas kaki Carlotta dikeluarkan dari kastil, kesalahannya fatal menolak Raja di malam pertama. “Ah kenapa pria itu tidak mengizinkan aku memakai sepatu lebih dulu? Benar-benar suami yang kejam.”


Wanita itu berjalan-jalan, melihat sekitar istana yang terang dan ditutupi sesuatu apa itu tidak tahu namanya. Carlotta terus saja menyisir tempat tinggal barunya yang kokoh dan berdiri megah, lambang kerajaan terdapat di bagian atas, tepatnya salah satu menara, kepala naga terpahat rapi dan kuat di puncaknya.


Lampu-lampu menerangi bangunan kokoh ini dan di area sekitanya pun sangat terang seperti pagu hari. Suasana Kerajaan tampak ramai, orang-orang hilir mudik ada yang masuk membawa gerbong penuh makanan, beberapa tanaman dan hewan ternak seperti domba, sapi, kerbau.


Carlotta tidak pernah melihat hal ini sebelumnya, Arandele memiliki lahan tersendiri yang menampung bahan pokok makanan serta hewan-hewan. Ia mengikuti kemana gerbong pengantar itu, rasa penasaran menggelitik hati seorang Carlotta.


Sampai di belakang, Carlotta melihat mahkluk mengerikan merah bersayap tebal dan besar, lehernya panjang, tubuhnya bersisik, bisa dipastikan jika kulitnya itu tidak tembus akan anak panah, mungkin timah panas juga tak bisa melukai Zraak. Tidak hanya satu tetapi 9 ekor, berjalan bebas seakan melindungi kastil ini dari serangan.


Beberapa di antara Zraak bahkan terbang mulai mengepakkan sayap lalu bertengger di salah satu menara, matanya yang menyala bagai api itu melirik kesana kemari, mengawasi sesuatu. Carlotta semakin penasaran orang seperti apa suaminya itu, sangat misterius dan kejam.


“Sebenarnya siapa kamu Altezza?”, gumam Carlotta.


Mendadak Zraak mengeluarkan suara nyaring yang menyakiti gendang telinga, angin bertiup sangat kencang, beberapa puing bangunan bergoyang, aura hitam pekat terasa. Carlotta menengadah dan jelas menangkap bayangan hitam masuk kastil pada salah satu jendela paling terang di antara yang lainnya lainnya.


“Apa itu? Kenapa seperti ada badai?.” Bingung Carlotta.


Carlotta bertambah bingung ketika para Zraak yang tidak memiliki terbang menuju menara dimana kamar Raja berada.

__ADS_1


“Eh kenapa hewan binatang itu pergi bersamaan, apa ada yang salah?.” Dirinya memperhatikan suasana sekitar, ketara sekali perubahannya, semula ramai dan sekarang tiba-tiba kerajaan sangat sepi dan hening lalu dingin menusuk tulang.


Rasanya seperti musim dingin datang lebih awal.


Semua penerangan di Kerajaan padam tidak ada satu pun yang tersisa.


**


Di Kamar Raja


Wanita cantik bertubuh semampai dan sangat muda, melangkah pelan pada pria yang pernah menolaknya.


“HAHAHA.”


“Menikahinya memang mudah Yang Mulia, tapi untuk bersatu dengannya tidak semudah itu. Oh kasihan sekali.” Anastasia sang penyihir hitam menggosok kuku pada tangannya yang mulai keriput tidak seperti wajahnya yang sangat muda.


“Kau, berani sekali datang menghampiriku.” Berang Altezza, amarahnya semakin bertambah. Belum juga reda akibat ulah Ratu kini penyihir hitam datang padanya.


“Aku bisa memutar waktu sayang, jika kau mau menerimaku. Aku pastikan wajah tampan Yang Mulia Raja kembali dengan cepat. Tapi sayang, aku tidak menginginkan menjadi Ratu Kerajaan bodoh ini lagi.”


Sekali menjentikkan jari, topeng yang menempel sempurna terhempas dan rusak menjadi dua.


Anastasia tertawa jijik melihat betapa buruknya wajah Raja Magixion ini. Dari tangan kanannya mengirim bola api kecil keluar jendela entah kemana tujuannya.


“Hentikan. Masalahmu dengan ku bukan rakyat Magixion.” Hardik Altezza.


Anastasia lancang berbaring di ranjang megah milik Raja, membuka baju hitamnya satu persatu ia lempar dan hanya polos tersisa.


“Tidak tergoda kah Yang Mulia Raja padaku? Aku bisa memberikan apa yang Ratumu tidak bisa, melihat wajahmu saja ku pastikan dia takut dan jijik, mana mungkin kalian melakukannya penuh rasa cinta.”


GREP


Secepat kilat Anastasia membawa tubuh Raja Magixion ke atas ranjang, menyentil dada bidang itu hingga semua pakaiannya terlepas.


“Aku akan memberikannya untukmu malam ini.”

__ADS_1


BRAK


Altezza membanting tubuh polos penyihir itu sampai membentur lantai dan batu kokoh retak, kepala sang penyihir nampak bergeser tapi sedetik kemudian kondisinya bisa kembali seperti semula.


KREK


“Ah Yang Mulia sangat berani, dengarkan aku. Pernikahan ini tidak akan meruntuhkan kutukan dan armada perangmu tidak berguna bagiku, aku dengan mudah menghancurkan kalian. Paham.”


Helaian pakaian yang teronggok di lantai kini mulai kembali terpasang sempurna.


Anastasia berjalan mendekat pada Altezza hendak membisikan sesuatu.


**


Sedangkan Carlotta tidak henti mengalihkan pandangan dari kamar yang kini paling bercahaya. “Apa yang terjadi? Aku merasa waktu berhenti berputar dan lihat mahkluk itu juga terhenti saat terbang, ada apa sebenarnya?.”


Cahaya biru keluar dari kamar Raja bersamaan dengan turunnya salju di musim panas, bunga yang baru saja mekar beberapa hari lalu menjadi beku karena suhu dingin dan salju.


“Apalagi ini? Bukankan ini belum waktunya musim dingin?.” Tangannya menangkap butiran salju tapi seketika menghilang setelah menempel pada kulitnya.


Carlotta memilih tidak peduli, tugasnya hanya untuk menjadi mata-mata Arandele, “Benar-benar aneh, tapi sudahlah semakin aku pikirkan semakin pusing kepalaku. Sebaiknya aku segera mencari apa yang membuat Magixion semakin kuat.”


Sejauh ini belum menemukan senjata apa yang mereka miliki selain hewan terbang pemakan daging musuh itu. Lagipula Carlotta baru satu hari tinggal di kastil megah dan kokoh Magixion, bahkan dirinya diusir oleh Raja, benar-benar malam pertama yang mengenaskan.


Tubuhnya semakin kedinginan hanya dengan memakai gaun tidur. Ia pun berjalan untuk mencari tempat berlindung agar tidak terkena butiran salju yang semakin menambah kebas pada kulitnya.


Carlotta memilih duduk di bawah pohon dengan api unggun yang ia coba nyalakan beberapa kali,  untung dia pernah terjepit dalam kondisi seperti di hutan hingga tidak mengeluh.


Carlotta kembali tercengang melihat bayangan terbang melesat cepat. Para Zraak kembali mengepakkan sayap, cahaya di Kerajaan mulai menunjukan terangnya.


Seketika suara Raja menggelegar, terdengar marah sekaligus pilu.


“AAARRGGGHH.”


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2