
BAB 28
“Yang Mulia Ratu, bangunlah. Yang Mulia.” Minerva mengobati luka di lengan Carlotta, menimbulkan infeksi karena terkena racun salah satu bunga yang digunakan Magixion untuk melumpuhkan lawannya.
Sebelum kedua mataterpejam, Carlotta sempat bertelepati dengan Minerva, bahwa ia jatuh di hutan terlarang. Secepatnya Minerva mengirim Burung Rajawali untuk menjemput Carlotta yang kehilangan kesadaran.
“Kau harus bangun Carlotta, jangan menyerah. Ini belum waktunya. Kekuatan Anastasia semakin kuat, ia menggunakan Putri Hera, Kerajaan ini akan dihancurkan dari dalam dan luar. Magixion siap menyerang, pasukannya bertambah kuat.” Tutur Minerva hampir putus asa.
“Akh ... kepalaku pusing. A-apa ada a-air?”
Minerva gegas memberi Carlotta air, gelas yang terbuat dari kayu Pohon Ex ini dipercaya bisa memberikan efek menangkal racun.
Carlotta meraih gelas itu di udara, meneguk airnya hingga tandas tak bersisa. Seketika pusing di kepala menghilang, ia menatap sekitar, tempat yang kini di rasa aman dari siapapun.
“Istirahatlah Yang Mulia Ratu, perlu waktu berhari-hari untuk memulihkan tubuh.” Ujar Minerva, berdiri, menengadah lalu tubuhnya melayang, bibirnya merapalkan mantra penghapus jejak keberadaan Carlotta.
Angin kecil muncul dari terbentuknya udara, Minerva lantas mengirimnya keluar membersihkan jejak darah dan hangatnya tubuh Carlotta. Keduanya harus bersembunyi sampai waktunya tiba.
Wanita pelayan mendiang Ratu Arandele ini tahu, bahwa Raja Altezza akan menggunakan Zraak untuk melacak kemana Ratu pergi. Indra penciuman binatang bertaring tajam itu sangat akurat dan tidak akan melepaskan mangsa, Zraak selalu haus akan darah.
Altezza tidak akan sungkan menerobos wilayah perbatasan Arandele, dan hutan ini salah satunya. Mungkin hanya menanti waktu sampai jatuh ke tangan Raja Altezza yang terkenal kuat dan kejam.
“Terima kasih Minerva.” Ucap Carlotta, memegangi bekas luka yang tidak tampak sama sekali, hanya tubuhnya saja yang masih lemas akibat terpapar racun.
“Ini sudah menjadi tugasku, Yang Mulia tidak perlu sungkan. Apa yang membuat Yang Mulia bertindak gegabah seperti ini?.” Minerva membalik tubuhnya dan menatap intens Carlotta yang menghela napas.
“Aku mendapat kabar bahwa Putri Hera berencana melakukan sesuatu untuk menjatuhkan ku.” Sahut Carlotta mengingat pesan yang dibawa oleh seekor merpati.
“Apa yang akan Yang Mulia lakukan? Putri Hera memiliki sisi yang baik, hanya ... rasa bencinya pada Putri Helena membuat dia terkurung dalam perasaannya sendiri. Aku harap Yang Mulia bijak dalam menangani Putri Hera, karena hanya kalian berdua keturunan suci penyihir putih, dan Anastasia akan memanfaatkan ini.”
__ADS_1
Carlotta tersenyum mendengar penuturan Minerva. “ Ya aku tahu, hanya ingin memberinya pembelajaran saja. Dia terlalu angkuh menjadi seorang putri. Dia juga tidak segan menghancurkan adiknya. Ah, aku hanya mau bermain dengannya sebentar saja.”
Kembali naik ke atas ranjang dan memejamkan matanya. Carlotta sangat memerlukan pemulihan tubuh.
**
Di Luar sana
Jenderal Luca bersama pasukannya dan seekor Zraak mencari Ratu Magixion, menghilang sangat cepat. Padahal yakin Ratu berada di perbatasan Magixion, Zraak mencium darah Carlotta lebih dulu sebelum dibersihkan, binatang ini bersiap mencabik-cabik tubuh Ratunya.
“Jenderal, kemana lagi kita? Apa harus masuk ke hutan terlarang? Sepertinya Ratu ke dalam sana.” Tutur Panglima pasukan terbaik Magixion. Sesuai perintah Raja bahwa Ratu harus ditemukan sebelum matahari terbit.
“Masuklah ke dalam, dan temukan Ratu. Tapi ingat jangan melukainya, bagaimana pun beliau adalah istri Raja, aku yakin Baginda hanya marah sesaat.” Bijak Jenderal Luca.
Sebanyak empat puluh pasukan pun memasuki hutan terlarang, menyisir satu persatu semak dan pepohonan, bisa jadi Ratu bersembunyi di balik besarnya pohon.
Sementara Jenderal Luca sang penunggang Zraak, mengawasi mereka semua dari udara. Bahkan Zraak terbang mengelilingi sepanjang hutan, ia mengeluarkan suara nyaring untuk memancing lawan keluar sekalipun bersembunyi di bawah tanah.
Kepakan sayap bergerak dan membentang luas. Sang Naga Merah ini memancarkan kedua bola mata api melirik ke sana kemari mencari Ratu.
Namun Zraak hanya bisa merasakan keberadaan Carlotta, ia tahu wanita itu berada di dekatnya tapi tidak bisa melihat di mana lokasi Ratu. Indra penciuman Zraak pun terganggu karena jejak darah menghilang, belum lagi ada bau aneh menurut binatang bertaring kuat ini.
“Ada apa Zraak? Kau ingin makan malam? Mau berburu?.” Tanya Jenderal Luca, sangat perhatian.
“Makanlah yang lain, jangan mengigit Ratu. Kau tidak mau kan Raja mengurung mu? Ini hanya kemarahan sesaat, aku yakin itu.”
Naga merah ini masih melirik tajam ke sana sini, ia waspada melindungi tuannya, Jenderal Luca. Tiba-tiba Zraak berteriak keras, menghentikan semua kegiatan prajurit di bawah sana.
“Apa kau menemukan keberadaan Ratu? Di mana dia?.”
__ADS_1
Zraak bingung apa yang harus disampaikan pada Jenderal. Bola mata apinya melirik pada hutan hijau dan asri Arandele.
Luca pun mengikuti arah pandangan naga merah dan menggelengkan kepala, tanda tidak mungkin. Pasalnya dengan luka sayatan yang mengerikan, seorang wanita tidak akan bertahan lama apalagi berjalan sejauh ini.
“Tidak Zraak, jejak darah ratu menghilang, aku tidak bisa menemukanya. Ini terlalu cepat menghilang dalam waktu yang singkat, tidak mungkin Ratu memasuki Arandele.” Tolak Luca untuk semakin mendekat. Tapi mendadak Zraak semakin terbang tinggi, mengepakan sayap lebarnya tepat di sisi bulan yang bersinar terang.
Kemudian sangat cepat menuju hutan besar Arandele. Bahkan binatang ini enggan terbang mengikuti perintah Jenderal, ia turun di tengah-tengah bebatuan dan pohon yang tampak segar dan rimbun.
Leher panjang Zraak bergerak mencari sesuatu yang begitu kuat dirasakan, lubang hidungnya pun tidak diam saja mengendus tanah coklat.
Zraak terbang seakan meninggalkan hutan namun siapa sangka mahkluk haus darah ini melompat tinggi dan mendarat cukup kuat. Tanah di sekitarnya bergetar bahkan beberapa pepohonan terjatuh akibat Zraak.
Lagi-lagi berusaha mencari sesuatu, kemudian mengeluarkan suaranya yang melengking menyakiti telinga.
Jenderal Luca hanya menunggu, mungkin Zraak menemukan Ratu tapi tidak tahu di mana.
Sementara dalam ruang bawah tanah, Carlotta yang semula terlelap dalam peraduan, tiba-tiba tubuhnya terpental jatuh. Dia melihat Minerva pun berpegangan erat pada pilar kayu, tidak lama suara keras itu datang lagi.
“Aaaaakkkkkkhhh apa ini?.” Pekik Carlotta, ia membantu Minerva bangkit dan duduk bersama.
“Itu Zraak, dia tepat di atas kita, binatang kesayangan Raja Altezza. Baginda mengirimnya untuk mencari mu, pasti dia telah mencium bau darah. Mahkluk itu akan terus memburu Ratu.” Jelas Minerva terus menutup telinga.
Beberapa detik kemudian Ratu merasa sakit luar biasa pada bagian lengan yang dalam masa penyembuhan. Dadanya berdetak tak karuan, seolah jiwa mereka yang mati memanggil nama Carlotta dan tanpa sadar berdiri, kakinya melangkah mendekati pintu masuk.
“Tidak ... Ratu ... jangaaan.” Teriak Minerva yang hanya bisa duduk diam.
...TBC...
__ADS_1