My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 30 - Balas Dendam Helena


__ADS_3

BAB 30


Putri Hera berjalan, sikap angkuhnya sangat memuakkan bagi Carlotta, ah salah tapi siapapun itu. Dia tidak pernah bersyukur atau bersikap lemah lembut terlahir sebagai seorang putri.


Putri Hera dan Carlotta sama-sama kuat, memiliki bakat sejak lahir, diberkati kekuatan dan otak cerdik serta paras cantik. Namun sayang hati keduanya sangat berbanding terbalik, Carlotta tumbuh dalam kasih sayang Luciano sekalipun hanya seorang ayah, ia bisa mendapat figur ibu sekaligus karena Luciano pintar memposisikan diri.


Berbeda dengan Raja Arandele, terpuruk dalam kubangan duka terlalu dalam hingga membelenggu kehidupannya. Mengabaikan anak-anak, sampai keduanya memusuhi satu sama lain, menyalahkan kepergian mendingan Ratu karena lahirnya Putri Helena.


“Katakan apa yang kau dapatkan dari Magixion? Kau tidak lupa tugas utamamu kan? Atau jangan-jangan adikku berubah, menjadi teman tidur Raja.” Kata-kata berbisa mengalir lancar dari bibir tipis Putri Hera.


Carlotta tertawa renyah, mendekati Putri Hera, mengitari tubuh tegap tak berguna itu lalu menatap rendah kakak dari Helena ini.


“Apa Yang Mulia Tuan Putri tidak tahu seberapa kuat Magixion? Berani sekali seorang putri sepertimu menantang Ratu.” Sinis Carlotta, rahangnya mengeras, dua mata mantap tajam Putri Hera.


“Kurang ajar kau Helena, aku ini kakakmu. Sudah sepatutnya kau tunduk dan patuh padaku.” Putri Hera terpancing emosi, melayangkan tangan kanannya pada pipi Carlotta.


GREP


Tangan kuat sang Ratu menahan bahkan mencengkram pergelangan tangan Putri Hera. Kuku tajam menancap pada kulit, seperti taring ular berbisa.


“LEPAS” Putri Hera mengamuk, menarik paksa tangannya tapi sayang Carlotta jauh lebih kuat darinya.


“Oh apa semua ini Raja buruk rupa itu yang mengajarkan padamu, adik kecil? BERANI SEKALI KAU HELENA.” Bentak Putri Hera,  otot-otot di lehernya menegang.


BRUK


Carlotta menghempas kasar tangan Putri Hera, bokongnya menyentuh keras bebatuan di tepi danau. Sudah pasti memar, seperti yang pernah ia alami. Riasan rambut pun berantakan, mahkota ruby terjatuh dari atas kepala.


“Lancang sekali kau.” Desis Putri Hera masih tidak menyerah dan tak jera meskipun tubuh bagian belakangnya sakit.


Tanpa Carlotta tahu, ternyata dalam mahkota putri terdapat benda tajam, salah satu aksesoris bermata runcing sengaja di sembunyikan guna melindungi Putri dalam segala bentuk ancaman apapun.

__ADS_1


Putri Hera menarik benda itu, menggenggamnya erat tertutup oleh kepalan punggung tangan. “Aku tidak peduli apa yang terjadi esok hari, tapi setidaknya kamu tak akan bisa menyentuhku lagi Helena.”


SREK


Masih dalam genggaman Putri Hera, ia mendongak melihat adiknya. Seharusnya terjatuh, tapi masih berdiri kokoh. Rupanya Carlotta sigap mundur satu langkah, dan hanya menggores pakaiannya saja tanpa menyentuh sedikitpun kulit.


“B-bagaimana bisa? D-dia seharusnya terluka.” Ucap Putri Hera, kedua mata indahnya melebar.


“Kau terkejut Yang Mulia Tuan Putri? Sebagai pewaris takhta, rupanya otak dan tanganmu masih bisa diperhitungkan.” Sarkas Carlotta.


“Apa kau ingat danau ini, kakak? Katakan!” Carlotta menarik rambut Putri Hera membawanya tepat ke bibir danau, seolah siap melempar wanita itu sekarang juga.


“Kau tahu betapa dinginnya air danau? Kau pernah mengalami patah tulang? Tahu sakitnya? Apa perlu aku ingatkan sesuatu yang terjadi di sini? Hanya karena sebuah gaun, tanpa perasaan kau lukai adikmu sendiri.” Carlotta tertutup oleh bara balas dendam.


Rasa sakit yang dialami Helena sangat merasuk dalam dada, bedanya Carlotta masih memiliki belas kasih tidak menggunakan kekuatannya untuk hal kotor dan keji.


“Jadi ... kau ingin balas dendam? Lakukanlah jika bisa melawanku. Kau tidak lebih dari sekadar pembawa sial bagi Kerajaan, kelahiran mu tidak mendapat pengakuan dari Raja.”


“Tuan Putri tidak takut padaku? Dahulu aku memang adikmu tapi sekarang Helena bukanlah adik penurut dan mudah ditindas lagi.”


“Aaaakkkhhh.” Jerit kesakitan Putri Hera karena Carlotta semakin kuat menekan tangannya.


“Kurang ajar kau, Helena. Aku tidak akan menyerah. Aku tidak segan membunuhmu.” Teriak Putri Hera sakit, marah dan dendam menjadi satu.


“Kalau begitu, bunuhlah. Buktikan kata-katamu sekarang juga. Yang Mulia Tuan Putri.” Carlotta merubah keadaan, ia melepas tangan putri Hera beberapa detik. Kemudian memegang kuat pergelangan tangan dan mengarahkan besi tajam ke arah leher.


Namun Putri Hera bergeming, dari lubuk hatinya jelas mengatakan tidak, bagaimanapun mereka satu darah, terlahir dari benih dan rahim yang sama. Ikatan batin antar saudara jelas ada walau diselimuti benci.


Sudut bibir Carlotta berkedut tipis, tepat sesuai dugaan. Tidak berhenti sampai di sini, ia tetap bermain-main dengan Putri Hera. Menggali sejauh mana kemampuan Putri arogan ini.


“Kau menantang ku, Helena?” Putri Hera mendorong kuat tangannya dan benda itu pun mendekati kulit leher Ratu.

__ADS_1


BYUR


Carlotta mendorong Putri Hera jatuh ke danau, wajah terkejut ketara sekali. Jelas dia tidak siap menerima serangan Carlotta yang sangat cepat.


Suhu dingin air mampu membekukan darah, membuat pembuluh darah serta beberapa organ vital rusak dalam hitungan lima menit.


Putri Hera mahir berenang, tidak sampai lima menit ia sampai di daratan, menghirup udara sebanyak-banyaknya, daksa tegapnya menggigil, kulit pada telapak tangan mengkerut.


Carlotta menuruni tebing batu terjal, menghampiri Putri Hera tampak kepayahan. Kedua sorot matanya masih memancarkan kebencian sekaligus bingung.


“Kenapa? Kau ingin aku melakukan hal yang sama terhadapmu, begitu kah? Ah maaf, aku bukanlah pencabut nyawa. Tapi kau bisa membalasnya dengan satu kebaikan.” Carlotta mengajukan banding pada Putri Hera, ia akan menggunakan keahliannya memikat dalam perjanjian.


“Apa maksudmu Helena?”


Tidak basa-basi lagi, Carlotta menarik tangan Hera menggores telapak tangan itu hingga mengeluarkan beberapa tetes darah. Kemudian dilakukan hal yang sama padanya, dia juga merapalkan mantra khusus perjanjian.


“Kau ... k-kau penyihir, hal gila apa yang kau pelajari Helena? Ini gila, barusan itu untuk apa?” Putri Hera tersentak serta menatap waspada adiknya.


“Itu perjanjian, kau akan setia, melayaniku dan memenuhi keinginanku Yang Mulia Tuan Putri. Aku tidak meminta banyak hal. Hanya saja ...” Carlotta meraih kepala Putri Hera.


Membisikkan kata-kata cukup panjang dan lama. Kening Hera mengkerut tanda berpikir, lalu ia mendorong daksa adiknya sampai mundur beberapa langkah.


“ITU HAL GILA, TIDAK MUNGKIN TERJADI. AKU TIDAK MAU.” Menolak pada perintah sekaligus permintaan Carlotta.


“Aaaaakkkkhh sakit, apa yang kau lakukan, Helena.” Teriak Putri Hera, seketika rasa sakit menjalar pada tubuhnya dari kaki merambat naik ke atas kepala, seolah ada yang menusuk kuat dan menancapkan paku.


Itulah perjanjian Carlotta dan Putri Hera, mengikat kuat, menginginkan kesetiaan bukan penolakan apalagi penghianatan.


“Kau akan terus kesakitan bila menolak, lakukan saja tanpa banyak bicara dan ingat ini rahasia kita berdua.”


Carlotta meninggalkan Putri Hera dalam gelapnya malam, bahkan menghilang di bawah sinar rembulan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2