My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 18 - Alasan Raja


__ADS_3

BAB 18


“Aku menginginkanmu Ratu. Menginginkanmu sebagai wanitaku.”


“APA? Gila.” Carlotta terpekik.


Altezza secara terang-terangan mengatakan menginginkan Ratu Helena seutuhnya.


“Kenapa? Apa Ratuku tidak percaya?.” Altezza berusaha merayu wanita yang telah resmi menjadi pendamping hidupnya itu, bukan tanpa alasan. Ia ingin Ratunya menyerahkan diri secara sukarela, hingga kutukannya bisa musnah.


“Ini aneh, sikapnya menggelikan. Padahal jelas sekali dari sorot matanya bahwa dia membenciku, tapi bibirnya benar-benar berbisa.” Pikir Carlotta, ia selalu mencoba menghubungkan puzzle yang belum juga terpasang sempurna.


Carlotta  masih tidak mengerti untuk apa menikahinya tanpa cinta dan terbukti dari pertama mereka bertemu tidak ada sedikitpun belas kasih Altezza bagi Helena. Isi kepala Carlotta seperti benang kusut, sungguh membingungkan.


Mungkin saja Raja memilihnya sebagai istri karena para Putri lain tidak ada yang mau mendampingin Raja Altezza, tapi kebenaran ini tidak ada yang tahu.


Lalu harus melahirkan anak darinya, benar-benar sesuatu di luar dugaan Carlotta, dan sosok Raja adalah pria misterius baginya. Mana mungkin Carlotta rela melahirkan keturunan dari pria yang bahkan tidak ia ketahui dengan benar.


“Aku menjadi wanitamu? Oke baik statusku memang Ratu, tapi tidak bisakah Yang Mulia mencari selir mungkin, biar aku bantu carikan kalau hanya untuk melakukan ‘itu’. Aku bukanlah wanita yang mudah mempercayai seseorang termasuk Baginda Raja, maaf bila kata-kata ku ini lancang." Tutur Carlotta kali ini sedikit lebih sopan, karena Alttezza juga merubah nada bicaranya dan sifat angkuhnya ia singkirkan.


“Ratuku bilang selir?.”


Carlotta mengangguk cepat dan memperhatikan perubahan sikap Raja, pria ini tidak bisa ditebak dengan mudah.


“Kalau aku menginginkan selir, dari hari sebelumnya juga bisa mendapatkan dengan mudah. Tapi aku tidak membutuhkan mereka semua. Aku.....”


Altezza berjalan mendekati Ratunya, memegang topeng yang terpasang pada wajahnya itu. Semakin dekat pada Carlotta, iris abu-abunya seolah mengatakan sesuatu yang tidak terduga.


Tepat di daun telinga Ratu, Altezza membuka sedikit topengnya dan berbisik


“Aku hanya menginginkan Ratu Helena sebagai wanitaku, belajarlah menerima Rajamu sebagai suami, bukan musuh.” Mengecup daun telinga itu.


Tapi tanpa diduga, Raja mendapat sikutan keras dari Carlotta yang mendadak suasana horor juga mistis. Ia akan pastikan mencari kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di kastil ini. Bagaimana bisa Altezza menjadi mengerikan dan kerajaan Magixion tidak subur.

__ADS_1


“Kau lebih kuat dari dugaanku, luar biasa.......... gadis kecil ini membuatku penasaran.” Altezza mengangkat dagunya, tatapan tajam menukik pada Carlotta. Sedangkan wanita itu membalas sengit pertarungan indra penglihatan yang didahului oleh Raja.


“Suatu saat kau harus melahirkan seorang putra untuk ku, tapi sebelum itu lahirkan-lah putri yang cantik sama seperti dirimu. Aku tidak ingin menyerahkan putraku pada orang lain dan dibesarkan di luar Magixion.” Pria ini begitu lugas mengatakan Ratu Helena harus melahirkan anak laki-laki yang tidak akan bisa mereka miliki untuk dibesarkan, sontak Carlotta marah semakin tidak mengerti semua tentang kerajaan ini.


“Apa-apaan kau ini Yang Mulia? Aku katakan sekali lagi. Aku tidak ingin memiliki anak bersamamu Yang Mulia.” Sangar Carlotta.


“Benar-benar sulit dimengerti dan aneh, mengapa aku dibawa-bawa pada semua ini?.”


“Ratuku sungguh ingin mengetahui apa yang terjadi?.” Suaranya terdengar lembut tapi tatapan Altezza serta bahasa tubuhnya tidak demikian. “Kalau begitu ikut aku.”


GREP


“Hey lepas.”


Menarik paksa lengan Ratunya.


Altezza membawa Ratu Helena ke ruang baca khusus Raja, di sana terdapat lukisan Raja dan Ratu Magixion, kedua orang tua Altezza yang meninggal dibunuh seseorang.


BRAK


“LIHAT RATU BUKA MATAMU BAIK-BAIK.” Perintah Raja Altezza membentak kuat Ratunya, menarik rambut Carlotta dan menghempas gadis itu sampai tersungkur ke lantai. Carlotta yang tidak siap menerima serangan terpelanting begitu saja.


“Br3n9sek kau Altezza.” Desisnya pelan.


Raja menunjukkan paksa pada Ratu siapa pembunuh Raja dan Ratu Magixion terdahulu, semua bukti mengarah pada Kerajaan Arandele.


“Lihatlah semua ini ulah siapa? Apa salah kedua orang tua ku pada Arandele? Katakan Helena, apa?!.”


“Mana ku tahu Baginda Raja.” Jawab Carlotta ketus. Dirinya mencoba menganalisis semua tapi semakin dipahami Carlotta  tidak mengerti apapun.


Apa alasan Arandele membunuh Raja dan Ratu itu? Tidak ada kalimat jelas mengenai perselisihan atau pun perebutan perbatasan. Selama ini Carlotta hanya tahu bahwa Magixion menyerang kerajaannya tanpa alasan dan menunjukan senjata baru yaitu Zraak.


“Apa Ratu, tidak tahu? Aku, Altezza tidak mungkin menyerang kerajaan lain tanpa alasan.”

__ADS_1


“Kau lihat ini.”


BRUK


Altezza melempar bukti kuat bahwa pembunuh yang sebenarnya adalah Ratu Arandele, dalam kitab kosong yang ditemukan di dekat abu Raja dan Ratu.


“Tidak mungkin kalau Ratu Arandele yang melakukan pembunuhan. Baginda tahu? Kebaikan Ratu di kenal luas oleh seluruh rakyat.” Carlotta langsung menutup mulut kenapa bisa ia berkata sesuatu yang tidak pernah diketahui atau dipikirkannya.


“Baik bagi rakyat kalian tapi dia adalah musuhku termasuk Ratuku Helena, Belum sempat aku membalas dendam dia lebih dulu pergi selamanya.” Altezza melempar pisau dan tepat menancap di peta dunia.


Buku itu memiliki sampul emas berlogo bintang dan matahari lambang Kerajaan Arandele yang dibuat khusus oleh mendiang Ratu. Logo serta rupa fisik buku itu sesuatu yang tidak asing bagi Carlotta, ia rasa pernah melihatnya.


“Dimana aku pernah melihat buku seperti itu? Apa perpustakaan atau di kamar ku sendiri?."


“Kau tahu Ratu, ibumu memberi mantra pada kedua orangtuaku, hingga mereka tersisa hanya abu saja, betapa kejamnya kalian.”


Menurut pemilik buku itu, Ratu Arandele sudah jelas memberi mantra pemusnah pada kedua orangtua Altezza. Tidak ada yang menyangka bukan Ratu yang sangat dielu-elukan Rakyat dan Kerajaan lain tidak lain adalah penyihir, entah perjanjian apa yang dibuat oleh Raja Arandele hingga menikahi seorang penyihir.


“Tidak, itu tidak mungkin, Baginda pasti salah. Ratu Arandele bukanlah seorang penyihir.”


“Iya betul mana ada sesuatu seperti itu. Itu mustahil.” Tegas Carlotta


“Tentu saja Ratuku menyangkal semua karena penyihir itu adalah orangtuamu Ratu Helena. Belakangan diketahui bahwa Ratu Arandele adalah penganut salah satu sihir hitam.” Telak Altezza, matanya setajam kilat menusuk dan berbahaya, dipenuhi benci dan dendam.


Luka yang tidak akan pernah Altezza hilangkan. Luka yang selalu membekas pada ingatannya, ia menyaksikan sendiri  bagaimana kedua orangtuanya tewas mengenaskan.


“Tidak, itu tidak benar. Baginda, semua itu salah paham, Yang Mulia Ratu Arandele tidak seperti itu.” Lagi-lagi Carlotta bicara seolah telinganya ada yang membisikan sesuatu.


“Akh” Pekik Carlotta.


Kepalanya berdengung kuat, beberapa potongan ingatan Helena berputar acak dalam benaknya. Ratu Magixion pun jatuh pingsan.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2