
BAB 9
Raja Altezza geram pada penolakan yang dilakukan calon ratunya, seandainya tidak terpaksa ia juga tidak sudi memperistri Putri Helena, lebih baik memilih wanita dari kerajaan sekutunya.
Mereka jauh lebih cantik dan penurut, juga kuat. Bukan Putri Helena, wanita lemah dan bodoh yang hanya bisa menyusahkan Kerajaan Arandele.
Pemilik kerajaan terkuat ini memasuki ruangan, pintunya terbuat dari tembaga serta ukiran emas yang melambangkan kekuasaan raja. Melepas jubah kerajaannya, pria bertubuh kokoh dan gagah ini memerintahkan ajudan serta pengawal pribadi meninggalkannya dalam ruang.
Ia mengambil beberapa buku tebal, salah satunya kisah hidup Raja dan Ratu terdahulu, sengaja ia tulis dalam sebuah buku agar selalu mengingat mereka, yang secara tidak langsung membuat Altezza mengukuhkan rasa kebenciannya terhadap Arandele.
Altezza tengah membaca beberapa buku dan tertidur di perpustakaan. Sekalipun orang mengenalnya sebagai sosok yang kuat dan tidak terkalahkan, namun dirinya hanyalah pria lemah dibalik kekuatannya.
Kepalanya bergerak gelisah, ia terbawa pada tragedi beberapa tahun silam.
**
Selesai berlatih pedang dirinya berendam air hangat untuk melancarkan peredaran darah dan menghilang rasa tidak nyaman pada tubuhnya. Tiba-tiba angin bertiup kencang, jendela terbuka lebar, pintu pun terbuka paksa dan kuat.
BRAK
Pengawal pribadi serta pelayan istana khusus raja ketakutan, ya benar mereka mundur satu langkah, tiba-tiba membeku, kaku tidak bisa bergerak sedikit pun, waktu terhenti saat itu juga. Ini bukan kali pertama, tapi kedua kalinya angin dan kabut gelap datang disaat bersamaan.
Wanita cantik berjalan tersenyum manis tapi bagi Altezza penampakan yang sangat menjijikan. Rupa yang menawan tidak berarti baginya karena hanya kebusukan yang dimiliki wanita itu.
“KELUAR KAU. JANGAN INJAK KAKI KOTOR MU ITU DI INSTANA-KU”, teriak Altezza menyebabkan telinga wanita cantik yang menggodanya berdengung.
“Ah, kau itu keterlaluan, aku pikir kau berubah pikiran. Lihatlah aku sangat cantik, dan memiliki kekuatan yang tidak bisa dikalahkan. Kita akan bersatu untuk menghancurkan Arandele.”
Entah bagaimana caranya, wanita ini sudah berada di sisi tubuh Altezza, tangannya lancang merayap dan menyentuh lengan, dada serta area sensitif pria.
“Menikahlah dengan ku Altezza, jadikan aku Ratu Magixion dan aku akan mengabdi padamu seumur hidup. Magixion akan semakin kuat tidak terkalahkan, dunia berada di bawah kaki kita, sayang.” bisiknya lagi lalu memeluk Altezza begitu erat.
Wanita tidak tahu diri yang menawarkan diri sebagai Ratu Magixion dan menukar kekuatannya.
__ADS_1
Altezza berdiri dan mendorong kasar wanita ini hingga membentur lantai.
“ENYAHLAH UNTUK SELAMANYA.” Altezza merebut pedang dari pengawalnya dan menghunuskan ke arah perut wanita yang sangat lancang ini.
Tapi......
Tidak ada darah atau apapun tanda dari terlukanya wanita itu. Sontak Altezza terkejut dan terpelanting membentur lantai
“Akh...... berani sekali dirimu, kau tidak tahu seberapa kuat aku. Hah?.” Membalik keadaan dan melukai wajah Altezza menggunakan pedang, beberapa luka sayat mengeluarkan darah sangat banyak.
Merapalkan mantra khusus yang ditujukan untuk Raja Magixion.
**
Seketika Altezza terbangun dari tidurnya.
“Huh huh huh.” Napasnya terengah-engah, peristiwa itu sangat nyata dan ia merasa sakit pada bagian wajahnya.
PRANG
Cermin itu pun pecah, berkeping-keping, sampai salah satunya menggores punggung tangan dan butiran kasarnya menancap di tangan serta lengan, darah segar menetes perlahan membasahi lantai. Altezza benci pada dirinya sendiri, sudah berapa ribu cermin yang ia hancurkan.
Dunia memang tidak adil menurutnya, setelah merenggut kedua orang tua lalu dirinya harus hidup di bawah bayang-bayang masa lalu.
“Aku bersumpah akan membalaskan dendam ayah dan ibu.” Desis Altezza, kilat api amarah keluar dari tatapan tajam matanya.
“Aku yakin ini bukanlah pilihan yang salah.” Gumamnya memandang serpihan pecahan cermin yang berserakan di lantai batu.
Di tengah gelapnya malam, Altezza memerintahkan Count kepercayaan untuk menyampaikan pesan pada Jenderal Pertahanan Kerajaan mengatur hukuman ringan bagi Kerajaan Arandele.
“Aku ingin esok hari terdengar jerit kesakitan dari rakyat Arandele, jangan beri ampun sebelum calon ratu memohon, aku ingin dia mengemis belas kasihan dariku.” Dadanya bergejolak, semua masalah menjadi satu.
Altezza ingin secepatnya serangan diberikan ketika fajar mulai naik esok hari.
__ADS_1
**
Sementara di lain pihak
Carlotta masih sibuk berpikir bagaimana caranya jiwa Helena kembali dalam waktu dekat ini.
“Tubuhnya sakit pun dia tidak peduli, menjenguk sekilas pun tidak, apa mau mu Helena? Sangat menyusahkan. Tau tidak hari ini kakak mu memarahiku, dan ayah mu itu adalah ayah terburuk yang pernah aku lihat. Maaf saja kalau aku tidak bisa menghormati mereka.” Bicara pada diri sendiri, sesekali menunjuk keras dadanya.
“Kalau danau tidak bisa mengembalikan jiwa kita, apa mungkin sebuah bahaya kecil bisa menukar jiwa kita.” Tawa senang Carlotta mendapat ide baru. Tiba-tiba ia terpikir apa yang Helena lakukan dengan tubuhnya di zaman modern, akankah bersikap memalukan dan menjadi lemah? Lalu hanya duduk diam sebagai Tuan Putri Maldini, benar-benar bukan gaya seorang Carlotta Maldini.
Setidaknya Carlotta harus berusaha, meskipun ia sedikit menerima tapi tidak ada salahnya mengembalikan sesuatu pada tempatnya
Ia duduk di tengah jendela, mengamati keindahan Kerajaan Arandele hingga pagi tiba.
“Tempat tinggal mu indah Helena, tidak ada pabrik, kendaraan bermotor dan polusi lain. Di duniaku kamu harus memiliki banyak uang dan bepergian ke pegunungan untuk menikmati keindahan alam. Mungkin ratusan seribu tahun lagi Arandele akan menjadi kota besar yang padat penduduk atau pusat bisnis.”
“Aku tidak memiliki petanya.” Tawa Carlotta berubah pudar bahkan menghilang.
“Oh **** apa itu?.” Ia terperangah.
Sontak kedua netranya terbelalak melihat banyaknya pasukan berkuda, serigala serta seekor naga terbang, tidak bukan naga melainkan mahkluk merah bersisik tebal dengan mata merah menyala, memancarkan api dari dalamnya dan seseorang yang menungganginya memakai topeng, sarung tangan besi memegang kendali.
“Mahkluk macam apa itu? Aku pertama kali melihatnya. Apa dinosaurus belum punah? Bagaimana bisa. Kemarin serigala besar sekarang naga, aku hidup di zaman apa kenapa semua sangat aneh dan menyebalkan”.
Carlotta bergegas keluar kamar tapi sayang pintu itu terkunci rapat. “Sial, kenapa di saat seperti ini harus terkunci, tidak ada waktu lagi. Prajurit pasti masih terlelap, hanya beberapa puluh yang terjaga, tidak akan kuat melawan pasukan itu.
“Apa ini ulah Kerajaan Magixion? Sampai seperti ini kah? dasar Raja yang sangat arogan.” Geramnya.
Carlotta menarik rambutnya ia berkeliling dalam kamar mencari ide lalu memejamkan mata sekejap, hingga ia memiliki ide turun dari ketinggian kastil, tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya walaupun melukai diri sendiri.
“Aku harus menyampaikan ini pada komandan dan panglima.”
...TBC...
__ADS_1