
BAB 8
Matahari semakin terang dan tinggi menghangatkan daratan, pepohonan yang menjulang tinggi menerima manfaat dari sinarnya. Suara gemuruh di bawah kastil samar-samar sampai pada gendang telinga Carlotta.
Ia menyingkap selimut, dan menurunkan kedua kaki, berjalan gontai mendekati jendela di sisi dinding yang langsung menghadap pada gerbang utama istana.
Carlotta berusaha membuka kedua matanya, menajamkan penglihatan pada sekelompok orang di luar istana. Netranya terbelalak saat seekor serigala besar berwarna abu-abu dengan seseorang di atasnya. Carlotta menggelengkan kepala, ia yakin pria itu bukanlah orang biasa.
Utusan Kerajaan Magixion masuk dalam pelataran istana dengan menunggangi kendaraannya.
“Gila, ini gila. Apa mereka sehebat itu? Aku belum pernah melihat orang menunggangi serigala, apalagi sebesar itu.” Takjub sekaligus takut menyelimuti hatinya sekarang.
Ia kembali merebahkan diri di atas ranjang, akibat semalam berendam di danau hingga tubuhnya kebas dan menggigil, lalu semalaman tidak tidur, semakin lengkap penderitaan Carlotta. Sekalipun ini raga Helena, tetapi dirinya lebih menderita. Rencananya pun berhasil menggagalkan pertemuan hari ini .
Beberapa pelayan khusus masuk ke dalam kamar, hendak membantu calon Ratu Magixion bersiap tapi mereka terkejut, mendapati Putri Helena menggigil, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal sampai menutupi kepala.
“Putri Helena, apa yang terjadi?.” Tanya seorang penanggung jawab.
Dibukanya selimut itu dan sontak semuanya saling menatap satu sama lain, wajah Putri Helena pucat, bibirnya juga pecah-pecah, hidung serta kedua mata indahnya mengeluarkan cairan.
“Apa? Kalian tidak lihat aku sakit? Katakan pada ayah, aku tidak bisa ikut menyambut tamunya. Sampaikan saja kondisiku yang sebenarnya.” Pungkas Helena.
“Ya Putri, tentu. Hamba permisi, Dokter Kerajaan segera tiba. Mohon Putri menunggu.” Tutur wanita paruh baya yang bertugas pada pendidikan etika putri.
Sementara dalam aula kerajaan, Raja Arandele dan Penasehat Agung Kerajaan Magixion bertatapan penuh waspada. Bagaimana tidak, dua kerjaan terkuat dan masing-masing memiliki sekutu cukup banyak kini akan bersatu karena ikatan pernikahan diantara Raja Altezza dan Putri Helena.
“Dengan seperti ini aku bisa mengetahui kelemahan Magixion dan menghancurkannya, sudah terlalu banyak rakyat tidak bersalah menjadi korban karena ulah mereka.” Pikir Raja Arandele, senyum di bibirnya hanyalah kamuflase belaka.
Sama halnya dengan Penasehat Agung Magixion, “Adanya pernikahan ini, akan menambah sekutu baru bagi Magixion, dan yang paling penting Raja Altezza bisa kembali seperti sediakala.” Pikir Penasehat Agung.
__ADS_1
Tapi sayang.......
Kepala Penanggung Jawab Putri memberikan kabar diluar dugaan pada Raja Arandele. Sontak penguasaan terkuat nomor dua ini mengepalkan kedua tangannya, rencana matang yang telah disusunnya tidak berjalan mulus.
Wajah Kerajaan Arandele tercoreng akibat Helena, Raja pun mengantar Penasehat Agung keluar kastil.
Raja Arandele murka mengetahui Helena demam tinggi, menurut informasi kondisi tubuh Putri Helena tidak memungkinkan untuk turut mendampingi Raja bertemu utusan Raja Magixion.
BRAK
Pintu kokoh kamar Helena terbuka lebar.
Raja Arandele dan Putri Hera masuk, memeriksa sendiri apa yang disampaikan oleh Penanggung Jawab Putri.
“Helena, kau tahu akibat dari ini apa? Kenapa tidak bisa menurut dan mematuhi peraturan. Kau tahu mungkin Raja Altezza akan mengirim pasukannya cepat atau lambat.” Teriak Raja Arandele tanpa mau mengerti saja atau peduli pada Putri Helena yang sedang sakit.
“Kau memang tidak tahu diri Helena, hidupmu hanya menyusahkan, setidaknya jadi orang harus tahu diri dan bermanfaat bagi orang lain, dasar anak pembawa sial.” Putri Hera mencaci maki adiknya dan hendak menyiksa Helena yang terbaring lemah di atas tepat tidur, marah karena rencananya gagal.
“KAU BUKANLAH MANUSIA, lihat baik-baik adikmu sedang sakit Hera, gunakan dengan bijak kedua matamu. Jangan pernah berani menyentuhku.” Tatap Helena dengan mata sayu.
Putri Hera tidak terima dirinya diancam, lalu memikirkan sesuatu yang akan menghancurkan Helena bersama Raja Magixion.
“Lihat saja kau akan hancur bersama Raja Altezza, aku tidak main-main Helena.” Bengis Putri Hera dalam hati.
**
Kerajaan Magixion
Penasehat Agung Raja Magixion pulang tanpa membawa apapun, tidak ada kesepakatan, tidak ada lukisan wajah Putri Helena yang terkenal cantik tapi tidak satupun dunia luar yang mengetahui rupanya.
__ADS_1
“Hamba mohon maaf Raja Altezza, semua terjadi diluar dugaan. Putri Helena sakit, demam tinggi, tidak memungkinkan keluar dari peraduannya.”
Di singgasana dengan pahatan naga berkepala tiga, berlapis emas. Raja Altezza duduk, kedua tangan kekarnya menyatukan jemari, kepalanya hanya mengangguk pelan tanda mengerti tanpa sepatah kata terucap dari bibir, di balik topeng.
Pada kedua sisinya berdiri jenderal perang terkuat kepercayaan Raja, penunggang hewan besar yang menjadi salah satu ciri khas Kerajaan Magixion.
Sikap tenangnya ini menegangkan, karena Raja Altezza sedang mengendalikan emosinya. Ia tersenyum sinis, dan menatap tajam pada sinar mentari yang telah redup.
Awalnya Altezza ingin meminang Putri Hera, namun karena terkenal akan kecerdikannya ia khawatir Hera akan menghancurkan Magixion diam-diam dari dalam, lantas memilih Helena perempuan lemah dan bodoh.
“Jadi kau sama sekali tidak melihat calon ratuku?.” Suara Altezza tenang damai namun menusuk.
Penasehat Agung yang selalu disisinya pun langsung menunduk semakin dalam, dan menjawab pertanyaan tuannya.
“Maaf Yang Mulia, hamba mohon ampun.” Suara Penasehat Agung gemetar.
“Rupanya calon ratu ingin sedikit bermain denganku, cukup cerdik. Baiklah, dia memulainya lebih dulu dan kita hanya akan mengikuti permainannya sedikit saja. Pion telah bergerak jadi jangan sampai kita diam saja.” Datar dan dingin Raja Altezza, lalu suara tawa kerasnya menggelegar di aula utama kerajaan.
“Hmmm, hadiah apa yang cocok untuk Kerajaan Arandele dan calon ratuku?.” Sorot mata Altezza sangat tajam, menatap lurus pada Penasehat Agung.
“H-hamba akan mengatur pertemuan kedua Yang Mulia.” Sahut Penasehat Agung yang gemetar ketakutan.
“Baik, atur pertemuan kedua dan siapkan mahar terbaik untuk membeli Putri Helena yang angkuh itu.” Sarkas Altezza. Memerintahkan penasehat mengatur rencana pertemuan kedua kali, ia tidak ingin rencananya gagal untuk menikahi salah satu Putri Kerajaan Arandele
Raja Altezza menoleh pada Jenderal terbaik di sisi kanan dan kirinya, hanya dengan bahasa isyarat dari kedua matanya, Jenderal perang tersebut mengerti keinginan Raja mereka.
Kali ini menggunakan cara ekstrem yang tidak akan disangka oleh Raja Arandele, kerajaan itu terlalu pongah hanya untuk menjadi sekutunya saja tidak mau dan lebih memilih mengibarkan bendera perang padanya.
Mungkin sedikit kekerasan akan memukul Arandele dan memaksa Helena bertekuk lutut di depannya menyerahkan diri.
__ADS_1
“Aku pastikan calon ratuku menyesal karena menolak pertemuan hari ini, pasti dia akan sukarela datang dan mencari calon suaminya.” Tawa licik Raja Altezza.
...TBC...