
BAB 6
“Aku masih memerlukan banyak latihan, tubuh ini terlalu kurus, benar-benar menyebalkan kau Helena.” Geram Carlotta. Ingin sekali ia menyakiti dirinya sendiri, maksudnya tubuh Helena tapi nanti yang merasa sakit siapa? Helena atau Carlotta? Tentu saja Carlotta.
tamparan keras hadiah dari Raja Arandele pun ia yang merasakan, bukan Helena. Sial bagi Carlotta, terjebak dalam tubuh gadis yang bertolak belakang dengannya. Sangat menyusahkan, seperti mengurus 10 bayi diwaktu bersamaan menangis dan mengganti popok.
“Komandan, aku kembali sekarang. khawatir Raja, ummmm..... maksudku ayah mengetahui keberadaanku.”
“Baik Tuan Putri, tolong rahasiakan keberadaan anda dan jangan membuat Raja marah, kami semua menyayangi Tuan Putri Helena.”
Usai latihan Carlotta kembali masuk melalui jalan rahasia, dirinya terkejut mendapati seorang pelayan dalam kamar.
“Membungkuk sekarang juga, ku bilang membungkuk!!!!.” Hardik Carlotta, terkejut sekaligus takut.
Ia bernapas lega, setelah pelayan itu memperlihatkan wajahnya, Carlotta kini harus selalu waspada karena lawan dan kawan tak ada beda secara kasat mata.
Tapi karena dia adalah pelayan setia Helena, tidak merasa aneh apapun. Sebelumnya Putri Helena pun kerap kali keluar kastil melalui jalan rahasia. Pelayan merasa putri yang dulu telah kembali. Ia tersenyum menundukkan kepala.
“Kenapa kau tertawa? Apa mengetahui sesuatu?.” Selidik Carlotta benar-benar waspada pada siapapun. Ia tidak mau mati mengenaskan di sini.
“Saya senang, Tuan Putri telah kembali, saya yakin Tuan Putri akan segera kembali mendapatkan ingatan masa lalu.” Tuturnya, sontak kening Carlotta mengkerut.
Carlotta memerintahkan pelayan bercerita mengapa bisa Helena terjatuh ke danau dan hampir dikubur oleh ayahnya. “Ceritakan bagaimana Putri Helena jatuh, lengkap dan jangan ada sesuatu yang kau tutupi atau tambahkan, paham?.” Tegas Carlotta, ia benar-benar merubah sifat Helena yang lembut dan penurut menjadi arogan dan pembangkang.
Pelayan mulai menceritakan awal mula kejadian, sebelum Putri Helena menenggelamkan diri ke danau.
**
Gedebug
“BANGUN, BANGUN, anak manja, kau terlahir tidak untuk bermalas-malasan.” Caci maki, siksaan fisik dan psikis tidak terhitung lagi jumlahnya.
__ADS_1
“Sa-sakit kak, ampuni aku. Maaf, aku tidak sengaja.” Lirih Putri Helena sembari menahan perih pada kening, bibir yang mengeluarkan darah dan kaki terkilir.
“Dengar Helena, kau pasti sengaja merusak gaunku. Kau tahu Helena, gaun ini sengaja ibu hadiahkan untuk ulang tahunku besok. Sekarang, kau hanya bisa mengatakan maaf? Hah mudah sekali, dasar anak pembawa sial.” Teriak Putri Hera.
Putri Hera sangat membenci adiknya, karena Helena yang menyebabkan Ratu Arandele meninggal dunia. Setelah itu Raja Arandele terpuruk, tidak memperhatikan kedua anaknya dengan baik. Padahal sebelumnya limpahan kasih sayang selalu Putri Hera terima, namun setelah adiknya lahir semua lenyap tak bersisa sedikitpun.
“Aku mohon ampun ka, tidak sengaja.” Tangis Helena tidak berarti apapun bagi sang kakak yang memang membenci adiknya.
“Berapa harga permohonan ampun mu itu, hah? Sekalipun mati tidak akan bisa mengganti gaun milikku. AKU MEMBENCIMU HELENA.” Tak memiliki belas kasih Putri Hera memukul pipi adiknya.
PLAK
“KARENA KAMU, KERAJAANKU BERNASIB SIAL. KEHADIRANMU TIDAK BERGUNA HELENA !!!!.” kata-kata kasar Putri Hera tidak secantik wajahnya.
“Kakak bilang sekalipun mati permohonan maafku tidak berharga. Apa setelah aku mati, kakak mulai menerima kehadiranku sebagai adikmu? Aku adikmu kak, aku Helena Arandel, aku menyayangimu kak, tidak pernah sekalipun aku membenci kakak. Maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan.” Tangis Putri Helena.
Tangannya terkepal kuat, dan langkah kakinya begitu cepat menuju suatu tempat. “Maafkan aku, ayah, ibu. Aku menyayangi kalian, aku harap ayah dapat menyayangi kakak setelah ini.”
Dan
BYUR
Putri Helena menenggelamkan diri ke danau, ia tidak kuat mendapat perilaku buruk dari ayah dan kakak kandungnya.
Putri Hera dan beberapa pelayan terkejut, adiknya itu nekat terjun ke danau yang airnya sedingin es, dan mungkin setelah beberapa detik akan langsung menghentikan aliran darah, hingga beberapa organ penting tidak menerima oksigen dari dalam darah.
Putri Hera memerintahkan pelayan memanggil prajurit untuk mencari adiknya di dalam danau.
**
Tes
__ADS_1
Carlotta bisa merasakan perasaan Helena, ia turut menangis mendengar penderitaan putri berwajah cantik bak Dewi Venus ini, tapi nasibnya sungguh tragis.
Padahal Carlotta wanita yang jarang atau bahkan mungkin tidak pernah menangis sampai meneteskan banyak air mata.
Dadanya terasa sesak dan sakit, napas Carlotta tercekat di tenggorokan. Entah mengapa dirinya merasa menjadi Helena yang diperlakukan sangat tidak adil dalam rumahnya sendiri.
Seharusnya Kerajaan Arandele adalah tempat ternyaman dan aman bagi Helena, apalagi ia seorang putri sudah pasti nyawanya dilindungi oleh jutaan pedang. Siapapun yang berani menyentuh Putri Raja, hukumannya tidak main-main meskipun hanya seujung kuku. Tapi Helena berbeda, ia putri yang tidak memiliki perlindungan dalam dan luar.
“Pantas saja tubuhnya kurus, apa kau terkena tekanan batin, hah? Seandainya bisa, ku bawa kau ke duniaku, disana ku yakin Papa akan menyayangimu Helena, tapi sekarang aku bisa apa?.” Batin Carlotta, lagi-lagi ia menangis.
Dunia terasa kejam bagi keduanya, bagaimana bisa mereka bernasib miris? Apa sudah tidak ada lagi kasih sayang di antara manusia satu dan lainnya?.
“Rupanya Putri Hera penyebab semua ini? Brengsek, karena dia Helena bunuh diri dan aku yang menjadi korbannya, terperangkap dalam dunia aneh bersama orang-orang gila. Putri Hera dan Raja Arandele. Hah memang benar bahkan keluargamu sendiri yang seharusnya memberi perlindungan adalah pihak yang paling bisa membunuhmu, secara perlahan namun pasti. Lihat saja kau Putri Hera, aku Carlotta Maldini akan membalaskan dendam Putri Helena padamu.” Bengis Carlotta dalam hati, kedua sorot matanya sangat tajam memburu.
Carlotta pun paham mengapa Helena tidak ingin kembali ke tubuhnya, untuk itu ia akan berusaha mencari cara agar Helena tidak pergi meninggalkannya dalam semua kebingungan zaman ini.
“Oke Helena, aku paham kau yang menginginkan semua ini tapi aku tidak, dan ku harap kau segera kembali, bagaimanapun ini bukan bukan kehidupanku. Aku juga memiliki dendam yang harus ku balaskan, Papa ku juga seorang diri disana.”
Carlotta berdiri di depan cermin, menunjuk pada tubuhnya yang tak lain adalah raga Putri Helena.
“Kau harus tahu Helena, sekarang kita terkurung di kamar mu, dan kau harus menikah dengan Raja Magixion untuk rencana licik ayahmu, hah bagaimana bisa kau memiliki ayah seperti Raja Arandele?.”
Carlotta berjalan berkeliling kamar, sesekali menatap jendela pada mentari senja yang sebentar lagi pamit menyinari bumi dan berganti bulan serta gugus rasi bintang.
“Apa yang harus ku lakukan?.” Menggigit kuku ibu jarinya dan berpikir keras.
“Sepertinya aku tahu. Maaf Helena tapi kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri, aku akan pergi ke danau, ya secepatnya.”
Bahkan Carlotta berniat menenggelamkan diri di danau agar roh Helena kembali.
...TBC...
__ADS_1