My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 23 - RATU YANG KUAT


__ADS_3

BAB 23


“Baginda?.” Tanya Jenderal Luca.


Raja Altezza terus menatap Ratunya yang tengah berseteru bersama Penasehat Agung, sesekali tertawa. Merasa penasaran pada Ratu yang tampak kuat dan tak kenal takut itu.


“Luca izinkan Ratuku untuk mengakses area pelatihan, biarkan dia keluar masuk sesuka hatinya.” Seringai licik di bibir tipis Altezza.


Mendengar itu semua, Jenderal Luca melebarkan mata, ia tidak percaya Raja bisa mengambil keputusan gegabah. Sekalipun Ratu adalah istrinya, wanita itu tetap orang asing dan musuh dari Magixion.


Dalam darahnya mengalir kentalnya hubungan antara Arandele dan Helena, hingga Jendela Luca yakin bahwa Ratu akan memberikan semua informasi mengenai kerajaan ini pada Arandele.


“Tapi Baginda, apa semua ini telah dipertimbangkan dengan matang?.”


“Jenderal tidak perlu cemas. Jika itu terjadi, jika Ratu terbukti berkhianat, maka tanganku sendiri yang akan membunuhnya.” Desis Altezza, lagi-lagi terbayang wajah mendiang Raja dan Ratu.


Raja Altezza tidak mudah melupakan dendam yang telah mendarah daging di dalam dirinya.


Sekarang ia hanya perlu melangkah lebih lanjut untuk memusnahkan Arandele melalui Helena, namun tidak semudah itu, Ratu yang dianggap bodoh hanyalah cangkang belaka aslinya sangat cerdik dan kuat.


Tawa kecil menghiasi redupnya cahaya, Altezza tetap mengamati Ratu yang bertikai di bawah sana dengan para pengawal.


Ya, Penasehat Orn tidak jera memaksa Ratu masuk ke dalam kastil, padahal tanpa diperintah Carlotta ingin masuk karena tubuhnya pegal dan ia membutuhkan istirahat sebelum mempelajari sesuatu.


“Kalian menjauh atau...” Carlotta menantang para ksatria itu, yang mulai menyerangnya perlahan tapi pasti.


Tidak memerlukan tenaga yang besar untuk meruntuhkan beberapa orang pria di depannya, tanpa senjata apapun hanya tangan kosong. Carlotta mampu melumpuhkan prajurit berpakaian besi itu, menendang mereka satu per satu tanpa berniat melukai, ya maksudnya luka berat.


Salah satu dari mereka bahkan Carlotta banting ke atas kerasnya tanah. Setidaknya memberikan prajurit ini istirahat selama dua minggu.

__ADS_1


“Bagaimana? Kalian masih mau lagi? Aku memang lelah tapi tidak apa tenagaku masih cukup kuat hanya untuk olahraga ringan.” Carlotta menggerakkan tangannya semakin memandang pasukan.


Ia tidak heran kenapa mereka berani menyentuhnya, tentu saja karena Ratu Helena adalah wanita yang dinikahi sebagai bentuk perjanjian antara Arandele dan Magixion. Alat penukaran kedamaian, itulah yang diketahui pihak luar, sedangkan bagi kedua Raja tentu saja alat untuk menjatuhkan dan balas dendam.


Mereka semua maju, bahkan Penasehat Orn memerintahkan beberapa dayang untuk membawa masuk Ratu. Tapi apa yang terjadi? Carlotta dengan santai menunjukkan pisau berlumur darah, ia tersenyum, mencemooh.


“Kalian tahu sebelum aku menginjakkan kaki di perbatasan apa yang terjadi? Aku membunuh sekelompok berandal, ah pisau ini jadi saksi. Ku peringatkan kalian, jangan sentuh sedikitpun tubuhku dan mengusik ketenanganku, mengerti?.”


Carlotta malas menghadapi kumpulan orang yang hanya mendengar perintah dari pimpinan mereka tanpa tahu alasan yang jelas.


Setibanya di kamar, para dayang membantu Ratu membersihkan diri, menggosok lembut bagian kulit yang berdebu, melepaskan segala kelelahan Ratu, memijat pelan punggung, tangan serta kaki. Carlotta menyadari ada seorang dayang yang gugup di dekatnya.


“Hei kau, masih betah bekerja? Kenapa kamu gugup? Aku tidak marah pada kalian selama kalian tidak mencari masalah denganku, karena aku bukanlah wanita yang gemar mencari keributan. Paham?.” Sentak Carlotta. Seketika itu juga pintu terbuka kuat, dan Raja tampak berjalan di didampingi beberapa dayang.


“Apa yang kau lakukan? Ck tidak sopan, bisa menunggu di luar?” Carlotta menunjuk pintu, mengusir suaminya itu.


“Tinggalkan kami.” perintah Raja pada seluruh dayang, dan tanpa diduga Raja turut berendam bersama Ratu.  Melepas semua benang yang menempel kecuali topeng yang melekat erat.


“HAHAHA”


Tawa Raja menggelegar, memenuhi ruang luas ini, melesat cepat mendekati Ratunya sampai jarak tersisa beberapa sentimeter.


GREP


Tangan besar dan kekar Raja Altezza menempel bahkan menekan leher Ratu, mencekik Ratunya. Ingin sekali rasanya menuntaskan malam ini juga, tapi bagaimanapun Raja masih memerlukan Ratu, ya sangat memerlukan.


“A-apa yang kau lakukan? Kau mau membunuh istrimu, hah?.” Carlotta melawan, meronta, memukul kuat tubuh Altezza yang kokoh seperti baja, tenaganya masih kalah. Tapi Carlotta tidak hilang akal ia menendang kuat perut Raja hingga tubuh pria itu membentur pada dinding tempat berendam.


KREK

__ADS_1


Dinding retak, saking kuatnya tendangan Carlotta.


Geram dan lelah juga luka menjadi satu. Membuat Altezza kalap, menyerang istrinya, melayangkan kepalan tangan namun Carlotta sigap menangkis sampai kedua tatapan itu saling beradu, penuh benci dan dendam.


“Kau”


Desis keduanya.


Tidak sampai disitu, Raja yang penasaran kembali melayangkan serangan. Ia yakin Ratu akan terkapar dan terluka, lagi-lagi Altezza dibuat tercengang karena Ratu mampu menghalau dan membalik keadaan, mengunci tubuh Raja.


“Tak ku sangka istriku sangat kuat dan luar biasa.” Sarkas Altezza.


“Apa yang kau inginkan Baginda? Membunuhku? Tidak. Kau tidak akan bisa. Seharusnya kau yang mati, menyerang Arandele dan membuat petani kesusahan, kau pecundang.” Umpat Carlotta masih terus mengunci tubuh kekar Altezza.


Carlotta melepaskan suaminya, mereka saling beradu pandang. Raja menantang Ratu untuk bertanding dengannya esok hari, berburu di hutan terlarang.


“Ratuku sangat kuat, kita berburu esok hari. Aku harap Ratu tidak kecewa pada hasilnya.” Altezza keluar dan memakai jubah mandi kerjaan. Langkahnya terhenti, sedikit menoleh pada Ratu dan tersenyum licik, merencanakan sesuatu.


“Kau pikir aku takut? Hah dasar pria seenaknya saja.” Sangar Carlotta yang juga mengeringkan tubuh, keluar dari ruang berendam. Para dayang hanya menunduk, takut melihat betapa kuatnya Ratu mereka, apalagi seorang dayang muda yang selalu gemetaran.


“Kalian keluarlah, aku ingin sendiri, tidak perlu repot membantu, aku bukan bayi yang memakai pakaian saja mendapat bantuan.” Usir Carlotta yang mendapat hari buruk.


Setelah semua sepi, dia duduk di atas lantai, menghadap pada bulan yang bersinar terang. Membuka buku milik Helena, kali ini tidak ditetesi darah. Melainkan dengan cara lain, ia mendapat mantra khusus yang Minerva sampaikan beberapa saat lalu dalam kepalanya.


WUSH


Buku terbuka pada beberapa halaman tertentu, angin masuk ke kamar Ratu serta cahaya putih yang bersinar terang.


Carlotta mulai membaca perlahan, mempelajari semuanya, untunglah dia sempat belajar beberapa aksara kuno saat di bangku Universitas. Hingga mudah memahami isi buku tebal ini, kedua mata Carlotta melebar, setiap kata yang ia baca memiliki arti tersendiri.

__ADS_1


Tiba-tiba dirinya melepas buku dan membuat rileks serta memusatkan pikiran pada satu titik. Kedua tangannya menari di udara, seakan membelai sesuatu tak kasat mata, kemudian merentangkan kedua tangan dan menempelkan telapak tangannya menjadi satu hingga cahaya putih menjalar keluar dari jemarinya.


...TBC...


__ADS_2