My Enemy Is My King

My Enemy Is My King
Bab 26 - Sebab Akibat


__ADS_3

BAB 26


“Yang Mulia Ratu tidak boleh keluar kamar, ini perintah Raja.” Hadang beberapa orang penjaga. Mereka menggunakan pakaian besi dan senjata yang sangat lengkap, seolah akan turun ke medan perang, padahal hanya menjaga kamar Ratu.


“Aku hanya bosan di kamar.” Jawab Carlotta asal, sungguh menyebalkan Altezza mengurungnya di kamar, dengan memberi penjagaan ketat.


“Tapi Yang Mulia, kami mohon ... kami tidak mau melukai Yang Mulia Ratu, mohon segera kembali ke dalam kamar.” Para penjaga itu menunduk, ancaman hukuman telah menantinya jika Ratu berhasil lolos dari kamar, dan nasib keluarga mereka jadi taruhan.


“Aku juga tidak mau menyakiti kalian. Aku masih memiliki hati dan perasaan, aku tahu kalian hanya menjalankan perintah. Untuk itu aku akan memberikan kalian semua istirahat.” Tawa Carlotta, ia tidak mau melukai para penjaga ini, hanya menimbulkan kebisingan saja dan membuat Altezza datang menghampirinya.


Carlotta, mengangkat tangan kanan yang menari di udara. Hati dan pikirannya fokus pada mantra khusus menghipnotis para prajurit ini untuk tidur.


BRUK


Tubuh mereka satu persatu jatuh terlelap damai. Carlotta menoleh, “Tidurlah sebelum Altezza marah pada kalian semua.”


Perempuan ini bergegas mencari dayang yang menjadi mata-mata. Langkah kaki Carlotta sangat pelan, tidak menimbulkan suara apapun dalam gelapnya malam. Berulang kali ia bersembunyi menghindari diri dari prajurit yang berpatroli.


“Heh sial kenapa banyak sekali mereka? Mana mungkin semuanya aku hipnotis. Dasar Raja kurang ajar menyusahkan saja, menghambat pergerakkan. Huh.” Gerutu Carlotta.


Dirinya menuju bagian luar kastil, dimana semua dayang istirahat. Belum sempat membuka pintu masuk, Carlotta lebih dulu melihat pada atap bangunan ya seorang wanita bergerak lincah naik dan menyusuri atap yang sangat tinggi.


“Apa dia tidak takut jatuh? Tidak salah lagi, itu pasti mata-mata, luar biasa kemampuannya, berani berhadapan denganku secara langsung.”


Carlotta yang mahir parkour, mengikuti langkah kaki wanita muda itu keluar dari Kota Magixion.


Sampai dayang menyadari bahwa seseorang mengikutinya dan terhenti, sigap menghunuskan pedang pada Ratu.


Dan ...


PRANG


Carlotta lebih dulu menendang pedang itu hingga beralih kekuasaannya, menggunakan kaki yang kuat sampai dengan mudah merebut pedang.


“Y-yang Mulia Ratu? Bagaimana bisa anda?” Dayang itu lancang berani melihat mata Ratu tapi masih memiliki setitik rasa takut.

__ADS_1


“Apa?” tanya Carlotta mengangkat dagu, menyentuh tubuh gadis di depannya ini dengan pedang.


“Kau mau kemana? Arandele kah? Apa ingin menemui Putri Hera? Ah rupanya aku menemukan satu lagi penghianat. Kalian ini benar-benar bosan hidup.” Tutur Carlotta, menggeser posisi pedangnya ke leher dayang.


“Y-yang M-mulia?”


“Katakan, katakan padaku ... apa yang diinginkan oleh Putri Hera? Kalau kau tidak jujur, aku tidak segan membunuhmu di sini.”


Alih-alih ingin bicara dan meminta maaf, dayang yang usianya masih belasan tahun malah melawan kemudian berlari sangat cepat. Ia tidak mudah di gertak oleh Carlotta.


“Heh, awas kau.” Carlotta berlari mengejar gadis itu, bahkan ia melayang di udara menggunakan teknik yang baru saja dipelajari. Dalam waktu kurang dari lima menit berhasil menangkap dan mengikat tangan serta kaki dayang.


“Kau tidak bisa kemana-mana, salah mu. Aku tidak pernah menggunakan kekerasan lebih dulu, tapi kalian sudah berani mengganggu kedamaian dalam hidupku.” Berang Carlotta.


Wanita ini layaknya manusia kehilangan kesadaran ia tertawa di tangkap oleh Carlotta. Di detik berikutnya berangsur ketakutan dan menunduk. “Saya hanya menjalani perintah Tuan Putri, tidak bermaksud apapun.”


“Berapa yang dia bayar?”


“Se-sepuluh keping emas, Ratu.” Jawabnya menunduk takut.


Carlotta melepaskan dayangnya dan melihat kepergian yang tertelan gelapnya malam. Kemudian ia kembali ke kastil, sebelum Altezza menemukan kamarnya kosong dan penjaga dalam keadaan tertidur.


“Menyusahkan saja pakaian tidur ini.” Carlotta melepas ikatan gaun, ia mengikatnya ketika melakukan parkour.


**


Carlotta masuk kastil, tampaknya suasana sangat berbeda dari sebelumnya, berubah menegangkan dari aura yang di rasakan. Kakinya pun menaiki tangga satu persatu, tidak ada seorang prajurit yang bertugas berkeliling dalam kastil.


Sampai di lorong panjang yang terang, tepat diujung sana kamarnya berada. Dia terkejut mendapati Raja tengah memegang cambuk panjang, penjaga yang semula tertidur kini bersujud di hadapan Altezza.


“Apa yang kau lakukan Baginda Raja?.” Teriak Carlotta berlari dan berdiri di depan para penjaga.


“Ratuku apa yang kau lakukan? Apa peraturan tidak jelas? Ratuku dilarang berkeliaran malam hari, sangat berbahaya di luar sana. Ratu bisa istirahat sekarang juga, aku ingin memberi pelajaran pada mereka yang lalai menjaga istri Raja.” Tutur Raja Altezza, lembut namun menusuk.


Tentu saja Carlotta menghalangi pria ini menghukum para pengawalnya, ia tidak terima mereka dihukum.

__ADS_1


“Kau jangan pernah menyentuh mereka, aku yang memaksanya untuk tidak menghalangi jalanku. Baginda Raja terlalu perhatian dan sayang padaku sampai mengunci dan mengirim banyaknya pengawal berjaga depan pintu. Aku ucapkan terima kasih banyak Baginda.” Sarkas Carlotta menunduk hormat.


Dirinya akan bertanggung jawab, dia juga tidak terima, pengawalnya mendapat hukum cambuk.


“HAHAHA” tawa Altezza menggema di lorong.


“Apa yang Ratuku inginkan? CEPAT KATAKAN!!!”


Bentak Altezza, semua yang mendengar akan merasa merinding tapi tidak pada Carlotta. Dia mulai terbiasa dengan hidupnya sebagai Helena.


“Aku ingin Baginda melepaskan mereka. Jangan melawan mereka yang tidak bersalah dan lemah.” tantang Carlotta menatap nyalang pada Raja.


“Kaum lemah? Mereka itu prajuritku dan tidak ada seorang pun yang lemah, tahu?” Raja Altezza yang murka menyingkirkan Ratu, mendorong keras sampai Carlotta hampir terjungkal.


Raja mulai mengangkat cambuknya hendak melepaskan pada para penjaga yang duduk bersimpuh menanti hukuman.


Seketika waktu terhenti, cambuk melayang di udara, semua orang hanya bernapas dan berdetak jantungnya.


Ya Carlotta menggunakan kemampuannya, kekuatan untuk mencegah berjalannya waktu. Perlahan ia mengambil cambuk dan melemparkannya keluar.


Raja Altezza menyadari apa yang terjadi, sontak terkejut. Matanya membola, bara permusuhan semakin kental terasa. Begitupun dengan Carlotta.


“Araaarrgh apa yang kau lakukan Ratu Helena?” Raja mencekik leher Ratu hingga melayang di udara. Hal ini sama seperti yang dilakukan Anastasia ketika mengunjunginya, tapi bagaimana mungkin Helena bisa melakukan sama persis.


“Kau, lancang Ratu Helena. Siapa sebenarnya dirimu? Katakan, siapa?.” Bentak Altezza, aumannya keras seolah ingin menerkam istrinya.


Carlotta yang kesulitan bernapas, menendang kuat pangkal paha Raja, hingga ambruk kesakitan dan melepaskan cekalan tangannya.


“Uhuk uhuk uhuk” Carlotta menghirup oksigen, ia kehabisan napas akibat ulah Raja.


Seketika ini juga Raja Altezza tahu Ratu Helena adalah penyihir, sama halnya seperti mendiang Ratu Arandele.


“KAU ... kau penyihir. Ku binasakan kamu Ratu Helena.” Altezza hendak menghunuskan pedang pada Ratunya.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2