
Warning! ! !
Typo bertebaran dimana2
Harap maklum guys.
Amatir aku-nya
Votement nya jan lupa gaessku sayang๐๐๐
*****
Aletha
Bandung 12.01 PM
Aku dan Dimas baru saja tiba di Bandung, sebenarnya bang Nial ingin ikut bersama kami namun tidak jadi karena client nya dari jerman tiba-tiba datang ke Bandung untuk membicarakan suatu pekerjaan dengan berat hati bang Nial memilih client nya dibanding kami. (auto lebay).
"Bagaimana menurut mu?"tanya Dimas disebelah ku
"Aku suka eh salah aku sangat suka"jawab ku puas pilihan Dimas memang tidak pernah mengecewakan lihat sekarang lokasi yang di pilih kan Dimas sangat strategis untuk pembangunan caffe A selanjutnya, belum lagi jika caffe A sudah berdiri tegak disini caffe A akan dihimpit oleh gedung SMA dan juga gedung perkuliahan jadi bisa dijamin caffe A akan laris manis di Bandung ini.
"Baguslah kalau kau suka, aku akan nenelpon orang yang akan mengerjakan proyek ini"ujar Dimas lalu menelpon seseorang yang akan menangani proyek ini.
Karena Dimas sibuk menelpon dan aku tidak tau harus berbuat apa, aku memutuskan untuk mendekati lokasi tempat pembangunan caffe A.
Cuaca kota Bandung sangat panas meski tidak sepanas Jakarta namun tetap saja aku merasakan panas, biasa nya aku biasa-biasa saja dengan sengatan matahari namun sekarang aku merasakan panas sekali, mungkin efek si baby yang tidak ingin mommy nya kepanasan. Entahlah aku tidak tahu jika benar sungguh anakku adalah anak yang sangat perhatian kelak.
Aku berteduh dibawah pohon yang berada didekat lokasi. Teduh, unik dan aku suka.
"Mulai senin proyek dimulai"kata Dimas menghampiri ku.
"Baiklah, semua pilihan, keputusan mu tidak pernah membuat ku kecewa"jawab ku tersenyum pada Dimas.
"pohon yang ini jangan dihilangkan bisa? Aku suka, pohon ini sangat unik"kata ku yang disetujui oleh Dimas.
__ADS_1
"Ayo kita cari makan, perut kecil mu itu pasti sudah kelaparan"ajak Dimas
Aku menyengir lalu mengangguk setuju perut ku memang benar-benar sudah lapar.
Saat kami sedang berjalan menuju mobil tiba-tiba saja kepala ku terasa pusing bahkan Dimas dalam penglihatan ku ada dua.
Aku sungguh tidak bisa menahan rasa pusing ku dan akhirnya semua nya menggelap dan aku tidak bisa mendengar apa-apa, hanya saja aku mendengar sayup-sayup dimasa meneriaki namaku.
___
Aku terbangun dari tidur atau pingsan entah lah aku tapi yang membuat ku terbangun adalah aku merasa mual ingin muntah.
Aku berlari menuju kamar mandi dan memuntah kan semua isi perut ku. Setelah sudah benar-benar tidak mual lagi aku keluar dari kamar mandi.
Aku terkejut ketika mendapati Dimas sedang berdiri didepan kamar mandi dengan wajah tanpa ekspresi. Dimas sedang kesal, aku tau itu.
Dimas berjalan lebih dulu sedangkan aku mengikuti nya dari belakang.
"Makan lah setelah itu minum vitamin mu"perintah Dimas dingin, aku hanya diam menuruti apa yang diperintahkan Dimas.
Makan tidak tenang ku pun selesai dan aku segera minum vitamin yang diberi kan oleh Dimas.
"Siapa ayah dari anakmu?"tanya Dimas dingin masih memandang kosong kearah jendela. Ya Tuhan, Dimas bertanya padaku tanpa melihat kearah ku sama sekali ini bertanda buruk, Dimas sekarang sedang menahan emosi yang akan meledak kapan saja.
"Akan aku jelaskan" ujar ku mulai terisak menyesal sudah karena aku tidak memberi tahu Dimas.
"Jelaskan lah"
"Aku sudah menikah sehari sebelum opa meninggal" ujar ku mulai menjelaskan dan Dimas sama sekali tidak menanggapi penjelasakan ku, bagus berarti Dimas masih ingin aku menjelaskan lebih lanjut.
"Awal nya aku menolak tapi opa berkata 'opa mohon menikah lah dengannya, ini permintaan terakhir opa' kau tau kan dim aku tidak pernah ingin opa kecewa, opa satu-satu nya keluarga yang sangat menyayangiku, opa yang ga pernah meninggalkan aku ya walaupun kenyataan nya opa sekarang sudah pergi"
"kau ingat waktu kita membahas tentang lahan untuk pembangunan caffe A yang baru, waktu itu aku ingin menceritkan nya pada mu tapi kau ada panggilan dari boss mu setelah itu kupikir-pikir aku kan memberi tau mu diwaktu yang tepat"
" aku tidak pernah menemukan waktu itu dan akhirnya kau tau dengan seperti ini"Jelas ku panjang lebar
__ADS_1
"Siapa pria itu? Apa dia mencintai mu seperti aku dan Nial?"
Aku diam sesaat memejam kan mata baru aku menjawab pertanyaan Dimas.
"Leo Pradipta, dan dia tidak mencintai ku seperti kalian"jawab ku sambil menahan air mata ku agar tidak jatuh lebih banyak lagi.
"*******! sudah ku duga kau tidak akan tiba-tiba datang kekantor baruku hanya untuk mengantarkan makan siang. Akan ku habisi pria itu sekarang juga"teriak Dimas menggebu-gebu seperti orang yang sedang kesurupan, aku bersumpah aku tidak pernah melihat sisi Dimas yang sepeti ini.
"Ku mohon jangan"ujar ku memeluk Dimas dari belakang. Aku tahu Dimas selalu tidak pernah main-main dengan perkataannya sekali ia berkata A maka harus A.
"walau bagaimana pun dia adalah ayah dari anak ku nanti" ujar ku terisak sambil berusaha membujuk dimas agar tidak bertindak lebih pada Leo.
"Cerai kan dia, dia bukan pria baik untuk mu"kata Dimas berbalik dan menghapus air mataku lalu memeluk ku. Aku menggelengkan kepala ku lemah, bercerai? Yang benar saja.jika kami bercerai bagaimana nasib anakku dan juga opa pasti kecewa denganku diatas sana.
"Kalau kami bercerai bagaimana dengan anakku?"
"Ada aku, ibu dan juga bang Nial lalu apa yang membuat mu cemas hm?"
"Tapi...."
"Sttt... Apa kau tau Leo sudah memiliki wanita?"tanya dimas dan kujawab dengan anggukan kepala.
Dimas melepskaan pelukannya lalu memgacak rambutnya frustasi.
"Aku janji jika setelah anak ku lahir Leo tidak mencintai ku maka aku akan menceraikannya"ujar ku yakin
Dimas diam sesaat dan kemudian memelukku erat, berkali-kali Dimas mencium pelipis ku.
"beri tahu ibu, ibu pasti senang anak perempuannya akan segera menjadi ibu"
Aku mengangguk dalam peluakan dimas
"Hanya sampai anak mu lahir, jika Leo tidak mencintai mu maka kau harus mengakhiri semua ini"
___
__ADS_1
Tbc...