My Possessive Best Friend

My Possessive Best Friend
Chapter 10


__ADS_3

"Hei...!!!"


" Astaga, Nana...?!"


"Hahaha... apa yang kau pikirkan? Sampai tidak sadar denganku yang sudah berdiri disini dari tadi."


Ucap Nara seketika setelah mengejutkan sahabatnya yang tengah melamun itu.


"Kenapa kau tidak memanggilku dengan benar? Bagaimana kalau tadi aku jatuh,apa kau tega melihatku jatuh kebawah sana...?"


" Bukankah kau masih berada disini? Kau tidak perlu khawatir, karena ada aku disini. Jika memang nanti kau terpeleset kebawah sana, maka aku yang akan lebih dulu menolong mu. Hehe"


"Dasar kau..."


Ucap Yura mencibir sahabatnya itu, dan tak lupa juga dengan pukulan jarinya di kepala Nara, dan reflek membuat gadis itu sedikit berteriak kesakitan.


"Kau dari mana saja? Bukankah aku sudah bilang untuk menungguku di kamar, dan kenapa baru datang sekarang...?"


"Maafkan aku, tadi aku bersama ibu dikamar bawah. Tapi yang terpenting, bukankah aku sudah berada disini? Benar bukan...?"


" Hem, baiklah... ayo kita masuk kedalam. Aku akan membersihkan lukamu dan mengganti perbannya."


Merekapun segera masuk kedalam kamar pintu balkon tetap terbuka.


"Mandi sana?! Aku akan menyiapkan obat-obatan dan perban barunya dulu."


Ucap Yura kembali dan membantu Nara untuk ke kamar mandi, sebelum ia benar-benar meninggalkan sahabatnya itu dan segera keluar dari sana untuk menyiapkan obat-obatan yang dikatakan nya tadi.


Tidak menunggu lama, Nara pun akhirnya keluar dari kamar mandi. Yura yang sudah menunggunya sedari tadi itupun segera membersihkan luka Nara dan setelah itu memasangkan perban yang baru kembali.


"Selesai...?! Sekarang ayo kita makan, aku sudah meminta ibu untuk membawa makanan kita keatas saat kau mandi tadi.


Ayo makan, setelah itu kau bisa istirahat."


"Tapi, bagaimana dengan belajar...?"


Ucap Nara kembali ragu dengan ucapan Yura.


"Miss tidak memberikan kita PR untuk hari ini. Dan untuk belajar, kan masih bisa besok?


Lagian, kesembuhan mu saat ini jauh lebih penting Nana...?! Sudah ah, ayo cepat makan, aku sudah lapar loh...?!"


Jelas Yura kembali. Akhirnya, Yura lah yang menjadi pemenang dalam perdebatan itu.


Mereka pun akhirnya makan bersama dengan tenang.


***

__ADS_1


"Hai, apa kakimu sudah baikan?"


" Ah ya, sudah mendingan. Maaf, apa kita...?"


"Aku Juan, siswa yang menabrak mu semalam, apa kau lupa...?"


Ucap Juan malu, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, melihat gadis yang disapanya tidak mengenalinya.


"Ah, Iya aku lupa, maafkan aku Juan.


Hem, kakiku sudah lebih baik, terimakasih..."


Jawab Nara gugup dan tersenyum kikuk mengingat memorinya yang buruk. Sama halnya dengan Juan, ia pun juga ikut menggaruk dagunya yang tidak gatal.


"Oh ya, nama kamu siapa?"


"Aku,"


" Apa yang kamu lakukan disini? Kau juga, bukankah kau siswa kemaren yang menabrak temanku? Apa yang kau lakukan disini...?!"


Ucap Yura yang langsung memotong ucapan Nara, dan Langsung mengalihkan pandangan nya pada pria yang ada disebelah Nara itu dengan tatapan yang kurang senang. Sekaligus dengan ucapan nya itu yang tidak sopan.


"Yura? Aku, aku..."


"Ayo cepat ikut aku, jangan terlalu akrab dengan orang yang tidak kau kenal Nana."


"Yura, pelan lah sedikit. Kakiku masih sakit."


Mohon Nara kesakitan akibat tarikan tangan Yura yang terlalu kuat dan ditambah lagi dengan jalannya yang terlalu cepat.


" Yura...?"


Panggilnya lagi, namun sahabatnya itu tetap tidak merespon. Hingga akhirnya, ia merasa kesal dan meneriaki Yura.


"Yura, lepaskan! Ada apa denganmu?


Kenapa kau seperti ini...?!"


Teriak Nara seketika menepis kasar genggaman Yura di tangannya, dan langsung memegang pergelangan tangannya yang sudah memerah akibat tarikan Yura. Tak lupa juga dengan lututnya yang terasa kebas akibat lajunya Ia berjalan.


"Kau yang kenapa Nana? Kenapa kau bicara pada orang yang tidak dikenal, dan juga ekspresi apa tadi itu...?!"


" Ekspresi apa maksudmu? Tidak kenal? Justru karena tidak kenal itulah kita saling mengenal Yura? Lagian juga, Juan tidak berniat buruk, dia hanya menanyakan keadaan ku saja, hanya itu...?!"


Ucap Nara pelan menjelaskan situasi tadi pada Yura, namun gadis itu hanya diam tanpa suara dan masih dengan wajah kesalnya.


"Baiklah, terserah padamu saja ingin berkenalan dengan siapapun."

__ADS_1


Ucap Yura datar, masih dengan menahan rasa kesalnya dan segera berlalu dari sana menuju kelas mereka.


"Yura...?!" sekali.


" Yura, dengarkan aku dulu...?!" Dua kali namun tetap tidak berbalik ataupun berhenti.


"Yura...! Kenapa kau seperti ini?! Tunggu aku...!"


Teriak Nara yang ketiga kalinya, dan mulai mengejar Yura yang sudah semakin jauh darinya itu. Namun tetap Yura sama sekali tidak merespon, dan semakin mempercepat langkahnya.


***


Jam belajar pun dimulai, semua murid sudah mulai mengerjakan soal pelatihan yang diberikan Miss mereka untuk persiapan ujian akhir semester nanti. Termasuk juga dengan Yura dan Nara yang berusaha keras mengerjakan pelatihan itu. Semua murid sangat berharap dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik dan naik ke kelas yang lebih tinggi dengan bangga.


Bel sekolah berbunyi, dan waktu belajar pun telah usai. Nara segera membereskan perlengkapan nya dan langsung menghampiri Yura. Namun, belum sempat Ia membalikan badannya, Yura pun sudah melangkah lebih dulu keluar kelas menuju mobil jemputan mereka. Meninggalkan Nara yang sudah terduduk lesu melihat kepergiannya sendiri di dalam kelas.


"Ada apa denganmu Yura? Kenapa kau bertingkah aneh seperti ini? Aku bahkan tidak tahu dengan salahku sendiri..."


Gumam Nara didalam hatinya, dan segera keluar menyusul Yura yang telah lebih dulu ke parkiran.


Sesampainya di atas mobil, Yura masih saja diam tanpa memperdulikan Nara yang sudah berada di sana. Tidak hanya itu, ia lebih memilih membuang pandangan nya keluar jendela dibandingkan melihat sahabatnya itu.


"Kita berangkat sekarang Non?"


"Iya Pak, kita langsung pulang aja, sebelum hari semakin sore...'


Ucap Nara meminta pada supirnya sebelum mobil benar-benar melaju dan meninggalkan sekolah itu.


"Yura, kau masih marah padaku?"


Lama Nara menunggu jawaban dari Yura, namun gadis itu tak kunjung bersuara. Hingga membuat Nara kembali memanggil namanya dan menyentuh bahunya pelan.


"Yura...?"


Panggilnya lagi, dan kali ini ia memberanikan diri untuk membalikan tubuh sahabatnya itu agar menghadap padanya.


" Hem, hoam..."


Nara seketika tertawa. Ia sempat berfikir jika sahabatnya itu tengah marah padanya, sehingga memalingkan Wajahnya seperti itu. Tapi, saat ia menyentuh dan membalikan tubuh Yura.


Gadis itu malah menguap dan mengelap sedikit air liur yang keluar dari mulutnya itu.


"Bisa-bisanya kau tertidur disaat seperti ini Yura? Coba lihat, air liur mu berserak kemana-mana. Hahaha..."


Kembali ia tertawa, sebelum ia meraih tisu dan membersihkan wajah sahabatnya itu yang tengah tertidur dengan pulas.


Tidak lupa, ia melepaskan sweater yang ada di tubuhnya untuk menyelimuti tubuh Yura.

__ADS_1


__ADS_2