
Hari-hari pun berlalu. Sudah seminggu sejak terakhir kali masalah antara Yura dan ibunya selesai oleh ayahnya saja. Sudah seminggu pula gadis itu menjalani kehidupan barunya dengan perhatian ekstra dari sang ayah.
Walaupun mereka tidak berada di tempat dan kota yang sama. Namun, sesuai dengan janjinya, Bram selalu mengabari Yura setiap harinya atau hanya sekedar mengirim pesan.
Tidak hanya itu, akhir-akhir ini Yura sudah semakin rajin, dan Nara pun tidak perlu lagi repot-repot untuk menceramahi nya dalam mengerjakan segala hal atau pun belajar.
Ditambah lagi, hanya menunggu beberapa hari ke depan, mereka akan melaksanakan ujian akhir kenaikan kelas.
"Yura, tunggu aku... awas kau ya...?!"
Teriak Nara kesal mengejar Yura yang sudah berlari jauh di depannya itu, karena telah memukul asal kepalanya.
Tiada hari tanpa berlari bagi mereka, dan tiada hari bagi Yura untuk tidak menjahili sahabat kesayangan nya itu.
"Kau sangat lamban Nana, berlari lah lebih kencang lagi...?!! Hahaha..."
Teriak Yura tertawa, mengejek dan melambaikan tangannya pada Nara yang terlihat semakin kesal dengan wajah cemberutnya. Namun, masih terlihat sangat imut bagi Yura.
" Yura, tunggu aku! Aawwhhh..."
Teriak Nara kesakitan, saat lututnya menyentuh lantai dari batu. Karena tidak sengaja menabrak seseorang yang sama tengah berlari juga dengan nya.
"Maafkan aku, kau tidak apa-apa...?"
Ucap suara seorang pria menanyakan keadaan Nara yang sudah tersungkur di depannya.
" Aduh, lutut ku..."
"Sini, biar aku bantu... maaf. Tadi aku tidak melihatmu yang juga tengah berlari, begitupun denganku yang tengah terburu-buru dan tidak fokus melihat jalan."
Ucap pria itu kembali mengulurkan tangan nya, dan langsung di sambut oleh Nara.
Karena jujur, saat ini gadis itu memang membutuhkan uluran tangan itu. Apa lagi dengan keadaan lututnya yang luka, dan juga rasa lelahnya karena mengejar Yura.
" Tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak melihat jalan. Terimakasih bantuan nya."
"Sama-sama. Oh ya, sepertinya lukamu cukup serius, bagaimana kalau aku bantu membawamu ke UKS?"
__ADS_1
Ucap pria itu kembali menawarkan diri setelah melihat luka Nara. Namun, tanpa sadar, tangan nya yang tengah memegang lutut Nara itupun langsung di tepis kasar oleh Yura yang datang secara tiba-tiba.
"Aku bisa membawa temanku sendiri...! Kau pergilah. Lain kali, kalau jalan matanya di gunain dengan bener dong, biar gak terjadi hal yang seperti ini."
Ucap Yura langsung dengan nada yang sangat ketus menyindir pria yang telah menabrak sahabatnya itu.
" Yura, kamu gak boleh bicara seperti itu? Justru dia yang udah bantuin aku."
"Wajar dong dia bantu kamu, toh juga semua gara-gara keteledoran dia. Coba aja kalau dia lihat jalan nya, pasti kamu gak bakal kayak gini Nana...?!"
Ucap Yura kembali, masih dengan nada ketusnya, tidak terima dengan kejadian yang menimpa Nara.
" Iya, teman kamu bener, aku yang salah.
Sekali lagi tolong maafkan aku. Kalau gitu, mari aku bantu ke UKS."
"Gak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri."
Ucap Yura menolak, dan langsung menuntun Nara untuk naik ke atas punggungnya. Setelahnya, ia segera pergi dari sana meninggalkan pria tadi yang masih menatap bingung sekaligus heran melihat mereka. Sedangkan Nara, yang saat ini berada di gendongan Yura itu pun mengalihkan pandangan nya kebelakang. Dengan memberi isyarat atas permintaan maafnya pada pria tersebut, isyaratnya itupun langsung di balas dengan lambaian tangan dan senyuman pria itu.
Yura menggenggam erat tangan sahabatnya yang tengah takut, sekaligus kesakitan saat Dokter sekolah membersihkan dan membalut lukanya yang cukup dalam itu. Yura tahu betul, jika sahabatnya itu sangatlah manja dan juga sangat lemah dengan hal-hal yang seperti ini.
Dan ekspresi yang di pancarkan nya saat ini, yang tengah melihat sahabatnya itupun. Adalah campuran dari rasa kasihan, khawatir beserta lucu melihat tingkah Nara yang terlihat seperti anak kecil baginya.
Setelah beberapa lama, lukanya pun selesai di bersihkan dan juga sudah di pasang perban agar tidak kemasukan debu. Yura yang melihat sahabatnya kini tengah istirahat itupun tersenyum.
"Apa yang kau senyum kan? Kau senang bukan, melihat keadaan ku yang seperti ini?
Kau memang jahat...!"
Ucap Nara cemberut dan membuang pandangan nya dari Yura. Sengaja ia bersikap seperti itu, untuk mengerjai sahabatnya itu.
" Bukan begitu Nana? Aku tidak bermaksud, ok baiklah... maafkan aku, hem? Aku janji, mulai sekarang gak bakalan menjahili kamu seperti tadi itu lagi, oke...?! "
"Aku tidak mempercayaimu..."
Ucap Nara kembali setelah mendengar permintaan maaf dari sahabatnya itu.
__ADS_1
" Tidak Nana, aku tidak berbohong? Aku benar-benar tidak akan melakukan nya lagi, maafkan aku ya? Please...?!!"
Mohon Yura kembali dengan sungguh- sungguh, dan mengitari ranjang UKS itu agar bisa berhadapan langsung dengan wajah Nara. Namun, dengan sengaja Nara kembali membuang pandangan nya kearah lain hingga mereka melakukan hal yang sama berulang kali.
"Baiklah, kau boleh menghukum ku dengan cara apa pun jika aku mengulanginya kembali. Bagaimana...?"
Ucap Yura kembali bersimpuh, dan memohon agar Nara memaafkan nya. Hal ini pun sontak membuat Nara tertawa senang dalam hatinya, karena saat ini dialah yang menjadi pemenang.
" Kau janji...?!"
"Janji..."
Ucap Yura dengan cepat dan tegas, dan sekali tingkah aneh Yura itupun langsung membuat Nara tertawa lucu tanpa berhenti, dan diikuti oleh Yura yang juga tertawa lucu menyadari tingkahnya itu.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka sedari tadi. Ia juga ikut tertawa melihat tingkah lucu mereka di dalam ruangan itu. Sebelum akhirnya ia pergi dari sana, menuju kelasnya dengan senyum-senyum sendiri di sepanjang koridor mengingat tingkah konyol dua orang gadis dalam ruang UKS tadi, dan salah satunya adalah gadis yang ditabrak nya tadi.
"Mereka benar-benar lucu, hahaha..."
Gumam nya di dalam hati sebelum ia benar- benar memasuki ruang kelasnya.
Dan di lain tempat, Yura pun masih setia duduk di samping Nara, menunggunya yang tengah tertidur dengan pulas.
Walaupun bel telah berbunyi kembali, menandakan jam istirahat selesai dan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Namun, Yura sama sekali tidak menghiraukan nya.
Karena saat ini, yang terpenting baginya adalah kondisi Nara.
Walaupun sahabatnya itu sudah di obati, namun tetap saja membuatnya khawatir dan tidak berani untuk meninggalkan nya sendirian di ruang UKS.
"Yura, kenapa kau masih disini? Bukankah jam pelajaran sudah dimulai...?"
"Kau sudah bangun?"
"Kenapa kau masih disini, bukankah waktu belajar sudah dimulai 40menit yang lalu?"
Ucap Nara kembali bertanya dengan wajah bingungnya setelah melirik jam tangannya.
Namun Yura, gadis yang di ajaknya bicara itupun hanya diam, bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun.
__ADS_1